Liburan yang mestinya jadi momen rehat justru berubah jadi situasi darurat. Kebakaran dilaporkan melanda area lobi sebuah resort di Sumba, Nusa Tenggara Timur, saat Reza Oktovian alias Reza Arap sedang berada di lokasi. Di tengah kepanikan, Reza memastikan dirinya aman, sempat mengunggah video kobaran api, lalu meluapkan kekesalan karena ada tamu yang meminta foto ketika proses evakuasi masih berlangsung.
Kebakaran Melanda Kambaniru Beach Hotel and Resort di Sumba Timur
Peristiwa kebakaran terjadi pada Senin, 5 Januari 2026, sekitar pukul 11.20 WITA. Api dilaporkan melalap bagian atap lobi utama Kambaniru Beach Hotel and Resort yang berlokasi di Kelurahan Kambaniru, Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur. Rekaman video amatir yang beredar di media sosial memperlihatkan nyala api di area pintu masuk utama.
Dalam laporan awal, kebakaran disebut berhasil dilokalisir sehingga tidak merambat ke area lain yang lebih krusial, terutama area restoran dan bangunan hunian tamu. Informasi ini penting karena menunjukkan penanganan cepat di fase awal, saat api masih berpotensi melebar mengikuti arah angin dan material bangunan yang mudah terbakar.
Bagian yang Terbakar: Atap Lobi Utama, Material Mudah Menyambar
Fokus kebakaran berada di atap lobi utama. Sejumlah laporan lokal menyebut atap lobi menggunakan material alang alang, sementara sebagian perabot di area lobi juga sempat ikut terbakar setelah bara jatuh ke dalam ruangan. Kombinasi material atap dan perabot berbahan kayu membuat api cepat “makan” area permukaan, meski akhirnya dapat dikendalikan sebelum menjalar lebih jauh.
Kondisi seperti ini lazim terjadi pada bangunan akomodasi di kawasan tropis yang mengusung konsep arsitektur bernuansa lokal. Secara visual memang memikat, tetapi pada situasi darurat, material organik seperti alang alang punya risiko menyulut lebih cepat bila ada sumber panas atau percikan.
Dugaan Awal Penyebab Kebakaran Masih Didalami
Soal penyebab, beberapa sumber menyebut dugaan awal mengarah pada korsleting listrik di bagian plafon lobi. Api diduga membesar setelah menyambar atap berbahan alang alang. Di saat yang sama, ada juga keterangan yang menyebut kemungkinan lain masih diperiksa, sehingga kesimpulan final belum dapat dipastikan sebelum penyelidikan selesai.
Pihak kepolisian setempat juga menegaskan bahwa penyebab kebakaran masih dalam tahap penyelidikan. Artinya, publik perlu menunggu hasil pemeriksaan teknis, termasuk pengecekan instalasi listrik, titik awal api, dan kondisi ruang plafon yang rawan menjadi area terselubung ketika panas mulai menumpuk.
Respons Cepat Aparat: Water Canon Dikerahkan untuk Melokalisir Api
Begitu laporan masuk, Polres Sumba Timur merespons dengan mengerahkan satu unit mobil water canon ke lokasi. Upaya ini disebut membantu pemadaman awal agar api tidak merambat ke bangunan lain di kompleks hotel. Pada peristiwa di area penginapan, kecepatan respons sering menjadi faktor pembeda antara kebakaran yang terlokalisir dengan kebakaran besar yang menghanguskan banyak unit.

Hasilnya, kebakaran dilaporkan hanya menghanguskan bagian atap lobi utama. Area restoran serta bangunan hunian tamu disebut aman dari rambatan api, sehingga aktivitas akomodasi tidak lumpuh total.
Keterangan Kapolres: Fokus Utama Menahan Api agar Tidak Menjalar
Dalam salah satu laporan, Kapolres Sumba Timur AKBP Gede Harimbawa menyampaikan bahwa water canon dikerahkan agar api tidak meluas dan fokus utama adalah melindungi bangunan lain di sekitar lobi. Dari kacamata penanganan bencana, strategi ini masuk akal karena lobi umumnya berada di area penghubung, bila api melebar ke koridor atau area servis, dampaknya bisa merembet ke banyak bagian.
Laporan lain menyebut ada kondisi tambahan yang sempat menambah risiko, yakni percikan api yang terbawa angin dan sempat menyambar pohon di sekitar lokasi. Situasi seperti ini membuat petugas perlu melakukan penyemprotan tidak hanya ke titik api utama, tetapi juga ke area sekitar yang berpotensi menjadi “titik baru”.
Evakuasi Tamu: Kepanikan Terlihat, Namun Tidak Dilaporkan Korban Jiwa
Di media sosial, suasana panik tampak jelas dari video yang beredar. Namun sejumlah laporan menyebut tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini, sementara kerugian material masih dihitung oleh pihak pengelola bersama aparat terkait. Ini kabar yang paling penting, karena pada kebakaran di fasilitas publik, keselamatan tamu dan pekerja selalu menjadi prioritas pertama.
Pada saat yang sama, Reza Arap yang berada di lokasi juga memastikan dirinya dan rombongan dalam kondisi aman. Kepastian dari saksi mata yang punya akses langsung ke lokasi memberi gambaran bahwa jalur evakuasi berjalan, meski diiringi kepanikan.
Reza Arap Unggah Situasi Kebakaran: Memastikan Diri Selamat
Nama Reza Arap ikut menjadi sorotan karena ia mengabarkan kejadian itu langsung melalui akun X. Dalam unggahan yang dikutip sejumlah media, ia mengatakan resort tempatnya menginap di Sumba sedang terbakar, tetapi semuanya baik baik saja. Pernyataan singkat semacam ini biasanya ditujukan untuk meredakan kekhawatiran pengikutnya, terutama saat potongan video kebakaran sudah telanjur menyebar.
Media juga menuliskan Reza berada di lokasi yang lebih aman setelah sempat mengalami situasi mencekam akibat api dan suara ledakan di area penginapan. Ini menegaskan bahwa setelah fase awal, pihak di lokasi mengupayakan pemindahan orang ke titik aman, bukan sekadar bertahan di sekitar bangunan.
Kalimat yang Ramai Dikutip: “Everything’s Good Too”
Dalam laporan iNews, Reza Arap menyampaikan pernyataan berbahasa Inggris di X, lalu menegaskan kondisi dirinya dan rekan rekan baik baik saja. Bahkan disebut pula bahwa beberapa rekan Weird Genius yang bersamanya, termasuk Eka Gustiwana, berada dalam keadaan aman dan tidak mengalami luka.
Bagi publik, kalimat seperti ini sering menjadi “penanda” bahwa situasi, meski genting, masih terkendali pada aspek keselamatan orang. Pada liputan kejadian darurat, pembaca biasanya mencari dua hal lebih dulu: apakah ada korban, dan apakah api sudah merembet.
Video Kobaran Api dan Suara Letupan: Reza Terdengar Istighfar
Yang membuat situasi terasa makin mencekam adalah adanya suara letupan yang terekam dalam video. Dalam pemberitaan iNews, Reza terdengar berulang kali menyebut “ledakan” dan beristighfar. Detail seperti ini memperlihatkan bahwa kebakaran tidak hanya berupa nyala api, tetapi juga disertai bunyi letupan yang bisa berasal dari material tertentu atau instalasi yang terbakar.
Dari sisi psikologis, suara letupan saat kebakaran biasanya mempercepat kepanikan karena orang sulit menebak apakah bangunan akan runtuh, apakah ada bahan mudah meledak, atau apakah api sudah masuk ke ruang tertentu. Karena itu, keputusan cepat untuk berpindah ke area aman menjadi langkah paling rasional.
Momen yang Bikin Reza Arap Emosi: Diminta Foto Saat Evakuasi
Di tengah proses evakuasi, Reza Arap mengaku mengalami kejadian yang memancing emosinya. Sejumlah media menulis, ketika semua orang masih berusaha keluar sambil menyeret koper di lorong, ada seorang tamu yang justru meminta foto. Reza menolak karena situasi darurat, tetapi permintaan itu tetap menjadi drama kecil yang menyita perhatian publik setelah ia membeberkannya.
Cerita ini cepat viral karena terasa absurd, namun juga dekat dengan realitas dunia hiburan: figur publik sering dianggap “selalu siap” melayani interaksi, bahkan ketika kondisinya tidak memungkinkan. Dalam konteks evakuasi kebakaran, permintaan seperti itu jelas mengganggu, bukan hanya untuk Reza, tetapi juga untuk arus keluar masuk orang di lorong.
“Lagi Begini, Kak”: Penolakan yang Tegas namun Kontekstual
Menurut pemberitaan, Reza menolak dengan kalimat yang intinya meminta pengertian karena kondisi sedang genting. Ia menegaskan momen tersebut bukan situasi yang tepat untuk berfoto, apalagi saat orang lain juga berusaha menyelamatkan diri dan barang seperlunya.
Respons penolakan ini kemudian memicu cerita lanjutan, karena orang yang meminta foto disebut memberi respons tidak menyenangkan, sampai muncul kata kata yang membuat Reza makin kesal. Peristiwa kecil ini akhirnya menempel pada berita kebakaran itu sendiri, membuat isu keselamatan bercampur dengan isu etika penggemar.
Kenapa Permintaan Foto Bisa Mengganggu Evakuasi
Dalam situasi evakuasi, yang paling dibutuhkan adalah alur gerak yang lancar, komunikasi singkat, dan fokus pada keselamatan. Meminta foto berarti menghentikan langkah, mengatur posisi, bahkan bisa membuat orang lain ikut berhenti karena penasaran. Pada lorong sempit, satu hambatan kecil saja bisa menciptakan penumpukan orang, dan penumpukan ini berbahaya bila asap mulai menyusup.
Karena itu, wajar bila Reza merespons dengan ketus, meski secara umum ia dikenal sering menanggapi penggemar dengan gaya santai. Dalam keadaan darurat, standar kesabaran manusia berubah, yang tersisa hanya naluri bertahan dan memastikan orang terdekat aman.
Reaksi Warganet: Simpati untuk Reza, Teguran untuk “Minta Foto”
Unggahan Reza memantik reaksi warganet. Sejumlah komentar yang dikutip media memperlihatkan banyak orang kesal pada tamu yang meminta foto, karena dianggap mengutamakan kepentingan pribadi di atas keselamatan. Di ruang publik digital, warganet sering menyatukan dua emosi sekaligus: lega karena tidak ada kabar korban dari pihak figur publik, dan marah karena ada perilaku yang dianggap tidak peka.

Perdebatan juga muncul soal batasan wajar antara penggemar dan figur publik. Ada yang menilai meminta foto itu “refleks” karena bertemu idolanya, tetapi mayoritas menggarisbawahi satu hal: konteks darurat tidak bisa disamakan dengan suasana normal di lobi hotel atau bandara.
Pelajaran Etika Sederhana: Keselamatan Dulu, Interaksi Belakangan
Kisah ini pada akhirnya menonjolkan pelajaran etika yang sederhana, namun sering dilupakan. Dalam keadaan darurat, semua orang punya posisi yang sama: sama sama ingin selamat. Siapa pun yang menghambat evakuasi, walau tanpa niat buruk, berpotensi menambah risiko bagi orang lain.
Dan untuk figur publik, momen seperti ini juga memperlihatkan sisi manusiawi yang jarang muncul di panggung. Mereka bisa takut, panik, dan muak, sama seperti orang lain ketika alarm bahaya berbunyi dan api sudah terlihat dengan mata kepala sendiri.
Kondisi Terkini Hotel: Kerugian Material dan Perbaikan Area Lobi
Dari sisi kerusakan, beberapa laporan menyebut kerugian material ditaksir sekitar Rp100 juta. Sumber yang sama menyebut tidak ada korban jiwa, dan kebakaran hanya berdampak pada sebagian atap serta area lobi.
Di laporan lain, manajemen disebut memperkirakan perbaikan area yang terdampak akan berlangsung sekitar satu pekan sampai sepuluh hari. Perkiraan ini memberi gambaran bahwa kerusakan bersifat spesifik di satu titik, bukan kerusakan menyeluruh yang memerlukan renovasi total.
Lobi Terbakar, tetapi Area Tamu Disebut Tidak Terdampak
Informasi paling menenangkan bagi tamu adalah pernyataan bahwa kebakaran tidak menjalar ke bangunan hunian tamu maupun area restoran. Ini berarti sistem pemisahan area dan tindakan pemadaman awal cukup efektif menahan rambatan, sehingga tamu tidak harus menghadapi skenario terburuk seperti kehilangan akses kamar atau terjebak di area penginapan.
Meski demikian, pengalaman berada di lokasi kebakaran tentu tidak bisa dianggap ringan. Bahkan jika kamar selamat, suasana darurat, bau asap, dan proses pengamanan lokasi biasanya membuat tamu memilih pindah sementara atau menunggu situasi benar benar stabil.
Laporan Operasional: Hotel Disebut Tetap Melayani Tamu dengan Area Sementara
Ada pula laporan yang menyebut hotel tetap beroperasi dan layanan tamu tidak berhenti, dengan menyiapkan area resepsionis pengganti sementara menunggu perbaikan lobi selesai. Dalam laporan itu, General Manager hotel disebut menjelaskan penyesuaian layanan agar aktivitas tamu tidak terganggu.
Informasi ini memperlihatkan pola umum di industri akomodasi: selama area inti seperti kamar, dapur, dan utilitas utama aman, manajemen biasanya berusaha menjaga layanan tetap berjalan, walau dengan penataan ulang alur tamu di bagian depan.