Begitu garis finish Batam Trail Run 5K terlewati dan medali sudah menggantung manis di leher, suasana hati pelari biasanya campur aduk. Capek iya, puas juga iya. Tapi anehnya, keinginan buat jalan jalan malah makin tinggi. Setelah berkeringat di trek Batam yang penuh tanjakan dan pemandangan tebing, banyak pelari yang tidak mau langsung pulang. Mereka lanjut eksplorasi ke Bintan, tepatnya ke Desa Wisata Ekang yang suasananya hijau, adem dan penuh aktivitas seru.
Di sini tubuh yang barusan diajak lari bisa istirahat, tapi rasa penasaran tetap terjawab. Dari tidur di tenda glamping sampai main air di danau, semuanya terasa pas sebagai lanjutan perjalanan setelah race selesai.
Batam Trail Run 5K Selesai Saatnya Pindah Mode Liburan
Event Batam Trail Run 5K sendiri dikenal dengan jalur lari yang menantang. Bukan sekadar lari di jalanan kota, pelari diajak melewati rute yang naik turun dengan latar pemandangan alam Batam di kejauhan. Di area seperti Tebing Langit, pelari bisa melihat kombinasi hutan, bukit dan kota dari titik tinggi. Sensasinya berbeda dari lari biasa, karena kaki dipaksa bekerja ekstra di tanjakan sementara mata dimanjakan panorama sekitar.
Begitu race selesai, banyak pelari yang masih ingin menikmati momen kumpul bareng teman. Dari obrolan ringan soal pace sampai curhat soal napas yang ngos ngosan di tanjakan, semua mengalir santai. Di titik ini, ide buat lanjut perjalanan ke tempat yang lebih tenang terasa sangat masuk akal.
Dari Trek Lari Menuju Suasana Desa yang Adem
Perpindahan dari Batam ke Bintan sebenarnya cukup mudah. Pelari bisa menyeberang dengan kapal cepat lalu melanjutkan perjalanan darat menuju kawasan wisata. Di sinilah Desa Wisata Ekang masuk sebagai destinasi lanjutan yang cocok. Perubahan suasananya terasa jelas begitu kendaraan mulai meninggalkan hiruk pikuk kota dan masuk ke area pedesaan.
Kalau sebelum lomba suasana didominasi suara starter, teriakan panitia dan musik di area race, begitu sampai di Ekang yang terdengar justru suara angin, burung dan air. Kaki yang tadinya dipaksa berlari di jalur trail, sekarang bisa diajak jalan pelan di jalur paving di sekitar danau sambil menikmati udara segar.
Kenapa Ekang Cocok Jadi Lanjutan Setelah Race
Ada beberapa alasan kenapa Desa Wisata Ekang jadi cocok sebagai “episode berikutnya” setelah Batam Trail Run. Pertama, jaraknya tidak terlalu jauh dan aksesnya relatif nyaman. Kedua, vibe tempatnya sangat kontras dengan suasana race sehingga badan dan pikiran bisa pindah mode dari kompetitif ke santai.
Ketiga, di satu lokasi pengunjung bisa dapat banyak hal sekaligus. Bisa menikmati alam, mencoba aktivitas ringan, main bareng keluarga, sampai menginap dengan konsep glamping. Jadi, energi yang masih tersisa setelah lari bisa tersalurkan dengan cara yang lebih rileks.
Lokasi dan Cara Menuju Desa Wisata Ekang
Desa Wisata Ekang berada di Desa Ekang Anculai, Kecamatan Teluk Sebong, Kabupaten Bintan. Lokasinya berada di area yang strategis, tidak jauh dari jalur menuju kawasan pantai dan resort di Bintan. Buat yang baru pertama kali datang, gambaran mudahnya seperti ini, Ekang berada di area pedesaan yang sengaja dikembangkan menjadi desa wisata dengan fasilitas lengkap.
Dari Batam, pelari terlebih dulu menyeberang ke Bintan menggunakan kapal. Sesampainya di pelabuhan, perjalanan dilanjutkan dengan kendaraan menuju Ekang. Lama perjalanannya tidak sampai berjam jam sehingga masih masuk akal kalau mau langsung meluncur ke sana setelah event lari selesai di pagi hari.
Rute Nyaman untuk Badan yang Baru Lari
Badan yang baru menyelesaikan lima kilometer tentu butuh rute yang tidak terlalu menguras tenaga lagi. Untungnya, perjalanan darat menuju Ekang didominasi jalan beraspal mulus. Di sepanjang jalan, pemandangan kota perlahan bergeser jadi kebun, pepohonan dan rumah rumah warga.
Semakin mendekati kawasan Ekang, nuansa wisata mulai terasa. Plang penunjuk arah, gerbang wisata dan area parkir yang tertata membuat pengunjung merasa disambut. Begitu turun dari kendaraan, udara terasa sedikit lebih segar, dan mata langsung disuguhi pemandangan danau buatan dan bangunan bernuansa bambu.

Jam Kunjungan dan Waktu Terbaik Datang
Ekang pada dasarnya siap menerima kunjungan dari pagi sampai sore. Yang menginap tentu bisa menikmati suasana sampai malam. Buat pelari, waktu paling enak untuk datang biasanya setelah urusan lomba beres. Kalau event lari selesai pagi dan semua beres menjelang siang, masih sangat cukup waktu untuk menyeberang, sampai di Ekang, makan siang dan menikmati beberapa aktivitas sampai menjelang malam.
Datang saat siang sampai sore juga memberi kesempatan buat merasakan perubahan suasana. Mulai dari cahaya terik yang memantul di permukaan air danau sampai sore yang pelan pelan jadi lebih adem, semua punya sensasi sendiri.
Suasana Desa Wisata Ekang yang Bikin Lupa Capek Lari
Masuk ke kawasan Desa Wisata Ekang rasanya seperti berpindah ke dunia lain yang lebih pelan. Di tengah area terlihat danau buatan yang cukup luas dengan air tenang. Di sekelilingnya ada jalan setapak berpaving, taman, gazebo rumbia dan bangunan bambu yang jadi pusat aktivitas.
Buat pelari yang sebelumnya sibuk mengatur napas di jalur trail, suasana seperti ini sudah cukup membuat bahu terasa ringan. Tinggal pilih mau duduk di gazebo menghadap danau, jalan santai keliling area atau langsung rebahan di tenda glamping.
Danau dan Ruang Hijau sebagai Pusat Aktivitas
Danau di tengah kawasan menjadi titik kumpul utama. Dari pinggir danau, pengunjung bisa melihat wahana perahu, leg paddle dan beberapa spot foto yang aesthetic. Air danau memantulkan langit dan pepohonan sehingga pemandangan terasa menyejukkan mata.
Ruang hijau di sekitarnya juga tertata rapi. Rumput yang terpelihara, tanaman yang ditata dan pepohonan yang cukup rindang membuat siapa pun betah berlama lama di sini. Anak anak bisa berlari di area yang aman, sementara orang dewasa duduk santai sambil ngobrol, minum kopi atau hanya menikmati suasana.
Glamping dan Tenda yang Bikin Betah
Salah satu daya tarik utama di Ekang adalah glamping dan area camping. Di sini pengunjung bisa menginap di tenda berkonsep nyaman, bukan tenda biasa yang serba minimalis. Interiornya dibuat cozy dengan kasur empuk, dekorasi simpel dan fasilitas yang cukup untuk istirahat berkualitas.
Selain glamping tent, ada juga pilihan tenda biasa, kabin kayu dan bahkan tenda yang berada di atas air. Sentuhan ini membuat pengalaman menginap terasa unik, karena tamu benar benar berada dekat dengan alam tapi tetap merasakan kenyamanan seperti di penginapan modern.
Buat pelari, tidur di tenda glamping setelah sehari penuh aktivitas adalah bentuk self reward yang menyenangkan. Bangun pagi dengan suara alam dan udara sejuk jelas beda rasanya dibanding bangun di tengah kebisingan kota.
Serunya Aktivitas di Ekang Setelah Lari
Ekang bukan cuma soal pemandangan dan tempat menginap. Di sini tersedia berbagai aktivitas yang bisa dipilih sesuai kondisi badan dan mood. Mulai dari aktivitas super santai sampai yang cukup memacu adrenalin, semua ada di satu kawasan.
Aktivitas Santai di Sekitar Air
Kalau ingin benar benar istirahat, ada beberapa aktivitas yang tidak terlalu berat. Salah satunya memberi makan ikan di kolam. Walau terdengar sederhana, pengalaman duduk di tepi air sambil melihat ikan berebut pakan sering kali terasa menenangkan.
Pengunjung juga bisa naik leg paddle. Wahananya mirip sepeda air, pengunjung duduk di atas alat yang mengapung dan menggerakkannya dengan kayuhan kaki. Gerakannya tidak terlalu berat sehingga masih aman untuk badan yang baru saja dipakai lari. Selain itu, ada juga pilihan perahu santai yang bisa dinaiki bersama keluarga untuk sekadar berkeliling danau sambil mengabadikan momen.
Naik ATV dan Sepeda untuk yang Masih Ingin Bergerak
Buat pelari yang masih punya sisa tenaga dan ingin tetap aktif, ATV bisa jadi pilihan. Di Ekang tersedia rute rute yang sudah diatur, mulai dari jalur singkat di sekitar area wisata sampai rute yang sedikit lebih panjang dengan melewati jalur tanah dan rumput.
Sensasi mengendarai ATV di area pedesaan seperti ini cukup menyenangkan. Angin yang menerpa wajah, suara mesin dan pemandangan kiri kanan membuat badan tetap merasa bergerak tetapi tidak seberat lari di jalur trail.
Selain ATV, ada penyewaan sepeda yang bisa dipakai berkeliling area. Aktivitas ini pas untuk pelari yang biasa latihan kardio tapi ingin menurunkan intensitas setelah lomba. Gowes santai di jalan beraspal dengan pemandangan hijau di kiri kanan terasa seperti peregangan aktif untuk otot otot yang tegang.
Berkuda dan Bermain di Bunny Land
Tidak lengkap rasanya kalau bicara Ekang tanpa menyebut aktivitas berkuda. Di sini pengunjung bisa mencoba naik kuda di jalur yang sudah disiapkan, lengkap dengan pendamping yang memastikan aktivitas berjalan aman. Bukan cuma anak anak, orang dewasa yang baru pertama kali naik kuda juga bisa mencoba tanpa rasa canggung.
Di sisi lain, ada area Bunny Land tempat anak anak bisa berinteraksi dengan kelinci. Mereka bisa memberi makan, mengelus dan bermain di area yang sudah dirancang aman. Aktivitas ini bukan cuma menghibur, tetapi juga jadi sarana mengenalkan anak pada hewan dan belajar cara memperlakukannya dengan lembut.
Berenang dan Santai di Gazebo
Kalau badan masih terasa panas setelah lari, berenang di kolam bisa membantu menurunkan suhu tubuh dan membuat otot lebih rileks. Kolam renang di Ekang dibuat dengan desain menarik dan dikelilingi kawasan hijau. Ada bagian yang cocok untuk anak anak dan bagian yang bisa dipakai orang dewasa untuk berenang santai.
Di pinggir kolam, berderet gazebo yang bisa disewa sebagai tempat berkumpul. Dari sini pengunjung bisa melihat aktivitas di sekitar, memesan makanan dan minuman, atau sekadar rebahan sambil menikmati semilir angin. Kombinasi suara air, tawa anak anak dan obrolan santai membuat suasananya mirip liburan keluarga di resort, tapi dengan nuansa desa yang lebih hangat.

Gambaran Paket Wisata dan Perkiraan Budget Sehari di Ekang
Soal biaya, Ekang termasuk destinasi yang cukup fleksibel. Pengunjung bisa datang hanya untuk menikmati suasana, bisa juga menambah berbagai aktivitas sesuai keinginan. Tiket aktivitas biasanya dipatok per orang per wahana, dan harganya beragam.
Ada aktivitas dengan biaya ringan seperti memberi makan ikan atau menyewa sepeda selama jangka waktu tertentu. Ada juga yang harganya lebih tinggi seperti ATV, berkuda atau paket permainan khusus. Hal yang menyenangkan, pengunjung bisa memilih kombinasi aktivitas yang sesuai budget tanpa merasa dipaksa membeli paket besar.
Untuk penginapan, glamping dan tenda menginap biasanya ditawarkan dalam harga per malam, dengan fasilitas berbeda beda tergantung tipe tenda atau kabin. Kadang tersedia paket menginap yang sudah satu paket dengan beberapa aktivitas, yang biasanya jatuhnya lebih hemat dibanding membayar satu satu.
Kalau dihitung kasar, satu hari penuh di Ekang dengan kombinasi tiket masuk, beberapa aktivitas santai dan makan minum masih bisa diatur di kisaran ratusan ribu rupiah per orang, tergantung pilihan wahana dan gaya liburan. Bagi pelari yang sudah terlanjur keluar biaya untuk mengikuti event dan perjalanan, angka ini masih termasuk masuk akal untuk menutup rangkaian liburan dengan manis.
Ekang dalam Peta Sport Tourism Kepulauan Riau
Beberapa tahun terakhir, Kepulauan Riau makin serius menggarap konsep sport tourism. Event lari, triathlon, sampai ajang sepeda digelar untuk menarik wisatawan yang tidak hanya datang untuk liburan tetapi juga mengejar tantangan fisik. Batam Trail Run 5K jadi salah satu contoh bagaimana olahraga bisa jadi pintu masuk ke destinasi wisata lain di sekitar.
Di tengah perkembangan ini, Desa Wisata Ekang hadir sebagai pelengkap yang manis. Setelah mengikuti event olahraga, peserta butuh tempat untuk cooldown baik secara fisik maupun mental. Di sini, Ekang menawarkan kombinasi alam, aktivitas dan penginapan yang mampu menjawab kebutuhan tersebut.
Sinergi Event Lari dan Desa Wisata
Bayangkan skenario sederhana. Pagi hari pelari mengikuti event trail run di Batam dengan suasana yang ramai dan penuh adrenalin. Siangnya, mereka menyeberang ke Bintan, lalu menuju Ekang. Malamnya, mereka menginap di tenda glamping, makan malam dengan menu lokal dan ngobrol santai di bawah langit yang penuh bintang.
Keesokan harinya, sebagian memilih bersepeda keliling area, sebagian lagi menikmati wahana air atau sekadar bersantai di gazebo. Pola seperti ini membuat satu kunjungan terasa jauh lebih kaya. Bukan cuma soal catatan waktu di race, tetapi juga cerita tentang desa, alam dan interaksi dengan warga lokal.
Jika pola ini terus berulang, lama lama nama Ekang bukan hanya dikenal sebagai tempat glamping seru, tetapi juga sebagai bagian dari ekosistem sport tourism di Kepulauan Riau.
Ekang sebagai Desa Wisata Berbasis Masyarakat
Satu hal menarik dari Ekang adalah keterlibatan masyarakat dalam pengelolaannya. Desa ini tidak sekadar dijadikan lokasi wisata tanpa sentuhan warga, tetapi justru warga ikut terlibat langsung. Ada peran kelompok sadar wisata, BUMDes, pemuda desa dan pelaku usaha kecil yang bersama sama membuat Ekang terus hidup.
Pendapatan dari tiket, sewa wahana dan penginapan ikut menggerakkan ekonomi lokal. Warga bisa membuka usaha makanan, suvenir, jasa transportasi lokal dan lain lain. Hal ini membuat pariwisata di Ekang tidak hanya menyenangkan untuk pengunjung, tetapi juga memberi manfaat nyata untuk penduduk setempat.
Ruang Belajar untuk Sekolah dan Komunitas
Selain wisata keluarga dan pelancong umum, Ekang juga sering dimanfaatkan sebagai lokasi kegiatan sekolah dan komunitas. Program outing class, camping edukasi dan wisata lingkungan bisa dibuat dengan memanfaatkan fasilitas yang sudah ada.
Anak anak bisa belajar tentang pentingnya menjaga alam melalui kegiatan menanam, mengelola sampah dengan benar atau mengenal ekosistem mangrove. Mahasiswa atau komunitas bisa memanfaatkan Ekang sebagai laboratorium hidup untuk belajar tentang pariwisata berbasis masyarakat.
Bagi pelari yang datang bersama keluarga, kesempatan seperti ini bisa jadi bonus. Anak tidak hanya ikut jalan jalan, tetapi juga pulang dengan pengalaman belajar yang berkesan.
Tips Nyaman Eksplorasi Ekang untuk Pelari
Supaya pengalaman di Ekang setelah Batam Trail Run terasa maksimal, ada beberapa tips sederhana yang bisa dicoba. Pertama, atur jadwal dengan baik. Pastikan tahu jam start dan selesai event lari, lalu hitung waktu yang dibutuhkan untuk menyeberang ke Bintan dan menuju Ekang. Semakin rapi rencana, semakin besar peluang menikmati banyak aktivitas tanpa keteteran.
Kedua, sesuaikan aktivitas dengan kondisi tubuh. Kalau habis lomba badan terasa cukup lelah, prioritaskan aktivitas ringan seperti duduk di gazebo, memberi makan ikan, naik perahu santai atau berenang pelan. Kalau ternyata masih ada banyak tenaga, baru tambahkan ATV, sepeda atau berkuda.
Ketiga, pertimbangkan untuk menginap minimal satu malam. Dengan menginap, pelari punya waktu lebih longgar untuk menikmati suasana pagi dan malam di desa wisata. Pagi hari bisa dipakai untuk jalan kaki keliling area sambil menikmati udara sejuk, malam hari bisa diisi dengan barbeque atau sekadar ngobrol di sekitar tenda.
Terakhir, sempatkan ngobrol dengan warga dan pelaku usaha lokal. Tanya cerita tentang bagaimana desa berkembang, aktivitas apa yang paling mereka banggakan dan rekomendasi makanan yang wajib dicoba. Dari obrolan seperti ini, pengalaman liburan terasa lebih hangat dan personal.
Dengan kombinasi event lari yang menantang di Batam dan suasana desa wisata yang adem di Ekang, satu perjalanan singkat bisa berubah jadi rangkaian cerita panjang. Tubuh mendapat tantangan, pikiran mendapat ketenangan, dan kenangan yang dibawa pulang pun jauh lebih kaya.