Di lereng Merapi, ada sebuah dusun yang memilih tumbuh pelan tapi pasti. Namanya Pentingsari, bagian dari Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Desa wisata ini tidak menjual wahana buatan, melainkan mengundang orang datang untuk mengalami: hidup sederhana, bekerja bersama, belajar budaya, lalu pulang dengan rasa hormat pada alam dan tradisi.
Pentingsari dan posisinya di lereng Merapi
Pentingsari berada di kawasan lereng Gunung Merapi, dengan udara yang relatif sejuk siang dan malam. Secara resmi, desa wisata ini tercatat beralamat di Dusun Pentingsari, Umbulharjo, Cangkringan, Sleman.
Diapit sungai dan dibingkai lembah
Salah satu karakter kuat Pentingsari adalah bentang alamnya yang dipeluk aliran air. Di laman resminya, pengelola menyebut Pentingsari diapit Sungai Kuning dan Sungai Pawon, menjadikan lanskap desa punya jalur jelajah alami sekaligus sumber kehidupan warga.
Angka yang menjelaskan konteks wilayah
Di platform Jadesta milik pemerintah, Pentingsari digambarkan berada sekitar 12,5 kilometer dari puncak Merapi, sekitar 22,5 kilometer dari pusat Kota Yogyakarta, dengan ketinggian kurang lebih 700 meter di atas permukaan laut. Data ini memberi gambaran mengapa desa wisata di sini selalu berdampingan dengan dua hal sekaligus: berkah alam dan risiko bencana.
Sejarah berdiri dan titik balik warga
Cerita Pentingsari bukan dimulai dari gemerlap pariwisata, melainkan dari kebutuhan hidup. Jadesta mencatat perjalanan Pentingsari berangkat dari kondisi kampung yang pada dekade 1990an pernah menyandang predikat sebagai salah satu dusun miskin di lereng Merapi, dengan akses yang tidak mudah dan keterbatasan peluang ekonomi.
Berdiri tahun 2008 dan memilih jalur wisata berbasis warga
Di laman resmi Desa Wisata Pentingsari, disebutkan desa wisata ini berdiri sejak 15 April 2008. Dari awal, konsepnya menempatkan kehidupan warga sebagai daya tarik utama, bukan sebagai tempelan.

Musyawarah sebagai fondasi, bukan formalitas
Salah satu hal yang sering luput dalam kisah desa wisata adalah proses sosialnya. Dalam laporan Green Network Asia, pengembangan desa wisata digambarkan dimulai melalui musyawarah dan sosialisasi ide ke warga, hingga dukungan menguat dan lahir pola kerja yang melibatkan masyarakat dalam pengelolaan. Musyawarah di sini bukan sekadar rapat, tapi mekanisme untuk menjaga rasa memiliki dan mencegah pariwisata jadi milik segelintir orang.
Tema wisata yang dijaga: budaya dan pertanian berwawasan lingkungan
Pentingsari mengusung tema “budaya dan pertanian yang berwawasan lingkungan”, sebuah frasa yang bukan pajangan, karena seluruh paketnya berangkat dari keseharian desa. Jadesta menegaskan bahwa aktivitas wisata di Pentingsari berupa pembelajaran dan interaksi tentang alam, lingkungan hidup, pertanian, perkebunan, wirausaha, serta seni tradisi dan kearifan lokal yang mengakar kuat.
Wisata yang membuat tamu ikut terlibat, bukan sekadar melihat
Di Pentingsari, wisatawan tidak hanya datang untuk foto lalu pulang. Modelnya adalah pengalaman. Mulai dari jelajah desa, menyusuri sungai, sampai ikut aktivitas tradisional seperti membajak sawah, panen padi, dan belajar kesenian. Gambaran ini juga muncul pada laman Visiting Jogja milik Pemda DIY yang menyebut pengunjung bisa berbaur dengan penduduk dan mengikuti ragam aktivitas desa.
Live in sebagai “kelas” paling jujur
Salah satu paket yang banyak disebut dalam publikasi tentang Pentingsari adalah live in. Green Network Asia menuliskan live in menjadi daya tarik utama, karena wisatawan menetap bersama warga untuk mengeksplorasi kehidupan sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan desa. Pada praktiknya, konsep ini membuat wisatawan paham bahwa tradisi tidak lahir dari panggung, tetapi dari dapur, sawah, sungai, dan halaman rumah.
Kearifan lokal yang dipertahankan lewat aktivitas harian
Kearifan lokal di Pentingsari terasa karena ia “dipakai” setiap hari. Dari cara menyambut tamu, cara memasak, sampai cara bekerja di lahan, semuanya berbasis kebiasaan warga yang sudah berlangsung lama. Desa wisata ini memilih merawat yang sudah ada, lalu mengemasnya supaya bisa dipelajari tanpa menghilangkan akarnya.
Gotong royong sebagai standar kerja, bukan slogan
Di Jadesta, semangat gotong royong disebut sebagai energi yang membuat warga mampu merawat alam, lingkungan hidup, dan kearifan lokal hingga membuahkan hasil berupa kekayaan vegetasi, hasil bumi, dan kehidupan sosial budaya yang tetap terjaga. Pola gotong royong ini biasanya terlihat nyata saat menyiapkan kegiatan rombongan, bersih desa, sampai memastikan homestay siap menerima tamu.
Kenduri dan tradisi syukuran yang tetap hidup
Bagi banyak tamu, pengalaman yang paling membekas justru bukan atraksi, melainkan momen duduk bersama warga. Visiting Jogja menyebut pada waktu tertentu pengunjung dapat diajak mengikuti kenduri atau syukuran desa. Tradisi ini penting karena mengajarkan etika kebersamaan, pembagian rezeki, dan rasa syukur yang tidak dibuat buat untuk wisata.
Wayang suket dan ruang belajar yang membumi
Wayang suket, atau wayang dari rumput, kerap disebut sebagai kekhasan Pentingsari. ANTARA menulis Menteri Pariwisata bahkan mencoba membuat wayang rumput saat berkunjung, menandai bahwa atraksi ini bukan aksesori, melainkan identitas yang diakui. Ketika kerajinan ini diajarkan ke tamu, yang dipindahkan bukan cuma teknik, tapi juga filosofi sabar, telaten, dan menghormati bahan dari alam.
Paket pengalaman: dari sungai, sawah, sampai kesenian
Pentingsari menyusun paket wisata yang fleksibel, namun napasnya tetap sama: aktivitas yang lahir dari kehidupan desa. Di laman resminya, pengelola menonjolkan atraksi seperti jelajah sungai, bola lumpur, belajar gamelan dan kesenian Jawa, hingga kenduri.
Jelajah sungai sebagai cara melihat desa dari sisi yang berbeda
Jelajah sungai bukan sekadar bermain air. Bagi desa yang diapit aliran, sungai adalah ruang belajar ekologi, kebersihan, dan tata guna lahan. Laman resmi Pentingsari menyebut wisatawan bisa menyusuri Sungai Kuning yang jernih dan sejuk, aktivitas yang digemari untuk relaksasi sekaligus petualangan ringan.
Sawah dan ladang sebagai laboratorium pertanian
Kegiatan pertanian tidak dikemas sebagai tontonan. Visiting Jogja menyebut wisatawan dapat mencoba membajak sawah, panen padi, memancing, hingga aktivitas lain yang membuat tamu merasakan ritme kerja desa. Dari sini, pelajaran pentingnya adalah menghargai makanan, karena nasi yang sederhana ternyata punya proses panjang.
Gamelan, tari, dan keterampilan yang diwariskan
Bagi banyak rombongan sekolah dan komunitas, sesi karawitan dan tari sering menjadi pintu masuk mengenal budaya Jawa. Laman resmi Pentingsari menuliskan pembelajaran gamelan dan kesenian Jawa sebagai salah satu atraksi, sedangkan sumber lain seperti Visiting Jogja menegaskan ada kursus singkat tari Jawa dan belajar karawitan. Aktivitas ini menjaga regenerasi pelaku seni karena warga tetap punya alasan untuk berlatih dan mengajar.
Homestay warga dan etika tinggal bersama
Di Pentingsari, homestay adalah rumah warga yang dibuka untuk tamu. Konsep ini membuat interaksi tidak berhenti di jadwal kegiatan, karena justru pada malam hari, obrolan keluarga dan suasana kampung menjadi pengalaman yang paling otentik. Model homestay juga memastikan manfaat ekonomi menyebar, tidak terkonsentrasi di satu titik.

Pembagian peran yang membuat desa tetap rapi
Pengelolaan homestay membutuhkan kedisiplinan, dari kebersihan sampai standar layanan. Di banyak desa wisata, tantangan terbesarnya adalah konsistensi. Karena itu, Pentingsari mengandalkan koordinasi komunitas dan pembagian tugas, agar tamu mendapat pengalaman yang baik tanpa mengubah rumah menjadi hotel.
Tamu sebagai bagian dari keluarga, tapi tetap ada batas
Tinggal bersama warga menuntut etika. Menghormati jam istirahat, berpakaian sopan, menjaga volume suara, dan izin sebelum memotret adalah hal sederhana yang menentukan kenyamanan kedua pihak. Kuncinya, wisatawan hadir untuk belajar, bukan untuk “mengatur” cara hidup orang lain.
Tata kelola berbasis masyarakat dan prinsip adil
Desa wisata yang sehat bukan hanya ramai, tapi juga adil. Di Pentingsari, pengelolaan disebut berada di bawah koordinasi Kelompok Sadar Wisata, dengan upaya melibatkan warga dari perencanaan, pengelolaan, hingga evaluasi, agar manfaatnya bisa dirasakan bersama.
Kolaborasi dengan banyak pihak tanpa kehilangan kendali
Green Network Asia mencatat dukungan dan kerja sama Pentingsari berkembang dari pemerintah daerah hingga berbagai institusi lain seperti perguruan tinggi dan lembaga keuangan, termasuk dukungan pelatihan dan sarana. Kolaborasi semacam ini penting, namun tantangannya adalah menjaga agar keputusan utama tetap berpihak pada warga dan karakter desa tidak berubah menjadi proyek semata.
Tantangan pemerataan dan cara mengelolanya
Laporan yang sama juga menyinggung tantangan seperti potensi konflik pemerataan pendapatan dan risiko bencana, termasuk dampak pandemi. Artinya, keberlanjutan bukan hanya soal lingkungan, tetapi juga soal manajemen sosial, transparansi, dan kemampuan warga mengatur ritme kunjungan.
Berkelanjutan di wilayah rawan bencana
Berkelanjutan di lereng Merapi punya arti ganda: menjaga alam sekaligus siap dengan risiko. Jadesta menyebut wilayah Pentingsari berada di lereng Merapi yang rawan bencana. Dalam praktiknya, desa wisata harus punya kesiapan informasi, jalur komunikasi, dan sikap adaptif terhadap situasi alam yang bisa berubah.
Pariwisata yang tetap menghormati kelestarian alam
Menteri Pariwisata dalam pemberitaan ANTARA menyampaikan apresiasi karena pengembangan pariwisata di Pentingsari melibatkan masyarakat secara aktif, menjaga nilai budaya, dan merawat kelestarian alam. Pernyataan ini mempertegas bahwa yang dijaga Pentingsari bukan hanya pengalaman wisata, tetapi juga prinsip yang menjadi penyangga destinasi.
Mengelola kunjungan tanpa mengorbankan desa
Isu yang kerap muncul di desa wisata populer adalah tekanan kunjungan. Tantangan Pentingsari justru menjaga kualitas pengalaman, bukan mengejar sebanyak banyaknya orang. Ini terlihat dari model paket yang berbasis jadwal kegiatan dan pendampingan warga, sehingga desa tidak “jebol” oleh wisata massal.
Penghargaan dan pengakuan yang menguatkan reputasi
Penghargaan bukan tujuan utama, tetapi sering menjadi tanda bahwa sebuah praktik dinilai baik oleh pihak luar. Di Pentingsari, rekam jejak penghargaan cukup panjang, dari tingkat daerah hingga regional ASEAN.
Deret capaian dari Green Destinations sampai ASEAN
Jadesta mencantumkan Pentingsari pernah meraih Green Destination Award Top 100 pada September 2019, mendapat sertifikasi dan penghargaan desa wisata berkelanjutan pada 2020, lalu masuk kategori Desa Wisata Mandiri Inspiratif pada Anugerah Desa Wisata 2021. Pada Februari 2022, tercatat menerima ASEAN Sustainable Tourism Award, dan pada Februari 2023 meraih ASEAN Tourism Award kategori Community Base Tourism.
Pengakuan ASEAN Tourism Award 2025 dan sorotan nasional
Dalam pemberitaan ANTARA, disebut pada Januari 2025 Desa Pentingsari meraih Community Best Tourism dari ASEAN Tourism Award 2025. Rangkaian capaian ini menegaskan desa wisata di lereng Merapi tersebut tidak hanya bertahan, tetapi terus memperbarui kualitas pengelolaannya.
Aktivitas ekonomi warga yang ikut bergerak
Desa wisata yang berhasil biasanya terlihat dari tumbuhnya kegiatan ekonomi turunan, tanpa menghapus mata pencaharian lama. Pentingsari mengawinkan pertanian, homestay, kerajinan, dan jasa pemandu dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.
Kerajinan, batik, dan pengalaman yang bisa dibawa pulang
BCA dalam siaran persnya menyebut pengunjung bisa mengikuti kegiatan seperti lokakarya batik, membuat wayang suket, dan aktivitas bertani. Daftar aktivitas ini menggambarkan bahwa Pentingsari menempatkan budaya sebagai pengalaman, bukan hanya cendera mata.
Dampak pada lapangan kerja dan peluang pelatihan
Dalam pemberitaan ANTARA, disebutkan bahwa pengelolaan homestay, paket wisata edukatif, pelestarian seni tradisional, hingga inisiatif lingkungan menjadi ruang kontribusi masyarakat setempat. Pola ini membuat desa wisata menjadi mesin pemberdayaan, karena warga tidak sekadar menerima tamu, tetapi juga mengembangkan kemampuan layanan, manajemen, dan promosi.
Cara berkunjung dan panduan singkat untuk wisatawan
Berkunjung ke Pentingsari paling nyaman dilakukan dengan memilih paket, terutama untuk rombongan sekolah, komunitas, atau kantor, karena aktivitasnya dipandu dan alurnya jelas. Laman resmi Pentingsari juga menegaskan ketersediaan paket untuk rombongan, termasuk budaya, alam, edukasi, dan live in yang bisa disesuaikan kebutuhan.
Etika sederhana yang membuat pengalaman tetap berkelas
Ada beberapa kebiasaan kecil yang sebaiknya dijaga wisatawan saat datang: buang sampah pada tempatnya, hormati ruang privat rumah homestay, minta izin sebelum memotret warga, dan ikuti arahan pemandu terutama saat aktivitas sungai atau jelajah alam. Sikap seperti ini selaras dengan semangat desa yang menempatkan kelestarian dan budaya sebagai inti pengalaman, bukan pelengkap.
Pilih aktivitas yang sesuai usia dan tujuan rombongan
Untuk rombongan keluarga, jelajah desa, susur sungai ringan, dan belajar kesenian biasanya paling aman. Untuk rombongan pelajar, paket live in dengan kegiatan pertanian, kerajinan, dan diskusi budaya bisa memberi konteks yang lebih utuh. Sementara untuk komunitas dan korporasi, kegiatan kebersamaan seperti outbound desa dan kerja kelompok berbasis permainan tradisional sering menjadi opsi yang dicari, karena tetap berpijak pada identitas lokal.