Begitu menginjakkan kaki di Desa Takpala, rasanya seperti melompat ke masa lalu yang masih hidup sampai sekarang. Rumah panggung beratap ilalang, hamparan bukit hijau, dan warga dengan busana tradisional warna tanah bikin siapa pun langsung penasaran. Dan satu hal yang paling bikin traveler betah di sini adalah kesempatan buat ikut bergaya ala Suku Abui, lengkap dengan kain tenun, aksesoris, sampai ikut menari bareng warga.
Suasana Desa Takpala di Puncak Perbukitan Alor
Desa Takpala adalah kampung adat Suku Abui yang berdiri di atas perbukitan Desa Lembur Barat, Alor, Nusa Tenggara Timur. Letaknya agak menanjak, tapi begitu sampai di atas, pemandangan teluk dan perbukitan benar benar bikin napas seolah kejeda sebentar. Udara jauh lebih sejuk dibanding pesisir dan suasananya tenang, cuma suara angin, langkah kaki di tanah, dan sesekali denting gong kalau lagi ada pertunjukan.
Kampung ini sudah lama dikenal sebagai ikon wisata budaya Alor. Banyak wisatawan datang ke Alor bukan hanya untuk laut dan snorkeling, tapi juga untuk merasakan suasana adat di Takpala. Di sini, kehidupan tradisional Suku Abui masih dijaga, meski pelan pelan beradaptasi dengan kunjungan tamu dan pariwisata.
Rumah Panggung Fala Foka yang Jadi Latar Bergaya
Begitu naik sedikit dari jalan utama, kamu bakal ketemu deretan rumah panggung khas yang disebut Fala Foka. Bentuknya seperti limas, atapnya dari alang alang, dinding dan lantai dari anyaman bambu yang disangga tiang kayu kuat. Deretan rumah ini berjejer rapi menghadap ke lapangan tengah desa.
Di dalam satu rumah, fungsinya bertingkat. Lantai bawah jadi tempat terima tamu dan berkumpul keluarga, lantai berikutnya jadi ruang tidur dan dapur, dan bagian atas lagi untuk simpan bahan makanan seperti jagung dan ubi yang digantung atau diletakkan rapi. Jadi ketika kamu foto dengan latar rumah ini, sebenarnya kamu lagi berdiri di depan “satu paket” kehidupan orang Abui, dari ruang sosial sampai ruang penyimpanan pangan mereka.
Sekilas Tentang Suku Abui yang Dijuluki Orang Gunung
Sebelum ngomongin soal gaya, seru juga kalau kamu sedikit kenal siapa sebenarnya Suku Abui. Mereka adalah salah satu suku besar di Pulau Alor yang banyak tinggal di kawasan perbukitan. Letak kampung kampung Abui biasanya memang tidak di pesisir, tapi agak naik ke atas bukit, dekat ladang dan kebun mereka.
Bahasa yang dipakai juga unik, disebut bahasa Abui. Di samping itu, warga bisa bahasa Indonesia dan dialek Melayu Alor buat komunikasi sehari hari dan ngobrol dengan pendatang. Perpaduan bahasa tradisional dan bahasa nasional ini bikin percakapan di kampung berasa kaya dan dinamis.

Julukan Orang Gunung yang Punya Karakter Kuat
Nama “Abui” sering dikaitkan dengan arti gunung atau kawasan yang dikelilingi. Karena sejak lama mereka tinggal di daerah pegunungan, warga juga identik dengan sebutan orang gunung. Julukan ini bukan merendahkan, malah sebaliknya: menggambarkan karakter kuat, tangguh, dan terbiasa hidup dekat alam.
Karakter ini kelihatan dari cara mereka bersikap ke tamu. Di satu sisi ramah, suka senyum, dan terbuka. Di sisi lain, adat dan aturan kampung tetap dijaga ketat. Itu yang bikin momen bergaya ala Suku Abui di Takpala terasa beda, karena kamu bukan cuma pakai kostum, tapi benar benar masuk ke ruang sosial yang dipayungi adat dan kearifan lokal.
Kehidupan Sehari Hari di Kampung Adat
Walaupun sekarang Takpala jadi destinasi wisata, keseharian warganya masih sangat sederhana. Mereka bertani, memelihara ternak, dan merawat rumah adat. Sebagian ibu ibu menenun kain tradisional yang nantinya dijual ke tamu atau ke pasar lokal. Para lelaki terlibat dalam kegiatan adat, merawat kebun, atau jadi pemandu untuk wisatawan.
Di sela sela aktivitas itu, ada momen momen khusus waktu mereka siap menyambut tamu, lengkap dengan pakaian adat dan tarian tradisional. Di titik inilah biasanya wisatawan diajak ikut bergaya ala Suku Abui, bukan cuma jadi penonton tapi ikut ambil bagian dalam acara.
Busana Tradisional Abui yang Boleh Kamu Coba
Hal paling seru saat berkunjung ke Takpala adalah kesempatan memakai busana tradisional mereka. Bukan sekadar kostum untuk foto, tapi manifestasi identitas yang sudah diwariskan turun temurun.
“Kalau sudah pakai kain tenun, tas tenun di bahu, lalu berdiri di tengah lapangan desa, rasanya kayak diajak jadi bagian kecil dari cerita panjang Suku Abui, bukan cuma turis yang numpang lewat.”
Kain Tenun dan Cara Memakainya
Kain tenun Alor yang dipakai warga Abui biasanya bercorak geometris dengan warna warna tanah seperti cokelat, hitam, merah bata, dengan sedikit aksen warna terang di beberapa motif. Untuk perempuan, kain dipakai menutup bagian bawah tubuh seperti sarung, sementara bagian atas bisa pakai baju sederhana atau kain tambahan yang diselempangkan di bahu.
Laki laki juga memakai kain tenun, biasanya di bagian pinggang, dikombinasikan dengan torso yang kadang dibiarkan tanpa baju saat pertunjukan tari. Saat kamu bergaya ala Abui, pemandu lokal biasanya akan bantu memakaikan kain supaya rapi dan tidak mudah lepas saat kamu jalan atau ikut menari.
Cara memakainya pun ada tekniknya. Kain dililitkan mengelilingi pinggang, ujungnya dilipat dan diselipkan dengan kuat, kadang ditambah ikat pinggang kain supaya posisinya tidak bergeser. Dari luar terlihat simpel, tapi butuh kebiasaan supaya nyaman dipakai beraktivitas.
Selendang, Kain Tambahan, dan Tas Fuulak
Selain kain utama, ada juga selendang atau kain kecil yang diselempangkan di bahu. Perempuan Abui sering membawa tas tradisional yang disebut fuulak, sejenis tas tenun yang disandang di bahu dan jadi pelengkap wajib saat pertunjukan atau penyambutan tamu.
Ketika turis ingin foto, paket ini biasanya lengkap: perempuan diberi kain tenun, selendang, dan fuulak, sementara laki laki diberi kain, tas kecil selempang, dan kadang perlengkapan senjata hias. Tas tas ini bukan sekadar pelengkap visual, tapi punya fungsi nyata dalam keseharian, mulai dari membawa hasil kebun sampai barang kecil sehari hari.
Senjata dan Perlengkapan Laki Laki
Untuk laki laki, gaya ala Suku Abui biasanya makin komplet dengan busur, panah, tombak, atau parang yang digantung di pinggang. Beberapa properti ini digunakan dalam tarian perang tradisional, simbol keberanian dan kemampuan mempertahankan wilayah.
Saat kamu diajak bergaya, senjata ini dipinjamkan sebagai properti foto. Tetap diingat, semua itu punya nilai simbolik kuat, bukan sekadar aksesoris seru seruan. Pegang dengan hati hati, jangan dibuat bercanda berlebihan, apalagi dipakai untuk pose yang terkesan melecehkan atau agresif berlebihan.
Aksesoris Khas dari Kepala Sampai Kaki
Detail kecil justru bikin gaya ala Suku Abui makin terasa hidup. Dari rambut, leher, sampai pergelangan kaki, ada cerita di setiap aksesorisnya, dan semuanya membentuk satu kesatuan tampilan.

Rambut Terurai dan Hiasan Kepala
Dalam banyak pertunjukan, perempuan Abui tampil dengan rambut terurai, jarang diikat kencang. Kadang ada hiasan kepala sederhana dari kain atau daun. Hal ini bikin wajah mereka kelihatan lembut tapi tetap kuat, apalagi ketika mereka menari atau menyanyi dalam lingkaran.
Kalau kamu perempuan dan ingin bergaya seperti mereka, rambut biasanya akan dibiarkan natural. Pemandu mungkin akan menambahkan hiasan kepala sesuai perlengkapan yang tersedia di desa, tapi tetap mempertahankan kesan sederhana dan apa adanya.
Gelang Kaki dan Bunyi Ritmis Saat Menari
Salah satu aksesoris yang cukup ikonik adalah gelang kaki yang dipakai perempuan saat menari. Setiap langkah akan mengeluarkan bunyi kecil, sehingga gerakan kaki bukan cuma visual tapi juga bagian dari ritme tarian.
Dalam foto, gelang kaki ini memang terlihat kecil, tapi ketika kamu benar benar bergerak sambil memakainya, kamu akan sadar betapa pentingnya aksesoris ini untuk membentuk suasana. Bunyi kecilnya menyatu dengan suara gong dan nyanyian, menciptakan irama yang khas.
Tarian Lego Lego dan Cakalele yang Bikin Kamu Ikut Bergoyang
Sulit rasanya datang ke Takpala hanya untuk foto diam di depan rumah adat. Hampir selalu, tamu akan diajak ikut masuk lingkaran tarian lego lego atau menyaksikan tarian perang seperti Cakalele. Di momen ini, pakaian adat yang kamu pakai benar benar terasa menyatu dengan suasana kampung.
Lego Lego, Tarian Lingkaran Penuh Kebersamaan
Lego lego adalah tarian komunal khas Abui. Warga bergandengan tangan, membentuk lingkaran, lalu bergerak pelan tapi pasti mengelilingi batu mesbah di tengah lapangan. Musiknya dari gong dan moko, kadang disertai nyanyian bersahutan.
Kalau kamu ikut bergaya dengan pakaian Abui, petugas akan menempatkan kamu di dalam lingkaran. Jangan khawatir soal langkah, cukup lihat dan ikuti gerakan orang di kanan kiri. Tidak ada jurus rumit, yang penting ikut ritme dan jaga sambungan tangan dengan yang lain.
Tarian ini biasanya dilakukan dalam rangka menyambut tamu penting, perayaan tertentu, atau saat ada rombongan wisatawan. Rasanya hangat, kadang bikin merinding karena terasa sekali unsur kebersamaan dan doa syukurnya.
Cakalele, Tarian Perang Penyambut Tamu
Selain lego lego, ada tarian perang yang sering ditampilkan saat penyambutan. Dua pria dewasa bersenjata busur, panah, dan pedang akan saling mendekat dan menjauh, seolah berada dalam duel. Tarian ini menggambarkan semangat perjuangan dan ketangguhan mereka melindungi kampung.
Kamu mungkin tidak ikut langsung dalam tarian perang ini, tapi berdiri di sekitar lapangan dengan kain tenun di tubuh sudah cukup bikin kamu merasa terseret dalam atmosfernya. Suara hentakan kaki penari, teriakan ritmis, dan denting gong bikin suasana jadi sangat intens.
Cara Bergaya Ala Suku Abui Saat Berkunjung
Sekarang kita masuk ke bagian paling praktis. Kalau kamu benar benar mau bergaya ala Suku Abui di Desa Takpala, caranya sebenarnya cukup sederhana. Begitu sampai di desa dan bertemu perwakilan warga atau pemandu, kamu bisa bilang ingin foto dengan pakaian adat. Warga sudah sangat terbiasa dengan permintaan ini.
Biasanya, mereka akan mengajakmu ke salah satu rumah atau area di mana kain kain tenun dan aksesoris disimpan. Dari situ, kamu boleh memilih atau dipilihkan set busana yang kira kira cocok dengan tinggi badan dan bentuk tubuhmu.
Sewa Busana Tradisional Langsung dari Warga
Pakaian dan aksesoris bukan properti hotel atau agen tur, tetapi milik pribadi warga. Karena itu, kalau kamu mau memakainya untuk sesi foto, akan ada bayaran yang sifatnya lebih ke sewa dan bentuk apresiasi.
Prosesnya kira kira seperti ini:
- Warga mengeluarkan beberapa set busana dan aksesoris
- Kamu dipilihkan kain dan perlengkapan yang cocok
- Mereka bantu memakaikan satu per satu dengan telaten
- Kamu bebas foto di area kampung, biasanya ditemani pemandu
- Setelah selesai, semua perlengkapan dikembalikan dan kamu membayar sesuai kesepakatan
Selain sewa kostum, kamu juga bisa membeli kain tenun atau tas fuulak sebagai oleh oleh. Ini salah satu cara langsung buat mendukung ekonomi kampung.
Pilih Gaya Sesuai Kenyamanan
Kalau kamu kurang nyaman memegang senjata seperti parang atau busur, itu bukan masalah. Bilang saja ke pemandu, nanti kamu akan difokuskan pada kain tenun, tas, dan aksesoris kepala saja. Penampilanmu tetap sangat “Abui” tanpa harus memegang senjata.
Untuk perempuan, kombinasi kain tenun, selendang, tas fuulak, dan gelang kaki sudah sangat khas. Untuk laki laki, kain tenun di pinggang, tas selempang tradisional, dan mungkin satu pedang di pinggang (kalau kamu oke) sudah cukup buat bikin foto tampak kuat tapi tetap sopan.
Etika Menghormati Adat Saat Memakai Pakaian Abui
Bergaya ala Suku Abui itu seru, tapi ada etikanya. Ingat, kamu sedang menyentuh sesuatu yang buat mereka bukan hanya fashion, tetapi identitas dan warisan leluhur.

Minta Izin dan Dengarkan Arahan
Sebelum pakai pakaian adat, pastikan kamu benar benar sudah minta izin. Jangan asal pegang kain atau senjata, apalagi memakainya tanpa pendampingan. Warga biasanya akan menunjukkan mana pakaian yang boleh dipakai wisatawan dan mana yang lebih sakral dan hanya dipakai pada upacara tertentu.
Kalau ingin menonton atau ikut tarian, biasanya ada urutan acara kecil yang mereka lakukan terlebih dulu, misalnya doa singkat atau persiapan alat musik. Cukup ikuti arahan dan jangan memotret terlalu dekat saat mereka lagi khusyuk kecuali sudah dipersilakan.
Jaga Sikap Saat Foto dan Menari
Walaupun suasananya santai, ada beberapa hal yang sebaiknya dihindari:
- Jangan bercanda berlebihan dengan senjata seperti mengayun ayunkannya ke teman
- Jangan duduk sembarangan di area yang dianggap sakral, misalnya batu mesbah di tengah kampung
- Hindari pose pose yang melecehkan, seperti berpura pura bertarung ekstrem untuk konten lucu lucuan
Intinya, tetap rileks tapi tetap sopan. Kamu bisa dapat foto seru tanpa harus melanggar batas kenyamanan tuan rumah.
“Kalau kita datang ke kampung adat, yang paling penting itu bukan seberapa keren foto yang kita bawa pulang, tapi seberapa besar rasa hormat yang kita tinggalkan di sana.”
Spot Foto dan Momen Seru di Desa Takpala
Kalau sudah pakai busana tradisional, tentu kamu ingin mengabadikan momen dari berbagai sudut. Untungnya, Takpala sangat fotogenik.
Di Depan Rumah Adat dan Batu Mesbah
Spot paling wajib tentu di depan rumah adat Fala Foka. Kamu bisa berdiri di tangga depan, di samping tiang kayu, atau sedikit menjauh supaya bentuk rumah terlihat utuh. Dari angle agak rendah, rumah akan tampak menjulang dengan kain tenunmu sebagai fokus di tengah.
Di tengah kampung ada area batu mesbah yang disusun melingkar. Saat tidak ada ritual, kamu bisa foto di sekitar area ini dengan tetap menjaga sikap. View rumah rumah yang mengelilingi batu membuat komposisi foto jadi dramatis tanpa perlu banyak edit.
Panorama Teluk dan Perbukitan dari Atas Kampung
Karena kampung berada di perbukitan, ada titik titik tertentu di mana kamu bisa melihat teluk dan perbukitan di kejauhan. Kalau kamu berdiri dengan kain tenun berkibar tertiup angin, lalu di belakangmu tampak laut biru dan pulau kecil, fotonya akan kelihatan seperti poster pariwisata.
Kalau datang menjelang sore, cahaya matahari yang miring bakal bikin tekstur atap ilalang, tiang kayu, dan kain tenun terlihat hangat. Golden hour di Takpala sambil memakai busana Abui itu kombinasi yang susah dikalahkan.
Tips Berkunjung ke Desa Takpala
Supaya pengalaman bergaya ala Suku Abui di Takpala makin maksimal, ada beberapa hal teknis yang enak kalau kamu persiapkan dari awal.
Waktu Terbaik dan Cuaca
Secara umum, waktu terbaik ke Alor adalah di musim kemarau, sekitar pertengahan tahun saat hujan sudah berkurang. Cuaca cenderung cerah, jalanan kering, dan pemandangan laut serta bukit lebih jelas. Di luar musim itu juga tetap bisa, hanya saja kamu mungkin akan menghadapi hujan mendadak atau jalanan licin.
Kalau kamu tipe yang suka foto dengan langit biru dan awan bersih, pilih periode saat curah hujan rendah. Tapi kalau kamu justru suka suasana berkabut dan dramatis, awal atau akhir musim hujan bisa memberikan karakter foto yang berbeda.
Rute dari Bandara ke Desa Takpala
Dari Bandara Mali di Alor, perjalanan biasanya dilanjutkan ke Kota Kalabahi sekitar dua puluh menit berkendara. Dari Kalabahi, kamu lanjut lagi ke Desa Lembur Barat sekitar lima belas sampai dua puluh menit. Jalan menuju kampung sudah beraspal, walaupun tetap berkelok mengikuti kontur bukit.
Kalau kamu datang tanpa rombongan tour, opsi paling enak biasanya sewa mobil atau motor. Dengan begitu, kamu bisa atur waktu sepuasnya di kampung, tidak dikejar jadwal angkutan umum yang terbatas.
Hal Kecil yang Bikin Kunjungan Makin Berkesan
Beberapa hal kecil yang sering terlupa tapi justru bikin pengalaman kamu di Takpala jauh lebih berkesan:
- Bawa uang tunai pecahan kecil untuk sewa kostum dan membeli kain atau tas tenun
- Siapkan memori kamera atau ponsel yang cukup, karena hampir pasti kamu akan banyak sekali memotret
- Pelajari beberapa kata sapaan sederhana atau sekadar biasakan tersenyum dan menyapa, itu sudah sangat berarti
Sering kali, momen terbaik bukan saat kamu berpose depan kamera, tapi saat duduk di serambi rumah adat, ngobrol pelan dengan ibu ibu penenun atau tetua kampung yang bercerita soal masa kecil mereka, kebun, dan ritual adat.
Pada akhirnya, bergaya ala Suku Abui di Desa Takpala bukan hanya soal outfit tradisional yang unik, tapi tentang bagaimana kamu mengijinkan dirimu sebentar saja “hidup” dalam ritme mereka yang pelan, hangat, dan penuh rasa hormat pada leluhur dan alam di sekeliling.