Tari Kecak, Sajian Paling Ditunggu di Uluwatu

oleh -517 views

SUARAJATIM.CO.ID, BALI – Pura Uluwatu menjadi tujuan kedua peserta Familiarization Trip (Famtrip) asal Filipina, saat berkunjung ke Bali, Sabtu (23/2). Pura yang berada di ujung barat daya pulau Bali ini dibangun di atas anjungan batu karang yang terjal dan tinggi. Ini merupakan Pura Sad Kayangan yang dipercaya oleh orang Hindu sebagai penyangga dari 9 mata angin.

Asisten Deputi Bidang Pemasaran I Regional III Kemenpar Ricky Fauziyani mengatakan, awalnya Pura Uluwatu digunakan sebagai tempat memuja seorang pendeta suci dari abad ke-11 bernama Empu Kuturan. Ia menurunkan ajaran Desa Adat dengan segala aturannya. Seiring berjalannya waktu, tempat yang disucikan ini pun dibuka untuk umum dan menjadi salah satu dayatarik wisatawan yang berkunjung ke Bali.

“Dari salah satu tebing, wisatawan bisa melihat laut lepas yang berwarna biru jernih. Deburan ombak yang menghantam dinding karang di bawah sana, juga menjadi latar belakang paling menarik untuk swafoto. Banyak sekali wisatawan yang mengunjungi destinasi wisata religi ini. Salah satu alasan adalah keberadaan atraksi Tari Kecak yang selalu disajikan setiap hari menjelang petang,” ujarnya, Minggu (24/2).

Satu jam sebelum petunjukan atau sekitar pukul 17.00 WITA, pengunjung yang ingin menonton Tari Kecak sudah mulai mendatangi lokasi untuk mencari tempat duduk paling strategis, agar bisa menyaksikan persembahan Tari Kecak dengan lebih detail. Satu persatu pengunjung memadati lokasi hingga penuh sesak dari tribun paling atas hingga sebagian terpaksa harus lesehan di bawah karena tidak kebagian tempak duduk.

Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizky Handayani menjelaskan, Kecak adalah pertunjukan dramatari seni khas Bali yang lebih utama menceritakan tentang kisah Ramayana yang dimainkan terutama oleh laki-laki. Tarian ini dibawakan oleh banyak penari laki-laki, bisa belasan hingga puluhan. Secara umum, tarian ini menggambarkan kisah Ramayana saat barisan kera membantu Rama melawan Rahwana.

“Kecak sebenarnya berasal dari ritual sanghyang, yaitu tradisi tarian yang penarinya akan berada pada kondisi tidak sadar. Mereka melakukan komunikasi dengan Tuhan atau roh para leluhur dan kemudian menyampaikan harapan-harapannya kepada masyarakat,” bebernya.

Sajian Tari Kecak mulai dimainkan sekitar pukul 18.00 WITA. Mula-mula, sejumlah orang dengan mengenakan kain kotak-kotak dan bertelanjang dada muncul ke tengah pentas. Mereka membentuk formasi melingkar mengelilingi api yang berada di bagian tengah. Semua menjulurkan tangan ke depan dengan iringan suara ‘cak-cak-cak’ yang dinyanyikan secara akapela atau tanpa musik sama sekali.

Di tengah pertunjukan, sesekali muncul tokoh-tokoh Ramayana seperti Rama, Shinta, Rahwana, Hanoman dan Sugriwa. Mereka ini yang menghidpkan suasana dan membawakan cerita melalui tarian-tariannya. Mendekati akhir pertunjukan, lakon yang dibawakan semakin dramatis karena diwarnai perkelahian dimana tokoh Hanoman dibakar. Di luar itu, karakter monyet putih ini juga menampilkan kelucuan dan sempat pula berinteraksi dengan penonton.

Secara keseluruhan, sajian Tari Kecak sangat memuaskan penonton, termasuk para peserta Famtrip asal Filipina. Sepanjang pertunjukan, mereka terlihat sangat menikmati. Sesekali ikut memberi tepuk tangan dan tertawa saat melihat tingkah konyol Hanoman.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengungkapkan, atraksi budaya masih menjadi magnet terbesar untuk menarik wisatawan. Data yang ada, 60 persen wisatawan datang ke Indonesia karena budaya. Sisanya 35 persen karena alam, dan 5 persen karena faktor buatan. Seperti meeting, incentive, conference, danexhibition (MICE), wisata olahraga, dan hiburan.

“Bali sendiri adalah daerah tujuan wisata dunia yang sarat dengan budaya. Karena itu, jumlah kunjungan wisatawan terus digenjot, khususnya dari mancanegara. Lewat Famtrip ini, kita berharap makin banyak wisatawan asal Filipina yang berkunjung ke Bali,” terangnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *