Sota di Merauke, Papua Selatan, sering disebut gerbang Indonesia di ujung timur. Orang datang karena ingin melihat perbatasan dari dekat, merasakan denyut pasar lintas warga, lalu pulang membawa cerita yang tidak biasa. Tapi ada satu “warga” yang diam, tidak ikut antre, tidak ikut jual beli, dan justru paling sering bikin orang menoleh: musamus, menara tanah raksasa yang terlihat seperti patung alam.
Musamus kerap disebut rumah semut, padahal “penghuninya” adalah rayap dari genus Macrotermes. Di momen tertentu, terutama saat gelaran Festival Crossborder di Sota, fenomena musamus ini ikut naik panggung, bukan sebagai hiburan, tapi sebagai alasan orang percaya bahwa perbatasan juga bisa jadi destinasi.
Sota, gerbang perbatasan yang hidup dari aktivitas harian
Di peta, Sota terlihat seperti titik kecil. Di lapangan, Sota terasa seperti simpul: simpul jalur, simpul budaya, simpul ekonomi, juga simpul emosi. Desa ini berada di Kabupaten Merauke dan berbatasan langsung dengan Papua Nugini. Dalam kajian pariwisata lintas batas, Sota disebut berjarak sekitar 80 kilometer dari Merauke, dengan jalan beraspal yang melintasi hutan dan savana kawasan Taman Nasional Wasur.
Yang membuat Sota berbeda, urusannya bukan cuma foto di patok batas. Ada tradisi dagang yang sudah lama berlangsung antara warga Sota dan beberapa kampung di Papua Nugini, berbasis relasi personal, dilakukan rutin, dan membentuk kebiasaan menyeberang yang terasa “normal” bagi warga setempat.
Perjalanan dari Merauke, melewati Wasur yang disebut Serengeti Papua
Berangkat dari Kota Merauke menuju Sota, pemandangan pelan pelan berubah: dari kota ke hamparan yang lebih lapang, lalu masuk ke kawasan yang banyak orang sebut seperti “Afrika kecil” versi Papua. Taman Nasional Wasur berada di tenggara Papua, di Merauke, dan dikenal sebagai Serengeti Papua karena punya padang savana yang luas dan menjadi habitat penting satwa endemik.
Wasur juga punya sejarah penetapan kawasan yang panjang, dari suaka margasatwa sampai menjadi taman nasional, dengan luasan yang disebut sekitar 413.810 hektare. Ini penting disebut, karena pengalaman menuju perbatasan Sota tidak bisa dilepaskan dari lanskap Wasur: jalan yang panjang itu bukan sekadar penghubung, tapi bagian dari “atraksi”.

PLBN Sota, wajah baru perbatasan yang dibangun sebagai etalase negara
Di Sota, wajah perbatasan yang kini paling mudah dikenali adalah PLBN. Pemerintah meresmikan PLBN Terpadu Sota pada Oktober 2021, dan menegaskan perbatasan adalah representasi wajah bangsa.
PLBN Sota dibangun dengan konsep terintegrasi, fasilitasnya lengkap, mulai bangunan komersial, fasilitas umum dan sosial, mes pegawai, tempat ibadah, pasar, jalur pejalan kaki, area parkir, sampai infrastruktur pendukung. Narasi besarnya jelas: perbatasan tidak boleh hanya jadi garis pemisah, tapi juga ruang layanan dan ruang ekonomi.
Di lapangan, itu terlihat dari aktivitas warga yang datang bukan hanya untuk melintas, tetapi juga untuk kebutuhan harian. SuaraJatim menulis bagaimana PLBN Sota ikut memfasilitasi aktivitas ekonomi dan sosial, termasuk warga Papua Nugini yang masuk untuk akses pendidikan, kesehatan, hingga peribadatan.
Festival Crossborder Sota, ketika perbatasan berubah jadi panggung
Ada momen ketika Sota tidak hanya ramai oleh urusan administratif dan pasar, tetapi juga oleh musik, pameran, dan keramaian yang sengaja dirancang. Festival Crossborder menjadi salah satu “cara negara” memperkenalkan potensi wilayah perbatasan sekaligus mengundang orang datang bukan sebagai pelintas, tapi sebagai pengunjung.
Liputan6 mencatat Festival Crossborder Sota 2019 digelar pada 14 sampai 16 Juni di Lapangan Pattimura, Distrik Sota. Pemerintah Kabupaten Merauke juga menulis rencana festival dengan tanggal dan lokasi yang sama, lengkap dengan daftar pengisi acara serta konten pendukung seperti pasar rakyat dan pameran UMKM.
Lapangan Pattimura, tempat orang datang untuk konser, lalu pulang membawa cerita alam
Festival biasanya identik dengan panggung, lampu, dan kerumunan. Di Sota, festival punya bonus: Anda bisa keluar dari area acara, lalu beberapa menit kemudian melihat hamparan alam yang terasa “lepas”. Di titik ini, banyak pengunjung baru sadar bahwa Sota bukan sekadar gerbang, tapi juga pintu masuk untuk mengenal sisi lain Merauke.

Dalam rilis Pemkab Merauke, festival mengangkat tema “Indonesia Incorporated” dan didukung pertunjukan tari, marching band, pasar rakyat, pameran kerajinan serta UMKM. Format seperti ini membuat festival bekerja dua arah: menghibur, sekaligus menjadi etalase produk lokal.
Undangan untuk warga PNG, dan ritme lintas batas yang terasa natural
Yang menarik, panitia dan pihak terkait juga secara terbuka mengundang masyarakat Papua Nugini untuk bergabung dan ikut meramaikan. Ajakan ini bukan sekadar gimmick, karena di Sota sendiri tradisi datang dan pergi lintas warga sudah lama berlangsung, bahkan dicatat dalam kajian akademik sebagai aktivitas yang rutin dan berbasis relasi personal.
Di situlah “rasa crossborder” yang sebenarnya muncul: bukan cuma konsep, tapi kebiasaan. Festival tinggal menambah alasan orang berkumpul, memperpanjang waktu tinggal, dan membuat perbatasan terasa hangat.
Musamus, menara tanah yang sering disangka patung alam
Kalau Anda baru pertama kali melihat musamus, reaksi paling umum itu dua: kaget dan bingung. Kaget karena ukurannya besar, bingung karena bentuknya seperti bangunan. Liputan6 menggambarkan musamus seperti gundukan tanah yang menjulang sampai kira kira dua kali tinggi orang dewasa.
Di Merauke, musamus bukan benda langka. Liputan6 menyebut musamus bahkan bisa dijumpai di sekitar Bandara Mopah. Tetapi di Sota, musamus terasa lebih “pas” untuk dikenalkan karena konteksnya: perbatasan, savana, dan festival yang mengundang orang melihat lebih dekat.
Bukan rumah semut, ini karya rayap Macrotermes
Banyak orang menyebut musamus sebagai rumah semut. Tapi sejumlah sumber menjelaskan bahwa pembuatnya adalah rayap. Indonesia Kaya menyebut musamus adalah sarang rayap Macrotermes, bukan sarang semut, dengan ukuran yang bisa sangat besar. Mongabay juga menegaskan bahwa yang populer disebut musamus di Merauke adalah rumah rayap dari genus Macrotermes, dan bagi Suku Marind Anim dikenal dengan sebutan bomi.
Koreksi istilah ini penting, karena cara kita memahami musamus akan berbeda. Kalau kita pikir itu rumah semut, musamus terasa seperti keunikan kecil. Begitu kita tahu itu “arsitektur rayap”, ceritanya naik level: ini tentang adaptasi, tentang koloni sosial, tentang kemampuan membangun yang tidak masuk akal untuk ukuran serangga.
Ukurannya bisa sampai lima meter, diameternya lebih dari dua meter
Indonesia Kaya menulis musamus dapat mencapai tinggi sekitar lima meter dengan diameter lebih dari dua meter. Portal Merauke juga menyebut angka serupa, menekankan musamus sebagai “menara” karya rayap yang menjulang hingga lima meter.
Kalau Anda berdiri di samping musamus, ukuran itu terasa nyata. Permukaannya tidak mulus, teksturnya berlekuk, seolah dibentuk bertahap. Dari kejauhan, musamus seperti kumpulan pilar cokelat yang muncul dari tanah, rapi tapi tidak simetris.
Cara musamus “bekerja”, ventilasi alami dan suhu yang stabil
Musamus bukan cuma besar, tapi juga cerdas. Di balik bentuknya yang terlihat sederhana, ada sistem yang membuat koloni di dalamnya bisa bertahan menghadapi panas dan hujan.
Liputan6 menulis musamus terbuat dari tanah yang bercampur rumput kering, dengan air liur sebagai perekat. Musamus juga dilengkapi lubang ventilasi, dan aliran udara ini menjaga kestabilan suhu ruang di dalam sehingga kehidupan koloni tidak terlalu terpengaruh cuaca luar.

“Arsitektur” yang menghemat energi, pelajaran dari rumah rayap
Ada bagian menarik dari Liputan6 yang mengutip penjelasan pejabat Kemenpar saat itu: musamus dianggap mengajarkan konsep rumah ideal, sirkulasi udara dan cahaya alami jadi prioritas sehingga bisa menghemat penggunaan energi.
Kalimat ini memang terdengar seperti promosi wisata, tetapi intinya masuk akal. Banyak penelitian tentang gundukan rayap di berbagai belahan dunia menyinggung sistem ventilasi alami. Dalam konteks tulisan ini, poinnya sederhana: musamus bukan sekadar “spot foto”, tetapi juga contoh bagaimana alam punya solusi yang sering tidak kita sadari.
Dibangun pada malam hari, butuh waktu sampai dua tahun
Liputan6 juga menyebut musamus dibangun pada malam hari, dan untuk menghasilkan bangunan tinggi dibutuhkan waktu sekitar satu sampai dua tahun. Ini menambah sisi dramatis musamus: kerja panjang, tidak terlihat, tapi hasilnya berdiri di depan mata siapa pun yang lewat.
Di titik ini, musamus sering dipakai sebagai metafora kerja kolektif. Bukan karena kita harus memaksakan “pesan moral”, tetapi karena perilaku koloni rayap memang mengarah ke sana: disiplin, kompak, konsisten.
Musamus dan Wasur, satu lanskap yang membuat Merauke terasa berbeda
Musamus bukan berdiri sendirian. Ia muncul dalam lanskap yang lebih luas, salah satunya di kawasan Taman Nasional Wasur. Mongabay menulis rumah rayap raksasa itu berdiri tegak di Wasur dan disebut keunikan yang tidak akan ditemukan di tempat lain di Indonesia.
Wasur sendiri dikenal karena savananya, lahan basah, dan satwa. Situs Taman Nasional Wasur menyebut kawasan ini penting sebagai habitat satwa endemik dan punya padang savana luas yang membuatnya dijuluki Serengeti Papua.
Di Merauke, musamus juga menjadi bagian dari cerita budaya
Mongabay memuat penjelasan bahwa bongkahan rumah rayap atau bomi kadang dimanfaatkan dalam tradisi memasak bakar batu oleh masyarakat setempat karena kondisi Merauke sebagai dataran rendah yang sulit mendapatkan batu.
Di sini musamus berubah fungsi dalam narasi: bukan sekadar objek wisata, tetapi bagian dari hubungan manusia dengan alam. Kita bisa kagum pada bentuknya, tetapi juga perlu paham bahwa bagi warga setempat, ia sudah lama ada dalam keseharian dan tradisi.
Titik titik musamus yang mudah dijumpai, dari sekitar kota sampai jalur menuju Sota
Salah satu alasan musamus sering jadi bahan cerita wisata adalah aksesnya yang relatif mudah. Liputan6 menulis musamus bisa dijumpai dengan sangat mudah di Merauke, bahkan sudah terlihat di sekitar Bandara Mopah.
Artinya, musamus bukan objek yang harus “diburu” jauh ke hutan. Ia justru hadir di ruang yang dekat dengan manusia. Tantangannya bukan menemukan, melainkan menjaga agar tidak rusak oleh rasa penasaran.
Musamus sebagai identitas Merauke, dari lambang daerah sampai nama kampus
Ada fase ketika sebuah fenomena alam tidak lagi hanya dipotret, tetapi diadopsi menjadi simbol. Musamus ada di fase itu.
Liputan6 menyebut kehebatan konstruksi musamus menjadikannya dipilih sebagai lambang Kabupaten Merauke, dan juga diadopsi menjadi nama Universitas Musamus Merauke. Mongabay menguatkan bahwa musamus dijadikan nama dan logo Universitas Musamus.
Pesan tentang kerja koloni yang sering dikutip saat festival
Di panggung Festival Crossborder, musamus kerap dibicarakan bukan hanya dari sisi bentuk, tetapi juga dari sisi “semangat”. Liputan6 mengutip pernyataan yang menekankan kerja keras koloni saat membangun musamus, bekerja malam hari, tidak terlihat, dan ada pesan tanpa pamrih.
Kalau Anda liput acara di Lapangan Pattimura lalu bergeser ke spot musamus, narasi ini terasa menyambung. Festival bicara keramaian, musamus bicara kerja sunyi. Dua duanya sama sama tentang komunitas.
Etika melihat musamus, bukan sekadar imbauan, tapi kebutuhan
Musamus itu kokoh, tapi bukan berarti kebal. Bentuknya memang bisa menahan beban tertentu, namun tindakan manusia yang naik naik, memukul, atau mengambil bagian permukaan bisa merusak struktur dan mengganggu koloni.
Liputan6 menulis musamus memiliki bahan utama tanah dan disebut tahan dari jilatan api serta bisa menahan beban seperti tubuh manusia. Meski begitu, logikanya sederhana: kemampuan menahan beban bukan izin untuk menguji batasnya.
Cara mendekat yang aman dan tetap menghormati alam
Ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya dibawa ketika melihat musamus.
Pertama, cukup lihat dan foto dari jarak aman. Sudut terbaik biasanya bukan yang paling dekat, tetapi yang memberi konteks lanskap.
Kedua, jangan mencorat coret atau memecah bagian musamus untuk “oleh oleh”. Ini terdengar klise, tapi kasus kerusakan objek alam sering dimulai dari tindakan kecil yang dianggap sepele.
Ketiga, kalau Anda datang dengan rombongan, ingat bahwa musamus sering berada di area terbuka yang juga menjadi jalur satwa. Di kawasan Wasur, prinsipnya bukan cuma menjaga musamus, tapi juga menjaga ketenangan ruang hidup.
Rute liputan singkat, dari PLBN Sota sampai spot musamus
Buat jurnalis atau wisatawan yang ingin “sekali jalan dapat banyak bahan”, Sota menawarkan paket lengkap: perbatasan, pasar, festival di musim tertentu, dan fenomena musamus.
Sebagai konteks, kajian pariwisata lintas batas menyebut jalan dari Merauke ke Sota melintasi Wasur, sehingga perjalanan itu sendiri sudah menjadi pengalaman melihat lanskap hutan dan savana.
Itinerary satu hari yang realistis untuk peliputan
Anda bisa mulai dari Merauke pagi, menempuh perjalanan darat menuju Sota, lalu berhenti di beberapa titik lanskap untuk foto. Siang hari, masuk kawasan PLBN, mengamati arus warga, aktivitas pasar, dan layanan yang tersedia.
Soal pasar, SuaraJatim menulis pasar perbatasan buka Senin sampai Jumat, dengan rata rata pelintas harian belasan orang, dan bisa lebih ramai saat momen hari besar. Data seperti ini berguna untuk memperkaya angle: perbatasan tidak selalu ramai seperti festival, tapi hidup dalam ritme hari kerja.
Sore, geser ke titik musamus yang mudah dijumpai di sekitar jalur, ambil foto dengan cahaya rendah agar tekstur musamus keluar. Lalu kembali ke Merauke malam.
Itinerary dua hari untuk mengejar sisi alam Wasur
Kalau punya waktu lebih, Anda bisa menginap di sekitar Sota atau kembali ke Merauke lalu berangkat subuh untuk mengejar suasana Wasur. Situs resmi TN Wasur menyinggung fungsi kawasan sebagai habitat satwa endemik dan padang savana luas, yang biasanya lebih “hidup” pada jam jam tertentu.
Di skema dua hari, musamus bukan lagi “bonus”, tetapi bagian dari rangkaian cerita: perbatasan sebagai pintu, Wasur sebagai lanskap, musamus sebagai ikon yang berdiri di antara keduanya.
Pasar perbatasan dan ekonomi warga, cerita yang sering luput dari kamera
Banyak liputan perbatasan terjebak pada foto gerbang PLBN. Padahal cerita paling kuat sering muncul dari transaksi kecil dan percakapan singkat.
SuaraJatim menuliskan testimoni tentang warga Papua Nugini yang menjual hasil, menukar ke rupiah, lalu belanja kebutuhan di Sota karena akses di wilayah mereka lebih jauh. Ini memperlihatkan satu hal: perbatasan bukan pagar, melainkan ruang temu kepentingan sehari hari.
Di sisi lain, negara juga ingin PLBN bukan hanya pos pemeriksaan, tetapi pusat pertumbuhan ekonomi baru. Sekretariat Kabinet menuliskan harapan pemerintah agar PLBN Sota mendorong keamanan, perekonomian, dan pertumbuhan sentra ekonomi baru.
Musamus, alasan orang percaya perbatasan bisa jadi destinasi
Tidak semua orang punya alasan kuat untuk datang jauh ke Sota. Tapi musamus sering menjadi “pemikat” yang sederhana: unik, fotogenik, dan hanya ada di Merauke dalam bentuk yang ikonik. Mongabay menegaskan keunikan rumah rayap raksasa di Merauke sebagai sesuatu yang tidak ditemukan di tempat lain di Indonesia.
Pada akhirnya, Sota menawarkan satu pengalaman yang jarang dimiliki daerah lain: Anda bisa berdiri di perbatasan negara, melihat aktivitas pasar lintas warga, lalu beberapa langkah kemudian menatap menara tanah yang dibangun koloni rayap dengan sistem ventilasi alami.
Kalau ada satu momen yang paling pas untuk mengunci cerita, biasanya bukan saat siang terik. Justru menjelang sore, ketika bayangan musamus memanjang di tanah, lalu gerbang perbatasan mulai sepi, Anda akan paham mengapa orang yang datang ke Sota sering pulang dengan kalimat yang sama: “Di ujung timur, hal hal besar kadang dibangun oleh makhluk yang tidak kita lihat.”