Pagi itu Gedung Sapta Pesona di kawasan Medan Merdeka Barat Jakarta terasa beda. Lalu lalang staf, ajudan, sampai awak media bikin suasana lebih riuh dari biasanya. Semua orang tahu, hari itu bukan sekadar acara serah terima jabatan biasa. Kursi Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif resmi bergeser dari Wishnutama Kusubandio ke Sandiaga Salahuddin Uno, tokoh yang sebelumnya lebih sering terlihat di dunia bisnis dan panggung politik nasional.
Di luar gedung, pandemi masih menekan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Hotel sepi, desa wisata tertahan, konser dan festival bubar jalan. Justru karena situasinya seberat itu, momentum sertijab ini berasa seperti pergantian nakhoda di tengah badai besar.
Rasanya seperti menyaksikan kapal yang lagi dihantam ombak, lalu kaptennya ganti di tengah laut, tapi semua kru diminta tetap tenang dan terus kerja bareng.
Balairung Soesilo Soedarman Jadi Saksi
Di dalam, acara digelar di Balairung Soesilo Soedarman. Ruangan dengan langit langit tinggi dan nuansa resmi itu dipadati pejabat, jajaran eselon, staf, dan tamu undangan yang hadir secara langsung maupun virtual. Protokol kesehatan terasa ketat, dari jarak kursi sampai masker yang tidak pernah lepas dari wajah para tamu.
Di panggung depan terpasang backdrop sederhana dengan logo Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Tidak perlu dekor berlebihan, karena fokus acara jelas satu, penyerahan amanah dari Wishnutama kepada Sandiaga. Di meja yang sudah disiapkan, map berisi dokumen, laporan, dan naskah serah terima sudah tersusun rapi, menunggu ditandatangani.
Dimulai dengan Lagu Kebangsaan
Sebelum sambutan sambutan, rangkaian acara dibuka dengan menyanyikan Indonesia Raya. Semua berdiri, sebagian menatap bendera kecil di sudut ruangan, sebagian lagi seperti menerawang memikirkan betapa beratnya tugas memulihkan pariwisata tanah air dalam situasi serba tidak pasti.
Begitu lagu selesai, suasana bergeser jadi lebih hikmat. Pemandu acara memanggil satu per satu pejabat yang punya peran dalam seremoni, dari perwakilan biro hingga pimpinan unit. Di layar yang menampilkan tamu virtual, muncul wajah wajah pegawai dari berbagai daerah, ikut menyaksikan dari jauh. Teknologi dipakai untuk menutup jarak, sambil tetap menjaga protokol pandemi.
Wishnutama Menutup Babak Singkat yang Penuh Tekanan
Setelah pembukaan, giliran Wishnutama maju dan berdiri di podium. Mantan bos rumah produksi dan kreator berbagai acara televisi ini secara resmi pamit sebagai menteri. Masa tugasnya memang tidak panjang, hanya sekitar satu tahun, tapi waktunya bertepatan dengan hantaman pandemi paling berat untuk sektor wisata dan hiburan.
Bisa dibilang, ia datang di saat pariwisata sedang meroket, lalu tiba tiba seluruh dunia menekan tombol berhenti. Hotel tutup, penerbangan dibatasi, pergerakan wisatawan runtuh. Di situ beban kerja kementerian makin berat, sekaligus ruang gerak sangat terbatas.
Rasa Terima Kasih ke Jajaran Kementerian
Dalam sambutannya, Wishnutama menekankan rasa terima kasih buat seluruh jajaran Kemenparekraf dan Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Ia menyinggung bagaimana setahun terakhir semua orang di kementerian kerja ekstra keras cari cara supaya pelaku industri bisa bertahan.
Ia mengingatkan kembali program program yang muncul di masa pemerintahannya, seperti upaya mendorong penerapan standar kebersihan dan kesehatan di destinasi, dukungan promosi kreatif dalam situasi terbatas, sampai cara cara baru mengemas wisata tanpa melanggar aturan kesehatan. Walaupun banyak program yang terhambat pembatasan, upaya penjajakan, diskusi, dan penyusunan kebijakan terus jalan.
Yang paling kerasa dari cara kerja Tama adalah dorongan untuk tetap kreatif meski ruang gerak sempit. Pandemi memang bikin banyak pintu tertutup, tapi masih ada jendela kecil yang bisa dicari sama sama.
Pesan Penting Soal Kesehatan dan Ketidakpastian
Di tengah sambutannya, Wishnutama mengingatkan bahwa di masa seperti ini, urusan kesehatan tidak boleh ditaruh di urutan belakang. Pariwisata memang punya potensi devisa besar, tapi kalau mengabaikan keselamatan wisatawan dan pelaku industri, pemulihan tidak akan bertahan lama.
Ia juga jujur bilang kalau perencanaan di masa pandemi sulit banget. Rencana yang sudah rapi bisa batal dalam hitungan hari hanya karena lonjakan kasus atau aturan baru. Tapi lewat kalimat yang cukup menohok, ia menegaskan bahwa dalam situasi sesulit apa pun, tidak ada waktu yang salah untuk berbuat baik dan tidak ada waktu yang baik untuk berbuat salah.
Momen Saat Amanah Berpindah ke Sandiaga Uno
Setelah sambutan, masuk ke inti acara, penandatanganan dan penyerahan naskah serah terima jabatan. Di meja depan, dua tokoh yang jadi pusat perhatian duduk berdampingan, menandatangani dokumen satu per satu. Suasana hening, hanya suara klik kamera dan instruksi pelan dari protokol yang sesekali terdengar.
Begitu selesai, naskah resmi berpindah tangan. Itulah momen simbolis ketika seluruh tanggung jawab kementerian yang memegang dua urat nadi, pariwisata dan ekonomi kreatif, secara formal beralih dari Wishnutama ke Sandiaga Uno.
Salam Hangat dan Senyum yang Menenangkan
Setelah penandatanganan, keduanya berdiri berdampingan dan mengangkat buku serta dokumen ke arah kamera. Senyum mengembang, bukan senyum lebar tanpa beban, tapi lebih seperti ekspresi bahwa estafet tugas sedang berlangsung dan harus terus dijaga. Momen keakraban itu juga tertangkap dalam banyak foto, termasuk ketika mereka berdiri bersama pasangan masing masing dan melambaikan tangan ke arah para tamu.
Di situ publik menangkap satu hal, perpindahan jabatan ini berjalan dengan nada saling menghormati, bukan suasana dingin atau canggung. Wishnutama terang terangan menyebut Sandiaga sebagai sosok yang sudah lama ia kagumi, dan ia yakin kepemimpinan baru ini bisa membawa pariwisata dan ekonomi kreatif ke level yang lebih baik.
Reshuffle Kabinet yang Mengubah Peta
Sertijab ini sendiri merupakan bagian dari perombakan kabinet yang diumumkan Presiden Joko Widodo sehari sebelumnya. Dalam pengumuman di Istana, Sandiaga diperkenalkan sebagai menteri baru yang akan memegang sektor pariwisata dan ekonomi kreatif untuk sisa periode kabinet sampai tahun dua ribu dua puluh empat.
Masuknya Sandiaga, yang sebelumnya dikenal sebagai pengusaha dan mantan wakil gubernur, menandakan bahwa pemerintah ingin tokoh yang punya kombinasi pengalaman bisnis dan jaringan luas untuk menggerakkan sektor ini. Khususnya di masa pemulihan ekonomi, pariwisata dan ekonomi kreatif dipandang sebagai lokomotif penting pencipta lapangan kerja.
Sambutan Perdana Sandiaga Uno sebagai Menparekraf
Setelah menerima dokumen, giliran Sandiaga Uno naik ke podium. Dengan gaya bicara yang cukup tenang namun penuh energi, ia membuka sambutan dengan menyebut amanah baru ini sebagai tanggung jawab besar yang tidak bisa dianggap ringan. Ia menegaskan bahwa pos yang ia pegang bukan hanya jabatan, melainkan kewajiban untuk melanjutkan pondasi yang sudah diletakkan oleh pendahulunya.
Ia menyadari bahwa ia datang di masa tersulit. Pariwisata yang sebelumnya jadi penyumbang devisa besar dan membuka jutaan lapangan kerja, mendadak terpukul. Di sisi lain, pelaku ekonomi kreatif juga harus beradaptasi dengan pola baru, dari konser dan festival fisik pindah ke format daring, dari bioskop ke platform digital.
Tiga Kata Kunci yang Berkali kali Diulang
Dalam pidatonya, Sandiaga menegaskan tiga kata kunci untuk mengarahkan kerja kementerian, yaitu inovasi, adaptasi, dan kolaborasi. Tiga kata ini menurutnya bukan sekadar jargon, tapi cara berpikir yang harus dipegang semua pelaku industri, dari pelaku UMKM kreatif sampai pengelola destinasi kelas dunia.
Inovasi berarti mencari cara baru menjual pengalaman wisata dan produk kreatif di tengah keterbatasan mobilitas fisik. Adaptasi berarti patuh dan luwes mengikuti aturan kesehatan, tidak memaksa ketika situasi belum memungkinkan. Kolaborasi berarti menutup celah ego sektoral, menggabungkan kekuatan komunitas, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan platform digital.
Di titik serendah ini, kebiasaan kerja sendiri sendiri tidak akan cukup. Butuh gerakan ramai ramai yang rapi, supaya sektor ini tidak cuma bertahan, tapi bisa bangkit pelan pelan dengan pondasi yang lebih kuat.
Menyebut Peran Tiga Puluh Juta Pekerja
Sandiaga juga mengingatkan bahwa di balik angka angka statistik, ada puluhan juta orang yang menggantungkan hidup di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Ia menyebut kurang lebih lebih dari tiga puluh juta pelaku dan tenaga kerja bergantung pada roda sektor ini. Dari pemandu wisata, pemilik homestay, pengrajin, fotografer, musisi, sampai penjual makanan kecil di sekitar destinasi.
Dengan menekankan angka itu, ia seakan mengirim pesan bahwa tugas kementerian ini bukan hanya soal promosi destinasi, tapi juga menjaga dapur para pekerja kecil yang selama ini mungkin jarang tersorot kamera.
Warisan Program dari Masa Kepemimpinan Wishnutama
Sertijab ini bukan semata pergantian nama di papan ruang kerja menteri. Ada warisan program yang perlu dilanjutkan dan dikembangkan. Dalam sambutan dan siaran resmi, sempat disinggung beberapa inisiatif yang telah dijalankan Wishnutama bersama jajaran, terutama sebagai respons terhadap pandemi.
Salah satunya adalah penerapan standar kebersihan, kesehatan, keselamatan, dan keberlanjutan lingkungan di destinasi wisata dan usaha pariwisata. Di beberapa tempat, sertifikasi sudah mulai berjalan, memberi sinyal ke wisatawan bahwa destinasi tersebut serius menjaga protokol.
Dorongan Gerakan Beli Sekarang Jalan nanti
Program lain yang ikut disebut adalah konsep beli sekarang jalan nanti, di mana pelaku usaha menjual paket wisata atau pengalaman sejak dini, sementara realisasi perjalanannya bisa dilakukan setelah situasi lebih aman. Skema ini semacam penyelamat aliran kas bagi hotel, agen perjalanan, dan pelaku wisata kecil yang menggantungkan pemasukan dari kedatangan tamu.
Walaupun tidak menyelesaikan semua masalah, program seperti ini memberi harapan bahwa hubungan antara wisatawan dan pelaku industri tetap terjaga. Saat pembatasan dilonggarkan, voucher atau paket yang sudah dibeli bisa dipakai, sehingga perputaran ekonomi bisa menyala lagi.
Pesan Kerja dengan Hati
Ada satu kalimat dari Wishnutama yang cukup sering dikutip, bahwa tugas di sektor ini harus dijalankan dengan hati. Ia meminta jajaran kementerian terus menjadikan jabatan sebagai ruang pengabdian, bukan sekadar profesi. Dalam sambutan sertijab, ia menegaskan bahwa kebaikan tidak pernah punya waktu yang salah, dan kesalahan tidak punya waktu yang tepat.
Kalimat seperti itu mungkin terdengar sederhana, tapi di tengah banyaknya tekanan dan tarik menarik kepentingan, pengingat bahwa kerja harus tetap jujur dan tulus memang penting.
Tantangan Berat Pemulihan Pariwisata di Tengah Pandemi
Di sisi lain, Sandiaga tidak menutupi betapa berat tantangan yang sedang ia hadapi. Dalam beberapa pernyataan, ia mengakui pandemi adalah batu ujian besar, baik untuk sektor pariwisata maupun ekonomi kreatif. Bukan cuma di Indonesia, tapi di seluruh dunia.
Kita bicara tentang penurunan kunjungan wisatawan mancanegara yang dalam, pergeseran tren liburan, serta ketakutan masyarakat untuk bepergian jauh. Dalam negeri sekalipun, orang banyak yang memilih menahan diri untuk tidak jalan jalan, terutama ke tempat yang ramai.
Fokus ke Wisata Domestik dan Segmen Baru
Bahkan sebelum sertijab, sudah muncul pembahasan tentang menguatkan pasar wisata domestik. Dengan pintu internasional yang terbatas, logis kalau fokus diarahkan ke pergerakan wisatawan lokal yang lebih mudah dikontrol. Desa wisata, ekowisata, serta wisata minat khusus seperti trekking ringan atau pengalaman budaya di kampung kampung adat, jadi segmen yang digadang gadang punya potensi tumbuh lebih dulu.
Ekonomi kreatif juga mulai diarahkan untuk tidak melulu bergantung pada event fisik. Konten digital, karya visual, musik, dan produk kreatif lain yang bisa dipasarkan lewat platform daring mendapat perhatian lebih. Dengan kata lain, mesin kreatif bangsa tetap diberi bensin meski panggung fisik belum bisa terisi penuh.
Pentingnya Disiplin Protokol Kesehatan
Salah satu pesan yang juga mengemuka saat itu datang dari jajaran pemerintah, termasuk wakil presiden. Disiplin protokol kesehatan disebut sebagai fondasi supaya pariwisata bisa pelan pelan dibuka tanpa menimbulkan gelombang kasus baru. Wisata halal, desa wisata, sampai konsep liburan yang lebih privat juga ikut disebut sebagai ruang inovasi yang bisa disesuaikan dengan standar kesehatan.
Di titik ini terlihat bahwa arah kebijakan bukan sekadar mengejar angka kunjungan, tapi menjaga keseimbangan antara ekonomi dan kesehatan.
Hubungan Personal yang Hangat di Balik Panggung Resmi
Di luar naskah pidato dan dokumen resmi, hubungan antara Wishnutama dan Sandiaga juga terlihat cair. Beberapa waktu sebelum sertijab, Wishnutama sempat mengunggah foto dirinya bersama Sandiaga di media sosial, disertai ucapan syukur dan selamat atas penunjukan sahabatnya itu sebagai menparekraf yang baru.
Unggahan itu menunjukkan bahwa pergantian jabatan ini bukan cerita tentang persaingan dingin, tapi lebih mirip estafet di mana pelari pertama menyerahkan tongkat ke pelari berikutnya dengan penuh dukungan.
Ucapan Kagum untuk Penerus
Dalam beberapa pernyataannya, Wishnutama terang terangan menyebut Sandiaga sebagai sosok yang ia kagumi sejak lama, bahkan sebelum menjabat sebagai wakil gubernur. Ia yakin bahwa di tangan Sandiaga, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif justru bisa jadi lebih baik.
Pujian seperti itu jarang muncul kalau tidak didasari hubungan personal yang cukup dekat. Ini penting karena bagi jajaran di bawah, sinyal dari atas bahwa pergantian pimpinan berjalan secara baik bisa menenangkan kegelisahan soal perubahan kebijakan.
Kesan Haru di Mata Pegawai
Bagi para pegawai yang hadir, sertijab ini adalah momen campur aduk. Di satu sisi, mereka melepas pemimpin yang sudah mereka dampingi di salah satu periode tersulit sejarah pariwisata modern. Di sisi lain, mereka menyambut pimpinan baru yang datang dengan energi dan gaya kerja berbeda.
Di wajah wajah yang tertangkap kamera, terlihat ekspresi lega, haru, dan penasaran. Lega karena proses pergantian berjalan lancar. Haru karena kerja bersama selama satu tahun penuh tekanan akhirnya sampai di garis pergantian. Penasaran karena semua orang ingin tahu seperti apa cara Sandiaga mengarahkan kapal ini menuju perairan yang lebih tenang.
Buat banyak pegawai, pergantian menteri itu seperti ganti pelatih di tengah liga. Strategi bisa berubah, gaya komunikasi beda, tapi seragam yang dipakai tetap sama dan target menangnya juga tidak berubah.
Harapan yang Menggantung Setelah Sertijab Usai
Begitu semua rangkaian acara selesai, tamu undangan perlahan meninggalkan ruangan. Petugas sibuk membereskan kursi, mencabut kabel, dan menggulung karpet. Di luar, para jurnalis masih sibuk mengejar pernyataan tambahan, baik dari Wishnutama maupun Sandiaga. Beberapa staf muda memanfaatkan momen untuk foto bersama, sekadar kenangan bahwa mereka hadir di salah satu babak penting kementerian.
Di atas kertas, sertijab adalah urusan administrasi, pindah tanda tangan dan stempel. Tapi di lapangan, momen ini seperti penanda babak baru. Apa yang sudah dibangun di periode singkat Wishnutama, terutama pondasi respons terhadap pandemi, diharapkan jadi pijakan untuk lompatan berikutnya. Sementara Sandiaga datang dengan reputasi sebagai pengusaha, sosok yang terbiasa berurusan dengan angka, jaringan, dan strategi memasarkan brand.
Harapan publik sederhana tapi berat, sektor pariwisata dan ekonomi kreatif bisa bangkit dari titik terendah. Bukan cuma untuk menaikkan angka devisa, tapi supaya jutaan orang yang bekerja sebagai pelayan restoran, pemandu di desa wisata, pengrajin di kota kecil, penata panggung konser, sampai pelaku seni yang menggantungkan hidup pada penonton, bisa kembali tersenyum.
Dan di hari ketika dokumen itu berpindah tangan di Balairung Soesilo Soedarman, semua mata seolah sepakat memandang ke satu arah yang sama, berharap lonceng kebangkitan perlahan berbunyi lagi.