Pertemuan di Tanah Suci selalu punya cerita sendiri. Bukan hanya soal lantunan doa dan padatnya jamaah, tapi juga momen kecil yang menyimpan makna besar. Salah satunya adalah ketika KH Muhammad Najih Maimoen atau yang akrab disapa Gus Najih bertemu Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti di Makkah, lalu menyerahkan hadiah spesial berupa kaligrafi berisi penggalan ayat 11 Surat Ad Dhuha.
Momen ini bukan sekadar serah terima bingkai kaligrafi. Di baliknya ada doa, pesan keumatan, dan harapan agar pemimpin negara selalu diingatkan untuk bersyukur dan dekat dengan rakyat.
Pertemuan di Makkah Saat Haji 1443 Hijriah
Pertemuan tersebut terjadi di Makkah pada Rabu siang, 13 Juli 2022 waktu setempat, di sela rangkaian ibadah Haji 1443 Hijriah. Keduanya sama sama tengah menjalani ibadah di Tanah Suci, sehingga suasananya memang kental dengan nuansa spiritual.
Bukan pertemuan formal seperti di gedung parlemen atau kantor lembaga negara, tapi suasana santai di kota suci yang menjadi titik temu jutaan Muslim dari seluruh dunia. Justru karena itulah kesan pertemuan ini terasa lebih hangat dan personal.
Suasana Siang di Sekitar Tanah Suci
Siang hari di Makkah biasanya terasa terik, tetapi bagi para jamaah, suasana seperti itu menjadi bagian dari kenangan ibadah. Di tengah suasana padat, pertemuan Gus Najih dan LaNyalla berlangsung dengan nuansa penuh penghormatan. LaNyalla yang datang sebagai pejabat negara bertemu dengan sosok kiai yang dikenal luas di kalangan santri, terutama dari lingkungan Nahdlatul Ulama.
Keduanya menyapa satu sama lain dengan hangat. Tidak ada jarak kaku antara pejabat tinggi negara dengan ulama. Justru aura yang tampak adalah pertemanan dan penghormatan timbal balik. Satu pihak membawa amanah politik, pihak lain membawa otoritas keilmuan agama dan doa.
Di momen seperti ini, batas antara urusan dunia dan akhirat seakan menyatu. Pembahasan tentang bangsa, negara, dan masa depan Indonesia bercampur dengan zikir, doa, dan nasihat keagamaan.
Obrolan Hangat Gus Najih dan LaNyalla
Dalam pertemuan itu, Gus Najih tidak hanya menyerahkan bingkai kaligrafi lalu selesai. Ia juga menyampaikan doa khusus agar segala hajat LaNyalla yang diikhtiarkan untuk kebaikan bangsa dipermudah dan dikabulkan.
LaNyalla menyampaikan rasa terima kasih dan mengaku bersyukur bisa bertemu langsung dengan putra kedua almarhum KH Maimoen Zubair di Tanah Suci. Ia menyadari bahwa doa ulama, terlebih lagi di Makkah, punya posisi istimewa di hati umat. Ia menyebut doa orang alim di tanah suci sebagai doa yang diharapkan mustajab.
Obrolan mereka tidak hanya berhenti di tanya kabar. Ada nasihat, ada candaan ringan, dan ada juga cerita singkat tentang kondisi bangsa. Cara Gus Najih menyampaikan pesan pun tetap tenang, pelan, dan tidak menggurui, persis seperti gaya kiai pesantren yang sudah terbiasa menghadapi banyak tipe santri.
Kaligrafi Ayat 11 Surat Ad Dhuha yang Penuh Pesan
Hadiah yang diberikan Gus Najih kepada Ketua DPD RI bukan sembarang bingkai. Di dalamnya tertera kaligrafi penggalan Ayat 11 Surat Ad Dhuha. Ayat ini kurang lebih berisi perintah agar manusia selalu menyebut, mengingat, dan mensyukuri nikmat nikmat Allah.
Kaligrafi itu terlihat sederhana, tetapi isi ayat di dalamnya menyimpan pesan dalam. Kalimat yang tertulis seakan menjadi pengingat terus menerus bagi siapa pun yang melihatnya, terutama bagi seorang pejabat publik yang memegang kebijakan strategis negara.
Kenapa Ayat Ini yang Dipilih
Menurut penjelasan yang disampaikan, Gus Najih sengaja memilih ayat tersebut karena mengetahui bahwa LaNyalla dikenal istiqomah mengerjakan sholat dhuha.
Sholat dhuha sering disebut sebagai salah satu bentuk syukur dan permohonan kelapangan rezeki. Maka, pemberian kaligrafi yang berisi ayat dari Surat Ad Dhuha terasa sangat pas, seolah menjadi kelanjutan dari amalan yang sudah ditekuni.
Ayat 11 Surat Ad Dhuha bisa dimaknai sebagai perintah agar seseorang tidak melupakan nikmat nikmat yang sudah ia terima. Bukan untuk dipamerkan, tetapi untuk disyukuri dan dijadikan energi agar semakin bermanfaat bagi orang lain. Pesan seperti ini menjadi sangat relevan untuk seorang pejabat negara yang tiap hari berhadapan dengan amanah besar dan ujian kekuasaan.
Tafsir Singkat Ayat 11 Ad Dhuha dalam Obrolan
Dalam sejumlah literatur tafsir, ayat tersebut dijelaskan sebagai perintah kepada Nabi Muhammad agar memperbanyak pemberian kepada fakir miskin dan menyebut serta mengingat nikmat Allah.
Ketika ayat ini diangkat dalam bentuk kaligrafi dan diberikan kepada Ketua DPD RI, seakan ada pesan tambahan yang tidak diucapkan secara eksplisit. Pesan itu kira kira berbunyi, jangan lupa bahwa kekuasaan, jabatan, dan kedudukan adalah nikmat yang harus disyukuri dengan cara melayani rakyat, terutama yang lemah dan tidak bersuara.
Kaligrafi itu akhirnya bukan sekadar dekorasi, tetapi pengingat sunyi yang setiap hari bisa dilihat di ruangan kerja, dan mengajak pemiliknya berkaca, sudah seberapa jauh nikmat itu dipakai untuk kebaikan bersama.
Doa dan Harapan untuk Negeri dari Tanah Suci
Momen pertemuan itu juga diwarnai dengan doa khusus dari Gus Najih agar segala ikhtiar Ketua DPD RI dalam memperbaiki bangsa berjalan lancar dan mendapat ridha Allah.
Doa seperti ini terdengar sederhana, tetapi kalau diucapkan di Makkah, saat musim haji, dan oleh seorang ulama yang punya rekam jejak keilmuan, rasanya benar benar punya bobot tersendiri.
Gus Najih Titip Pesan tentang Syukur dan Kepedulian
Dalam penjelasan yang dikutip, Gus Najih menyinggung soal tafsir ayat yang ia tuliskan dalam kaligrafi. Tafsirnya mendorong manusia untuk memperbanyak pemberian dan mensyukuri nikmat Allah, bukan dengan ucapan saja, tetapi juga dengan tindakan nyata.
Syukur dalam konteks pemimpin negara bukan hanya mengucap alhamdulillah di depan kamera, melainkan memastikan kebijakan yang diambil benar benar berpihak pada rakyat. Terutama mereka yang selama ini belum tersentuh program pembangunan.
Pesan seperti ini kalau keluar dari lisan ulama, terdengar halus tetapi cukup menohok. Tidak ada kalimat menggurui, tetapi arah nasihatnya jelas.
Tanggapan LaNyalla Soal Amanah Memperbaiki Bangsa
LaNyalla menanggapi doa dan hadiah itu dengan rasa syukur. Ia menyampaikan rasa terima kasih dan meyakini bahwa doa seorang alim di Tanah Suci punya posisi istimewa.
Sebagai Ketua DPD RI, LaNyalla memang beberapa kali tampil dengan narasi perlunya memperbaiki sistem dan arah kebangsaan. Di berbagai kesempatan, ia vokal menyoroti isu keadilan sosial, penguatan daerah, dan peran konstitusi. Dalam konteks ini, doa dari seorang kiai seperti tambahan energi moral yang mengingatkan bahwa perjuangan politik sebaiknya tetap disandarkan pada nilai nilai keimanan.
Pertemuan di Makkah menjadi semacam titik temu antara idealisme politik dan etika keagamaan. Seolah ada pesan tidak tertulis, bahwa politik yang diberkahi adalah politik yang tidak jauh dari doa para ulama.
Kedekatan LaNyalla dengan Ulama dan Kiai
LaNyalla selama ini dikenal cukup dekat dengan kalangan ulama dan kiai, terutama di Jawa Timur dan lingkungan pesantren. Di banyak kegiatan, ia kerap hadir di acara keagamaan, pengajian, maupun pertemuan dengan para pengasuh pondok pesantren.
Kedekatan ini bukan hal yang tiba tiba muncul saat ia menjabat Ketua DPD RI. Jauh sebelumnya, namanya sudah cukup familier di kalangan tokoh tokoh nahdliyin.
Sering Hadir di Majelis dan Pesantren
Jejak pergaulan LaNyalla dengan ulama bisa dilihat dari banyak dokumentasi kunjungan ke pesantren, majelis zikir, dan acara keagamaan di berbagai daerah. Ia kerap duduk berdampingan dengan kiai, mendengar nasihat, dan mengikuti rangkaian acara keagamaan dengan tenang.
Gaya seperti ini beda dengan pendekatan pejabat yang hanya datang ketika momen kampanye. Kedatangannya ke pesantren sering diwarnai dialog ringan, saling bertanya kabar santri, sampai membahas persoalan sosial yang dihadapi masyarakat sekitar.
Bagi banyak tokoh agama, pejabat yang mau mendengar dan tidak buru buru pulang setelah sambutan akan mendapat tempat tersendiri di hati mereka. Di situlah kedekatan emosional itu pelan pelan terbentuk.
Simbol Jembatan antara Negara dan Pesantren
Pertemuan LaNyalla dengan Gus Najih di Makkah bisa dibaca sebagai simbol jembatan antara negara dan pesantren. Di satu sisi, Gus Najih adalah representasi kuat dari tradisi keilmuan pesantren yang bersambung kepada tokoh besar seperti KH Maimoen Zubair. Di sisi lain, LaNyalla adalah simbol lembaga negara yang punya fungsi representasi daerah dan rakyat.
Ketika keduanya bertemu di Tanah Suci, seolah ada pertemuan dua arus besar. Arus agama yang kuat di akar rumput dan arus politik kenegaraan yang bergerak di jalur formal. Hadiah kaligrafi menjadi tanda bahwa pesantren tidak hanya mengandalkan ceramah, tetapi juga simbol simbol budaya yang mengandung nilai.
Gus Najih Maimoen dan Warisan Keilmuan Keluarga Mbah Moen
Sosok Gus Najih bukan nama asing di kalangan santri dan penggemar kajian keislaman. Ia adalah putra kedua almarhum KH Maimoen Zubair atau yang akrab dipanggil Mbah Moen, ulama kharismatik dari Sarang, Rembang.
Sejak kecil, Gus Najih sudah ditempa di lingkungan pesantren. Pendidikan agamanya dimulai dari ayahnya sendiri, kemudian berlanjut di Madrasah Ghozaliyyah Syafiiyah di Karangmangu, Sarang.
Dari Sarang ke Makkah Menimba Ilmu
Pada awal 1980 an, atas perintah langsung dari ulama besar Sayyid Muhammad bin Alawi al Maliki, Gus Najih berangkat ke Makkah untuk memperdalam ilmu syariat.
Di sana ia bukan hanya belajar, tetapi juga berkhidmah bertahun tahun kepada sang guru. Pola seperti ini sudah biasa dalam tradisi pesantren. Seorang murid tidak hanya menghafal kitab, tetapi juga melayani kebutuhan gurunya, mengurus hal hal kecil, dan belajar adab sehari hari.
Setelah sekian lama bermukim di Makkah, Gus Najih kembali ke Sarang dan ikut membantu mengembangkan Pondok Pesantren Al Anwar yang dirintis Mbah Moen. Belakangan, ia juga dipercaya mengasuh dan membimbing santri santri yang datang dari berbagai daerah.
Gaya Dakwah yang Tenang tapi Tegas
Gaya bicara Gus Najih dikenal tidak meledak ledak, tetapi tegas dan dalam. Ia jarang berteriak, namun pilihannya terhadap kata kata mampu menohok persoalan umat dan bangsa.
Di sejumlah kesempatan, ia pernah menyinggung soal pentingnya menjaga amanah, menjauhi kezhaliman, dan tidak bermain main dengan nasib rakyat. Cara penyampaiannya tenang, tetapi maksudnya jelas. Hal seperti ini yang membuat nasihatnya sering dipetik banyak orang, termasuk mereka yang berkecimpung di dunia politik.
Maka ketika ia memberikan kaligrafi kepada Ketua DPD RI, orang orang yang mengenalnya paham bahwa ini bukan sekadar hadiah biasa. Di balik bingkai kayu dan goresan kaligrafi itu, ada pesan dakwah yang halus, tetapi kuat.
Kaligrafi sebagai Hadiah Sekaligus Pengingat
Kaligrafi Al Quran sudah lama menjadi bagian dari tradisi Islam di berbagai belahan dunia. Di Indonesia, kaligrafi sering menghiasi masjid, rumah, sampai kantor. Namun, ketika kaligrafi itu diberikan langsung dari seorang kiai kepada pejabat negara, konteksnya jadi lebih dalam.
Hadiah tersebut seperti titipan pesan. Setiap kali melihat tulisan itu, penerimanya diingatkan untuk kembali merenungkan makna ayat, bukan hanya bentuk hurufnya.
Dari Bingkai di Tangan sampai Dinding Kantor
Dalam momen di Makkah itu, kaligrafi masih berada di tangan Gus Najih ketika diserahkan kepada LaNyalla. Setelah itu, bisa dibayangkan kaligrafi tersebut akan menempati tempat khusus, entah di ruang kerja rumah dinas, ruang kerja di DPD, atau ruangan pribadi.
Bingkai yang awalnya hanya berupa benda dalam acara singkat di Tanah Suci, pelan pelan menjadi bagian dari lanskap visual keseharian seorang pejabat tinggi negara. Saat masuk ruangan, pandangan bisa saja langsung tertuju ke sana, mengingatkan bahwa jabatan yang dipegang sekarang adalah nikmat yang harus terus disyukuri dan dijaga.
Dalam suasana sibuk dengan agenda rapat, kunjungan daerah, dan debat politik, kehadiran kaligrafi Ad Dhuha bisa menjadi momen jeda kecil. Sekilas pandang ke tulisan itu mungkin cukup untuk membuat pemiliknya menarik napas sejenak, lalu mengingat bahwa ada yang lebih besar dari urusan kursi dan jabatan, yaitu ridha Allah.
Pesan untuk Anak Muda Soal Doa dan Ikhtiar
Momen pertemuan di Makkah ini sebenarnya tidak hanya relevan bagi pejabat atau ulama. Buat anak muda yang mengikuti kabar ini, ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik.
Pertama, betapa pentingnya peran doa di tengah ikhtiar. Gus Najih tidak datang membawa analisis politik panjang, tetapi ia membawa doa dan kaligrafi yang sarat makna. Doa yang diucapkan ulama di tempat mustajab seperti Makkah menjadi pengingat bahwa kerja memperbaiki bangsa tidak boleh lepas dari hubungan dengan Allah.
Kedua, kaligrafi dan ayat Al Quran bisa menjadi pengingat personal yang kuat. Di era digital, orang sering menggantungkan motivasi pada quotes di media sosial, padahal ayat ayat Al Quran menawarkan sumber inspirasi yang lebih dalam dan menenangkan.
Ketiga, kedekatan antara ulama dan pejabat negara adalah hal yang wajar dan justru perlu. Bukan untuk saling memanfaatkan, tetapi untuk saling menguatkan. Ulama mengingatkan dan mendoakan, pejabat membuka ruang kebijakan yang berpihak pada rakyat dan menjaga nilai nilai keadilan.
Itulah secuil cerita dari pertemuan di Tanah Suci, ketika Gus Najih Maimoen memberikan bingkai kaligrafi berisi ayat 11 Surat Ad Dhuha kepada Ketua DPD RI AA LaNyalla Mahmud Mattalitti. Sebuah momen singkat yang menyimpan banyak lapisan makna, mulai dari syukur, doa, sampai tanggung jawab besar mengurus bangsa.