Pagi di kaki Gunung Muria terasa beda ketika rombongan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif datang ke Taman Ria Colo. Bukan sekadar kunjungan seremoni, mereka datang membawa satu misi sederhana tapi penting, yaitu membuat destinasi wisata makin bersih, makin nyaman, dan bikin wisatawan merasa aman saat kembali jalan jalan di era kebiasaan baru. Gerakan bersih indah sehat aman yang dikenal dengan nama Gerakan BISA resmi digelar di kawasan wisata favorit warga Kudus ini pada Kamis dua puluh Agustus dua ribu dua puluh.
Taman Ria Colo Jadi Panggung Utama Gerakan BISA di Kudus
Di antara deretan destinasi wisata yang ada di Kabupaten Kudus, Taman Ria Colo dipilih sebagai lokasi pencanangan Gerakan BISA untuk wilayah ini. Lokasinya yang berada di Desa Colo, Kecamatan Dawe, tepat di kawasan pegunungan Muria, membuat suasana sejuk terasa begitu kental. Dari sini, pemerintah pusat dan daerah ingin mengirim pesan bahwa kebangkitan pariwisata dimulai dari tempat tempat yang dekat dengan masyarakat, bukan hanya dari destinasi besar yang sudah terkenal sejak lama.
Taman Ria sendiri sudah lama jadi tempat favorit warga untuk sekadar mengadem, piknik santai, sampai kegiatan kemah rame rame. Luas lahannya sekitar dua ribu meter persegi dengan lapangan yang cukup lapang, pepohonan rindang, dan fasilitas sederhana yang cukup memadai untuk aktivitas luar ruang. Kapasitas area kemah disebut bisa menampung sekitar seratus orang, dengan dukungan sembilan toilet yang tersebar di beberapa sudut, sehingga nyaman untuk rombongan keluarga maupun kelompok pelajar.
Desa Colo dan Potensi Wisata Muria
Desa Colo sendiri sudah lama dikenal sebagai salah satu pintu gerbang wisata alam Muria. Di sekeliling desa, ada deretan kebun, jalur trekking menuju kawasan pegunungan, hingga potensi wisata agro dan kuliner yang terus tumbuh. Pemerintah daerah menilai, kalau semua ini dikembangkan dengan lebih serius, Desa Colo bisa jadi primadona wisata alam di Kudus, bukan hanya tempat singgah sebelum ziarah atau sekadar mampir.
Selama ini warga juga sudah bergerak sendiri. Mereka mengembangkan aneka produk berbasis potensi lokal, mulai dari kopi robusta dan arabika khas lereng Muria, sampai kebun jeruk pamelo yang bisa jadi ikon baru wisata agro. Tantangannya, kreativitas warga belum semua dapat dukungan maksimal, terutama dari sisi pendampingan, promosi, dan pembiayaan.
Kehadiran Kemenparekraf dan Tokoh Pusat di Taman Ria
Kunjungan ke Taman Ria Colo siang itu bukan kunjungan biasa. Hadir Pelaksana harian Direktur Kelembagaan Deputi Bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf Hendri Noviandri, Pelaksana tugas Bupati Kudus Hartopo, serta anggota Komisi X DPR RI Kiai Rojih Ubab Maimoen. Mereka bukan hanya datang untuk pidato, tetapi juga ikut turun langsung dalam aksi bersih bersih di kawasan taman.
Di hadapan para pelaku wisata lokal, aparat desa, dan komunitas warga, perwakilan Kemenparekraf menegaskan bahwa di era kebiasaan baru, rasa aman dan nyaman di destinasi wisata menjadi kunci. Wisatawan yang datang butuh jaminan bahwa tempat yang mereka kunjungi bersih dan taat protokol kesehatan. Gerakan BISA hadir untuk memastikan tiap destinasi punya standar minimal terkait kebersihan dan keamanan.
Simbol Kepedulian Negara pada Destinasi Kecil
Tidak sedikit pengelola objek wisata daerah yang merasa tertinggal karena program pemerintah sering dianggap hanya menyentuh destinasi besar di kota kota utama. Dengan memilih Taman Ria Colo sebagai lokasi pencanangan gerakan ini, pemerintah ingin menunjukkan bahwa dukungan pusat juga menyasar taman taman wisata rakyat yang dikelola daerah.
Bagi masyarakat lokal, kehadiran pejabat pusat dan wakil rakyat di taman kecil di lereng Muria ini terasa sebagai pengakuan. Bahwa tempat yang selama ini jadi ruang bermain anak, lokasi kemah sekolah, dan spot piknik keluarga ternyata punya posisi penting dalam peta pariwisata, bukan sekadar taman pinggiran.

Apa Itu Gerakan BISA dan Apa Bedanya dengan Program Lain
Gerakan BISA adalah singkatan dari bersih, indah, sehat, aman. Empat kata ini dipilih bukan tanpa alasan. Program ini digulirkan Kemenparekraf sebagai respon langsung terhadap kondisi pariwisata yang terpukul pandemi. Saat destinasi mulai dibuka lagi, pemerintah butuh standar yang mudah dipahami oleh pengelola maupun pengunjung.
Gerakan ini fokus pada langkah langkah praktis yang bisa langsung terlihat di lapangan, misalnya penyediaan fasilitas cuci tangan, penataan area supaya rapi, serta penyemprotan disinfektan di titik titik yang sering disentuh wisatawan. Selain aspek fisik, gerakan ini juga menekankan edukasi ke pengunjung soal perilaku sehat, seperti kebiasaan mencuci tangan, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan ketika lokasi sedang ramai.
Bukan Sekadar Slogan di Spanduk
Di banyak tempat, program kebersihan kadang berhenti di level slogan. Ada spanduk, ada tulisan ajakan, tapi perilaku di lapangan tidak banyak berubah. Di Gerakan BISA, Kemenparekraf menambahkan dukungan nyata dalam bentuk peralatan dan pendampingan.
Paket bantuan yang dibawa ke Taman Ria Colo antara lain wastafel portabel untuk cuci tangan, cairan pembersih tangan, alat semprot dan cairan disinfektan, hingga perlengkapan kebersihan lain. Harapannya, peralatan ini bukan hanya digunakan di hari pencanangan, tetapi benar benar dirawat dan dipakai rutin oleh pengelola taman.
Rangkaian Acara di Taman Ria Colo
Sejak pagi, halaman Taman Ria Colo sudah ramai oleh para pelaku wisata, pengelola destinasi sekitar Muria, perangkat desa, hingga komunitas pecinta alam yang biasa menggunakan taman ini sebagai titik kumpul. Spanduk bertuliskan Gerakan BISA terpasang di dekat gerbang utama yang menjadi ikon taman, lengkap dengan gapura bergaya tradisional yang sudah akrab bagi warga Kudus.
Acara dimulai dengan sambutan dari perwakilan Kemenparekraf yang menjelaskan tujuan program dan mengajak semua pihak kompak menjaga kebersihan. Setelah itu, giliran Plt Bupati Kudus menyampaikan harapan agar wisata di Kudus kembali menggeliat, terutama di kawasan Colo dan sekitarnya yang punya potensi alam besar.
Aksi Bersih Bersih Bersama di Area Taman
Bagian paling terasa dari pencanangan ini adalah ketika para peserta diajak langsung melakukan aksi bersih bersih di area taman. Sampah daun kering, plastik bekas jajanan, sampai sisa sampah pengunjung sebelumnya dikumpulkan dan dipilah.
Plt Bupati dan perwakilan Kemenparekraf ikut menyapu, mengangkat karung sampah, dan mengecek titik titik yang perlu perbaikan. Pengelola taman terlihat bersemangat karena untuk pertama kalinya, kegiatan bersih bersih yang biasa mereka lakukan sehari hari mendapat dukungan besar dan sorotan media.
Gerakan ini memberikan contoh bahwa kerja nyata sering kali lebih kuat dampaknya dibanding sekadar rapat atau workshop. Wisatawan yang datang setelah kegiatan tersebut diharapkan langsung bisa merasakan perbedaannya, dari jalur jalan yang lebih rapi, area duduk yang lebih bersih, sampai toilet yang lebih terawat.

Harapan untuk Kebangkitan Wisata di Era Kebiasaan Baru
Pariwisata termasuk sektor yang paling terasa terpukul ketika pandemi melanda. Destinasi ditutup, pengelola kehilangan pemasukan, pedagang kecil di sekitar objek wisata ikut sepi. Di Kudus, kondisi itu juga dirasakan para pelaku wisata di sekitar Muria. Karena itu, Gerakan BISA hadir sebagai salah satu upaya memulihkan kepercayaan wisatawan bahwa destinasi sudah siap menerima kunjungan lagi.
Hendri Noviandri menegaskan, tanpa rasa aman, sulit berharap wisatawan datang kembali. Standar kesehatan di destinasi bukan hanya bicara aturan tertulis, tetapi juga bagaimana pengelola disiplin menjaga. Di hari pencanangan, para pelaku wisata diberi penjelasan soal pentingnya menyediakan sarana cuci tangan, memastikan pengunjung yang sakit tidak memaksakan diri, dan mengatur arus pengunjung agar tidak menumpuk di satu titik.
Wisata Aman Jadi Modal Utama Promosi
Bagi daerah seperti Kudus yang bersaing dengan banyak destinasi lain di Jawa Tengah, citra sebagai daerah wisata yang aman dan sehat bisa jadi nilai jual tambahan. Di tengah persaingan menarik wisatawan domestik, destinasi yang punya reputasi peduli kebersihan dan kesehatan akan lebih dilirik keluarga yang ingin liburan tanpa cemas.
Gerakan BISA di Taman Ria Colo diharapkan menjadi cerita positif yang bisa disebarkan para pelaku wisata ketika mempromosikan kawasan Muria. Bukan cuma foto pemandangan dan udara sejuk, tetapi juga cerita tentang bagaimana taman dikelola lebih rapi, toilet terjaga, dan fasilitas umum diperhatikan.
Potensi Wisata Desa Colo yang Ikut Terangkat
Momentum Gerakan BISA di Taman Ria Colo tidak bisa dipisahkan dari potensi desa secara keseluruhan. Pemerintah daerah menilai, bila potensi wisata alam dan agro di Desa Colo dikelola maksimal, desa ini bisa naik kelas menjadi destinasi unggulan. Sebut saja potensi jalur wisata alam, kebun kopi, jeruk pamelo, sampai pengembangan kuliner khas lereng Muria.
Hartopo dalam sambutannya menyampaikan bahwa APBD Kudus punya keterbatasan untuk menggarap semua potensi itu sendirian. Karena itu, ia berharap dukungan dari Kemenparekraf dan aspirasi dari DPR agar anggaran pusat bisa ikut turun. Harapan ini bukan sekadar soal bangunan fisik, tetapi juga soal program pendampingan, promosi digital, dan pelatihan masyarakat.
Kopi Muria dan Jeruk Pamelo sebagai Ikon Baru
Selama ini, banyak wisatawan mengenal Kudus lewat citra kota kretek dan wisata religi. Namun lewat pengembangan Desa Colo, wajah Kudus bisa diperluas menjadi destinasi wisata alam dan agro yang segar. Salah satu gagasan yang mencuat adalah menjadikan kopi Muria dan jeruk pamelo sebagai ikon oleh oleh baru dari kawasan ini.
Bayangkan wisatawan yang datang ke Taman Ria Colo tidak hanya duduk menikmati udara sejuk, tetapi juga bisa mampir ke kedai kopi lokal yang menyajikan seduhan kopi Muria, ditemani irisan jeruk pamelo dari kebun warga. Paket sederhana seperti ini bisa menghidupkan rantai ekonomi dari petani, pelaku UMKM, sampai pengelola wisata.
Dukungan Fasilitas Kebersihan dan Protokol Kesehatan
Salah satu bukti nyata kehadiran Gerakan BISA di Taman Ria Colo adalah paket fasilitas kebersihan yang diserahkan langsung oleh Kemenparekraf. Paket itu mencakup tempat cuci tangan, cairan pembersih, alat penyemprot lengkap dengan cairan disinfektan, serta perlengkapan lain untuk menunjang kegiatan bersih bersih rutin di kawasan wisata.
Bantuan ini sangat berarti bagi pengelola taman. Selama ini, banyak pengelola wisata daerah yang mengandalkan kas terbatas dari penjualan tiket untuk biaya operasional. Dengan tambahan fasilitas dari pusat, beban biaya bisa sedikit berkurang, sementara standar kebersihan diharapkan naik.
Edukasi Kebersihan untuk Pengelola dan Pengunjung
Gerakan BISA juga menekankan pentingnya edukasi. Bukan hanya soal cara memakai masker dan mencuci tangan, tetapi juga pola pikir bahwa kebersihan destinasi adalah tanggung jawab bersama.
Pengelola diminta memberi contoh, mulai dari cara menata tong sampah, membersihkan toilet secara berkala, sampai menegur pengunjung yang membuang sampah sembarangan. Di sisi lain, pengunjung juga diajak lebih peduli, misalnya dengan membawa botol minum sendiri, tidak meninggalkan sampah piknik, dan menghormati aturan yang dipasang di area taman.
Taman Ria Colo sebagai Ruang Publik Keluarga
Di luar momen resmi Gerakan BISA, Taman Ria Colo sehari hari adalah ruang publik yang cukup hidup. Lokasinya yang berada di depan Hotel Graha Muria membuat taman ini mudah diakses rombongan tamu yang menginap, maupun warga sekitar yang ingin sekadar duduk santai dan menikmati udara dingin pegunungan.
Harga tiket masuk yang sangat terjangkau, sekitar tiga ribu rupiah untuk hari biasa dan empat ribu rupiah untuk akhir pekan, membuat taman ini ramah bagi semua kalangan. Untuk kegiatan kemah kolektif, pengelola menyiapkan area lapang yang bisa diisi tenda hingga seratus orang dengan dukungan sembilan kamar mandi, sehingga acara pramuka sekolah atau kegiatan komunitas bisa berjalan nyaman.
Tempat Belajar Alam Sekaligus Rekreasi
Taman Ria Colo juga sering dimanfaatkan sebagai tempat belajar di alam terbuka. Guru atau pembina pramuka bisa memanfaatkan area lapang untuk aktivitas permainan kelompok, pengenalan lingkungan, hingga sesi api unggun saat malam hari.
Kombinasi udara sejuk, pepohonan rindang, dan fasilitas cukup membuat taman ini cocok untuk kegiatan yang menggabungkan edukasi dan rekreasi. Setelah Gerakan BISA, harapannya fasilitas kebersihan yang lebih lengkap serta penerapan protokol kesehatan yang lebih tertib bisa membuat kegiatan belajar di alam terasa makin aman.

Tantangan Pengembangan dan Kebutuhan Kolaborasi
Meski suasana di hari pencanangan terasa optimistis, tantangan pengembangan wisata di Taman Ria Colo tidak ringan. Keterbatasan anggaran daerah membuat banyak rencana pembenhan infrastruktur berjalan perlahan. Jalan akses, area parkir yang lebih tertata, hingga penambahan wahana wisata keluarga masih membutuhkan dukungan dana yang tidak kecil.
Plt Bupati menyampaikan secara terbuka bahwa Kudus tidak bisa hanya mengandalkan APBD untuk mengolah semua potensi wisata yang ada. Kolaborasi dengan pemerintah pusat, legislatif, dan mungkin juga pihak swasta sangat diperlukan. Dukungan bisa berupa program berbasis komunitas, bantuan promosi digital, sampai skema kerja sama pengelolaan destinasi.
Menjaga Keseimbangan antara Wisata dan Kelestarian Alam
Desa Colo berada di kawasan yang sensitif secara lingkungan. Di satu sisi, potensi wisata alam begitu besar, tetapi di sisi lain, tekanan lingkungan bisa meningkat jika pengembangan dilakukan tanpa perhitungan. Gerakan BISA memberikan pengingat bahwa kebersihan dan kesehatan tidak hanya untuk manusia, tetapi juga untuk alam yang menopang kegiatan wisata.
Pengelolaan sampah kemah, kualitas air di sekitar taman, serta kelestarian vegetasi di lereng Muria perlu jadi perhatian jangka panjang. Kalau pengembangan wisata hanya fokus pada jumlah pengunjung tanpa memikirkan daya dukung lingkungan, keindahan alam yang jadi daya tarik utama bisa rusak pelan pelan.
Suara Warga dan Pelaku Wisata Setelah Gerakan BISA
Bagi pelaku wisata di sekitar Taman Ria Colo, Gerakan BISA memberi suntikan semangat baru. Mereka merasa tidak lagi berjalan sendiri menjaga kebersihan dan kelangsungan destinasi. Ada dukungan nyata dari pusat, ada perhatian dari pemerintah daerah, dan ada dorongan moral dari tokoh agama yang mengaitkan kebersihan dengan nilai keimanan.
Sebagian pelaku wisata berharap, setelah pencanangan, akan ada kelanjutan berupa pelatihan pengelolaan homestay, pemasaran paket wisata berbasis komunitas, hingga pendampingan dalam memaksimalkan potensi kopi dan jeruk pamelo sebagai produk unggulan. Mereka juga ingin agar promosi Gerakan BISA tidak berhenti di Colo saja, tetapi menular ke destinasi lain di Kudus, termasuk air terjun dan lokasi wisata alam lain yang sedang naik daun di media sosial.
Harapan Taman Ria Colo Menjadi Contoh Bagi Destinasi Lain
Dengan segala keterbatasan fasilitas, Taman Ria Colo menunjukkan bahwa destinasi wisata daerah bisa menjadi contoh penerapan standar kebersihan dan kesehatan yang baik, asalkan ada kemauan bersama. Dari pemerintah pusat yang membawa program, pemerintah daerah yang mencari dukungan, pengelola yang mau berbenah, sampai warga yang menjaga lingkungan.
Kalau gerakan seperti ini konsisten dijalankan, bukan tidak mungkin Taman Ria Colo akan dikenal bukan hanya sebagai taman kecil di lereng Muria, tetapi sebagai simbol bagaimana destinasi rakyat bisa bangkit kembali lewat gerakan yang fokus pada hal hal sederhana seperti kebersihan, keindahan, kesehatan, dan rasa aman pengunjung.