Obat malaria tidak seharusnya diminum hanya berdasarkan dugaan. Pilihan obat ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan, jenis parasit, berat badan, usia, kehamilan, tingkat keparahan, lokasi penularan, serta riwayat pengobatan sebelumnya.
Malaria masih menjadi penyakit yang membutuhkan perhatian serius karena infeksinya dapat berkembang cepat, terutama pada anak kecil, ibu hamil, lansia, dan orang yang belum memiliki kekebalan terhadap malaria. Penyakit ini disebabkan oleh parasit Plasmodium yang umumnya masuk ke tubuh melalui gigitan nyamuk Anopheles betina.
Demam, menggigil, sakit kepala, berkeringat, nyeri otot, mual, dan tubuh lemas sering menjadi keluhan awal. Masalahnya, gejala tersebut juga dapat ditemukan pada demam berdarah, tifoid, influenza, infeksi saluran pernapasan, dan berbagai penyakit lainnya.
Artikel ini memberikan penjelasan umum dan bukan resep pribadi. Pasien dengan dugaan malaria tetap perlu diperiksa di puskesmas, klinik, atau rumah sakit agar memperoleh obat dan dosis yang sesuai.
Pengobatan Dimulai Setelah Diagnosis Dipastikan
Malaria tidak cukup didiagnosis hanya dari demam yang datang berulang. Tenaga kesehatan perlu memastikan keberadaan parasit melalui pemeriksaan mikroskopis atau tes diagnostik cepat.
Pemeriksaan tersebut membantu mengetahui apakah pasien benar mengalami malaria. Mikroskop juga dapat memberikan informasi mengenai jenis Plasmodium dan kepadatan parasit dalam darah.
Organisasi Kesehatan Dunia merekomendasikan agar dugaan malaria dikonfirmasi menggunakan mikroskop atau tes cepat sebelum obat antimalaria diberikan. Pengobatan berdasarkan gejala saja biasanya dipertimbangkan ketika pemeriksaan tidak dapat segera diakses dan kondisi pasien memerlukan tindakan cepat.
Langkah ini penting karena penggunaan obat yang tidak tepat dapat menunda diagnosis penyakit lain. Seseorang yang sebenarnya mengalami demam berdarah, misalnya, dapat kehilangan waktu berharga apabila hanya mengandalkan obat malaria yang dibeli sendiri.
Obat malaria yang paling baik bukan obat yang paling terkenal atau paling mahal, melainkan obat yang dipilih setelah jenis infeksi dan keadaan pasien diketahui dengan benar.
Tidak Ada Satu Obat untuk Semua Pasien
Pilihan pengobatan malaria bergantung pada beberapa hal. Dokter akan mempertimbangkan jenis parasit, apakah penyakit masih tanpa komplikasi, apakah pasien dapat menelan obat, serta kemungkinan resistensi obat di wilayah tempat infeksi diperoleh.
Plasmodium falciparum merupakan jenis yang paling sering dikaitkan dengan malaria berat dan kematian. Plasmodium vivax dapat menetap dalam bentuk tidak aktif di hati sehingga penyakit bisa muncul kembali setelah gejala awal mereda.
Plasmodium ovale juga dapat membentuk tahap tidak aktif di hati. Sementara itu, Plasmodium malariae dan Plasmodium knowlesi mempunyai karakter yang berbeda sehingga penanganannya perlu disesuaikan.
Inilah alasan obat malaria milik satu pasien tidak boleh diberikan kepada orang lain. Gejala yang terlihat sama belum tentu berasal dari jenis parasit atau tingkat keparahan yang sama.
Kombinasi Berbasis Artemisinin Menjadi Andalan
Terapi kombinasi berbasis artemisinin menjadi pengobatan utama untuk banyak kasus malaria tanpa komplikasi, terutama infeksi Plasmodium falciparum.
Artemisinin dan turunannya bekerja cepat mengurangi jumlah parasit dalam darah. Namun, obat tersebut dipadukan dengan obat pasangan yang bertahan lebih lama agar parasit yang tersisa dapat dibersihkan.
Penggunaan kombinasi juga membantu memperlambat terjadinya resistensi. Apabila satu zat digunakan sendirian, parasit yang bertahan dapat berkembang dan menjadi semakin sulit diobati.
Organisasi Kesehatan Dunia menempatkan terapi kombinasi berbasis artemisinin sebagai pengobatan paling efektif untuk malaria falciparum tanpa komplikasi. Penggunaan artemisinin oral tunggal tidak didukung karena dapat mendorong kemunculan dan penyebaran resistensi.
Pasien sebaiknya tidak membeli kapsul herbal, teh daun Artemisia, atau produk yang mengklaim mengandung artemisinin sebagai pengganti obat resmi. Kandungan zat aktifnya belum tentu terukur dan tidak dapat menjamin parasit dibersihkan sepenuhnya.
Dihidroartemisinin Piperakuin Banyak Digunakan di Indonesia
Salah satu kombinasi yang digunakan dalam tata laksana malaria di Indonesia adalah dihidroartemisinin piperakuin, yang sering disingkat DHP.
Dihidroartemisinin bekerja cepat terhadap parasit dalam darah. Piperakuin memiliki masa kerja lebih panjang dan membantu membersihkan parasit yang masih tersisa setelah komponen artemisinin mulai menurun.
Dalam pedoman nasional Indonesia yang tersedia, DHP digunakan selama tiga hari untuk malaria tanpa komplikasi. Penggunaannya dapat disertai primakuin dengan aturan yang berbeda sesuai jenis Plasmodium. Dosis ditentukan berdasarkan berat badan dan tidak sebaiknya dihitung sendiri dari perkiraan usia.
Obat antimalaria juga perlu diminum sesuai petunjuk mengenai makanan. Pedoman Indonesia menyebutkan obat tidak diberikan dalam keadaan perut kosong karena dapat menimbulkan iritasi lambung.
Apabila pasien muntah setelah meminum obat, jangan langsung mengulang seluruh dosis tanpa arahan. Keputusan pemberian ulang bergantung pada waktu muntah dan perkiraan jumlah obat yang telah diserap.
Primakuin Memiliki Tugas yang Berbeda
Primakuin bukan sekadar obat tambahan biasa. Perannya bergantung pada jenis malaria yang sedang ditangani.
Pada malaria falciparum, primakuin dapat diberikan untuk membantu membersihkan bentuk parasit yang berperan dalam penularan kepada nyamuk. Penggunaannya pada kondisi ini berbeda dari terapi malaria vivax.
Pada malaria vivax dan ovale, primakuin digunakan untuk membasmi bentuk parasit yang dapat berdiam di hati. Tahap tersebut disebut hipnozoit dan dapat menyebabkan penyakit kambuh beberapa minggu atau beberapa bulan kemudian.
Karena itu, pasien malaria vivax dapat merasa sudah sembuh setelah demam berhenti, tetapi tetap memerlukan obat untuk membersihkan parasit yang bersembunyi di hati.
Pedoman nasional Indonesia mencantumkan primakuin selama satu hari untuk malaria falciparum dan selama empat belas hari untuk malaria vivax. Lama penggunaan tersebut tidak boleh dipersingkat hanya karena pasien sudah merasa lebih sehat.
Pemeriksaan G6PD Penting Sebelum Primakuin
Primakuin dapat memicu penghancuran sel darah merah pada orang dengan kekurangan enzim glukosa 6 fosfat dehidrogenase atau G6PD.
Kondisi kekurangan G6PD sering tidak menimbulkan keluhan sampai seseorang terpapar obat, makanan, atau bahan tertentu. Karena itu, pasien dapat merasa sehat sebelum mengalami reaksi setelah meminum primakuin.
Pemeriksaan aktivitas G6PD membantu dokter menilai keamanan pemberian obat. Tes tersebut sangat penting apabila primakuin akan digunakan dalam beberapa hari untuk mencegah kekambuhan malaria vivax atau ovale.
Tanda yang perlu diwaspadai setelah meminum primakuin antara lain urine menjadi cokelat gelap atau hitam, kulit terlihat pucat, mata menguning, sesak, lemah berat, dan jantung berdebar. Obat harus dihentikan dan pasien perlu segera diperiksa apabila keluhan tersebut muncul.
Pedoman Indonesia menekankan pemantauan warna urine pada bayi dan anak yang menerima primakuin. Risiko serta manfaatnya perlu dipertimbangkan secara khusus apabila status G6PD belum diketahui.
Malaria Berat Membutuhkan Obat Suntik di Rumah Sakit
Malaria berat merupakan keadaan gawat darurat. Pasien tidak cukup hanya diberi tablet penurun demam atau obat malaria yang tersedia di rumah.
Tanda malaria berat dapat berupa penurunan kesadaran, kejang, kesulitan bernapas, kelemahan sampai tidak mampu duduk, anemia berat, gangguan ginjal, gula darah sangat rendah, perdarahan, syok, atau jumlah parasit yang sangat tinggi.
Pasien yang tidak sadar, terus muntah, atau mengalami gangguan organ tidak mampu menerima terapi oral dengan aman. Pengobatan harus diberikan melalui suntikan sambil komplikasi ditangani.
Artesunat melalui pembuluh darah menjadi pilihan utama untuk malaria berat. Setelah keadaan membaik dan pasien mampu menelan, pengobatan dilanjutkan menggunakan kombinasi antimalaria oral secara lengkap.
Kecepatan penanganan sangat menentukan. Malaria berat dapat memburuk dalam hitungan jam sehingga pasien perlu segera dibawa ke rumah sakit, bukan menunggu demam turun dengan obat rumahan.
Kina Masih Digunakan pada Keadaan Tertentu
Kina merupakan salah satu obat malaria yang telah digunakan sejak lama. Sebelum terapi berbasis artemisinin tersedia luas, kina menjadi bagian utama dalam penanganan malaria.
Saat ini, kina bukan pilihan pertama untuk sebagian besar malaria tanpa komplikasi di Indonesia. Obat ini lebih sering dipertimbangkan sebagai pilihan berikutnya pada keadaan tertentu atau ketika terapi utama tidak dapat digunakan.
Kina dapat menimbulkan keluhan yang dikenal sebagai sinkonisme. Gejalanya meliputi telinga berdenging, sakit kepala, mual, gangguan pendengaran, pusing, dan penglihatan kabur.
Obat tersebut juga dapat menyebabkan penurunan gula darah, terutama pada malaria berat dan kehamilan. Pemberian melalui infus membutuhkan pengawasan ketat karena kecepatan infus yang terlalu tinggi dapat berbahaya.
Pasien tidak dianjurkan menggunakan kina tanpa resep hanya karena pernah mendapatkannya pada penyakit sebelumnya. Kombinasi dan lama pengobatan perlu ditentukan oleh tenaga kesehatan.
Klorokuin Tidak Lagi Cocok untuk Banyak Wilayah
Klorokuin pernah menjadi obat malaria yang sangat populer karena efektif, murah, dan mudah diberikan. Namun, penggunaan luas dalam waktu lama menyebabkan banyak parasit mengembangkan resistensi.
Resistensi berarti parasit tidak lagi dapat dibersihkan secara memadai oleh dosis obat yang sebelumnya efektif. Pasien dapat tetap sakit atau kembali mengalami parasitemia setelah pengobatan.
Di Indonesia, resistensi Plasmodium falciparum terhadap klorokuin telah diketahui sejak lama. Plasmodium vivax yang berasal dari Indonesia juga dikenal memiliki tingkat resistensi klorokuin yang tinggi sehingga pemilihan obat harus mengikuti pedoman setempat.
Klorokuin masih dapat digunakan di wilayah tertentu apabila parasit terbukti sensitif. Namun, informasi tersebut harus ditentukan berdasarkan lokasi penularan dan kebijakan kesehatan, bukan dari pengalaman pribadi.
Obat Malaria bagi Ibu Hamil Perlu Pengawasan Khusus
Malaria pada kehamilan dapat membahayakan ibu maupun janin. Risiko yang dapat terjadi mencakup anemia, malaria berat, keguguran, kelahiran prematur, dan berat badan lahir rendah.
Pemilihan obat pada ibu hamil tidak boleh disamakan dengan orang dewasa lain. Dokter akan mempertimbangkan usia kehamilan, jenis parasit, beratnya penyakit, dan profil keamanan obat.
Pedoman nasional Indonesia mencantumkan penggunaan DHP untuk malaria tanpa komplikasi pada seluruh usia kehamilan. Untuk malaria berat, artesunat suntik dapat diberikan karena ancaman penyakit jauh lebih besar daripada risiko pengobatan.
Primakuin umumnya tidak diberikan selama kehamilan karena status G6PD janin tidak dapat dipastikan. Terapi untuk mencegah kekambuhan malaria vivax biasanya dinilai kembali setelah persalinan.
Ibu hamil yang mengalami demam setelah tinggal atau bepergian dari daerah malaria perlu segera menjalani pemeriksaan. Menunggu gejala memburuk dapat meningkatkan risiko komplikasi.
Dosis Anak Harus Mengikuti Berat Badan
Anak tidak boleh menerima pecahan obat dewasa berdasarkan perkiraan orang tua. Banyak obat malaria dihitung menggunakan berat badan sehingga penimbangan menjadi bagian penting sebelum terapi dimulai.
Dua anak berusia sama dapat membutuhkan dosis berbeda apabila berat badannya tidak sama. Konsentrasi tablet atau sediaan obat juga dapat berbeda sehingga jumlah tablet tidak dapat disamakan antarproduk.
Orang tua harus memberikan obat sesuai jadwal sampai selesai. Apabila anak terus memuntahkan obat, sulit menelan, kejang, sangat mengantuk, atau tidak mau minum, ia perlu segera dibawa ke fasilitas kesehatan.
Bayi dan anak kecil lebih mudah mengalami hipoglikemia, anemia, kejang, dan penurunan kondisi secara cepat. Demam pada anak yang baru kembali dari wilayah endemis malaria tidak sebaiknya ditangani hanya dengan obat penurun panas.
Efek Samping Tidak Selalu Berarti Obat Harus Dihentikan
Obat antimalaria dapat menimbulkan mual, pusing, sakit perut, kehilangan selera makan, atau rasa lemas. Sebagian keluhan juga dapat berasal dari penyakit malarianya sendiri.
Pasien tidak sebaiknya langsung menghentikan pengobatan setiap kali merasa tidak nyaman. Penghentian terlalu cepat dapat membuat parasit tidak dibersihkan dan meningkatkan risiko penyakit kembali.
Hubungi tenaga kesehatan apabila efek samping mengganggu atau membuat obat tidak dapat diminum. Dokter dapat menilai apakah keluhan masih dapat dipantau, membutuhkan obat tambahan, atau mengharuskan pergantian regimen.
Pertolongan segera dibutuhkan apabila muncul sesak, pembengkakan pada wajah, pingsan, kejang, ruam luas, urine gelap, mata menguning, jantung berdebar hebat, atau penurunan kesadaran.
Obat Harus Dihabiskan Meski Demam Sudah Turun
Gejala malaria dapat membaik sebelum seluruh parasit hilang dari tubuh. Penurunan demam pada hari pertama atau kedua bukan alasan untuk menghentikan obat.
Komponen artemisinin bekerja cepat sehingga pasien sering merasa lebih baik dalam waktu singkat. Obat pasangannya tetap diperlukan untuk membersihkan parasit yang tersisa.
Pada malaria vivax, kepatuhan terhadap primakuin sangat menentukan keberhasilan pencegahan kekambuhan. Melewatkan banyak dosis dapat membuat tahap parasit di hati tetap bertahan.
Buat catatan waktu minum obat agar tidak ada dosis yang terlupakan atau diberikan dua kali. Obat sebaiknya disimpan dalam kemasan asli dan dijauhkan dari jangkauan anak.
Demam yang Kembali Perlu Diperiksa Lagi
Demam yang tidak mereda atau kembali setelah pengobatan tidak selalu berarti obatnya palsu. Ada beberapa kemungkinan yang harus dinilai melalui pemeriksaan.
Pasien mungkin tidak menyerap obat karena muntah, tidak menyelesaikan terapi, menerima dosis yang kurang, atau mengalami infeksi lain bersamaan. Kekambuhan malaria vivax juga dapat terjadi akibat parasit yang menetap di hati.
Kemungkinan lain adalah infeksi baru setelah digigit nyamuk kembali. Di wilayah endemis, pasien yang baru selesai berobat tetap dapat tertular lagi apabila tidak melindungi diri dari gigitan nyamuk.
Resistensi obat juga perlu dipertimbangkan ketika parasit tetap ditemukan setelah pengobatan yang benar. Karena itu, pedoman Indonesia menganjurkan pemantauan setelah terapi pada waktu tertentu untuk melihat respons klinis dan parasitologis.
Obat Pencegahan Berbeda dari Obat Pengobatan
Seseorang yang akan bepergian ke daerah endemis dapat memerlukan obat pencegahan atau kemoprofilaksis. Pilihan obatnya bergantung pada lokasi tujuan, lama tinggal, kondisi medis, usia, kehamilan, dan pola resistensi setempat.
Jenis yang dapat dipertimbangkan dalam pedoman perjalanan internasional antara lain atovakuon proguanil, doksisiklin, meflokuin, klorokuin, atau primakuin pada keadaan tertentu. Setiap obat mempunyai waktu mulai, lama penggunaan setelah meninggalkan daerah, serta larangan yang berbeda.
Obat pencegahan tidak memberi perlindungan mutlak. Pelancong tetap perlu tidur menggunakan kelambu, memakai pakaian tertutup pada malam hari, menggunakan penolak nyamuk, dan mengurangi paparan gigitan.
Demam yang muncul selama perjalanan atau beberapa bulan setelah pulang harus disampaikan kepada dokter bersama riwayat lokasi perjalanan. Informasi ini dapat mempercepat pemeriksaan malaria.
Tanda Bahaya Tidak Boleh Menunggu Jadwal Obat Berikutnya
Pasien perlu segera dibawa ke rumah sakit apabila mengalami penurunan kesadaran, kejang, sesak, napas sangat cepat, muntah terus menerus, tidak mampu minum, perdarahan, kulit dan mata menguning, urine sangat sedikit, atau tubuh terasa sangat lemah.
Pertolongan cepat juga diperlukan pada bayi, ibu hamil, lansia, serta pasien dengan penyakit ginjal, hati, jantung, atau gangguan kekebalan tubuh.
Obat penurun demam dapat membuat suhu turun untuk sementara, tetapi tidak membunuh parasit malaria. Mengandalkan parasetamol tanpa pemeriksaan dapat menutupi perkembangan penyakit.
Bawa semua obat yang telah diminum ketika pergi ke fasilitas kesehatan. Tenaga medis perlu mengetahui nama obat, dosis, waktu pemberian terakhir, riwayat alergi, lokasi perjalanan, serta apakah pasien sempat muntah setelah minum obat.