Begitu nama program We Love Bali ramai disebut, banyak orang langsung kebayang pantai dan resort mewah di selatan pulau. Padahal, salah satu cerita paling menarik dari program ini justru datang dari timur Bali, tepatnya di Desa Tenganan Pegringsingan, Karangasem. Desa adat tua yang biasanya ramai wisatawan ini sempat senyap berkepanjangan saat pandemi Covid 19, sampai akhirnya rombongan We Love Bali datang dan pelan pelan bikin roda wisata di sana berputar lagi.
Di tengah suasana serba serba tidak pasti, kehadiran bus kecil berisi peserta famtrip dengan masker rapi dan hand sanitizer di tangan terasa seperti napas baru buat para pelaku wisata lokal. Bukan soal jumlah orangnya yang heboh, tapi lebih ke sinyal bahwa desa ini belum dilupakan dan masih jadi bagian penting dari cerita kebangkitan pariwisata Bali.
Desa Tenganan Pegringsingan, Bali Kuno yang Tetap Tegak di Tengah Krisis
Sebelum pandemi, nama Tenganan sudah lama jadi magnet buat wisatawan yang pengin lihat Bali versi lama yang masih apa adanya. Lokasinya di Karangasem, tidak jauh dari Candidasa, dengan jalan desa dari batu, rumah rumah tradisional berjajar rapi, dan suasana yang bikin orang merasa seperti melompat mundur puluhan tahun.
Desa ini bukan desa biasa. Tenganan dikenal sebagai salah satu desa Bali Aga, komunitas yang dianggap sebagai penduduk asli Bali sebelum pengaruh luar masuk. Pola hidup, aturan adat, bahkan tata letak rumah diatur ketat lewat awig awig yang sudah dijalankan turun temurun.
Desa Bali Aga yang Masih Memegang Awig Awig
Kalau jalan di tengah desa, kamu bakal lihat rumah rumah tradisional berjajar dari timur ke barat, dengan bale dan pura yang menyatu di ruang komunal. Tidak ada bangunan tinggi, tidak ada hotel di tengah desa. Penelitian terakhir bahkan mencatat adanya dresta atau aturan adat yang melarang pembangunan akomodasi wisata di dalam kawasan desa sebagai cara menjaga kedaulatan dan keseimbangan lingkungan.
Aturan adat ini tidak cuma soal bangunan. Urusan pernikahan, warisan, pembagian tanah, sampai tata cara upacara semuanya diatur. Dulu, pernikahan di dalam komunitas jadi syarat utama, dan yang melanggar bisa kehilangan hak sebagai krama desa. Walau beberapa aturan mulai lebih lentur, semangat untuk menjaga tradisi tetap kuat. Itulah yang bikin Tenganan beda dari desa wisata lain di Bali yang lebih bebas berkembang.
Buat wisatawan, atmosfer ini jadi daya tarik. Mereka datang bukan cuma buat foto, tapi juga buat ngerasain langsung ritme hidup yang pelan tapi penuh upacara dan simbol. Suasana setiap sore ketika warga duduk santai di bale, anak anak main di jalan batu, dan suara gamelan tradisional sesekali terdengar, bikin desa ini terasa hidup tanpa harus ramai berlebihan.
Kain Gringsing dan Perang Pandan yang Bikin Penasaran
Satu lagi yang bikin Tenganan terkenal adalah kain gringsing. Ini bukan kain tenun biasa. Gringsing dibuat dengan teknik double ikat yang super rumit, dan di dunia jumlah tempat yang menguasai teknik ini sangat sedikit. Proses pewarnaannya pakai bahan alami dari kulit kayu, daun, dan akar tertentu, dengan motif yang punya makna simbolik. Tidak heran kalau satu kain bisa dikerjakan bertahun tahun dan harganya bisa selangit.
Masyarakat setempat percaya kain ini punya energi pelindung. Nama gringsing sendiri sering dijelaskan sebagai gabungan kata yang berarti tidak sakit, sehingga kainnya dipakai dalam upacara untuk menangkal hal hal buruk. Di tengah pandemi, simbol perlindungan seperti ini terasa makin kuat secara emosional buat warga desa.
Selain tenun, Tenganan juga terkenal dengan tradisi perang pandan atau mekare kare, ritual di mana para pemuda saling berhadapan memakai pandan berduri sebagai senjata dengan tubuh bagian atas terbuka. Walau terlihat ekstrem, tradisi ini adalah bentuk persembahan dan penghormatan kepada Dewa perang sekaligus latihan keberanian. Bekas luka diobati dengan ramuan tradisional, dan seluruh rangkaian jadi tontonan budaya yang selalu bikin wisatawan penasaran.

Saat Pandemi Membuat Jalan Desa Sepi
Begitu pandemi Covid 19 melanda, cerita di Tenganan berubah drastis. Desa yang biasanya ramai dengan wisatawan lokal dan mancanegara tiba tiba sunyi. Jalanan batu yang dulu sering dilalui rombongan tur mendadak longgar, kios kerajinan banyak yang tutup, dan suara tawar menawar souvenir hampir tidak terdengar. Bali sendiri mengalami penurunan kunjungan wisatawan yang sangat tajam setelah pintu masuk ditutup, dan desa desa wisata ikut kena imbasnya.
Warga yang menggantungkan pendapatan dari kerajinan kain gringsing, topeng, dan kerajinan lontar merasakan betul perubahannya. Pesanan turun, stok menumpuk di rumah, dan banyak yang akhirnya kembali mengandalkan kebun, ladang, atau pekerjaan lain untuk bertahan. Beberapa mulai coba jualan lewat daring, tapi tidak semua punya akses atau terbiasa dengan cara baru ini.
Di sisi lain, aturan adat dan kehati hatian warga membuat desa sangat menjaga agar virus tidak masuk. Tamu dari luar dibatasi, kegiatan besar disesuaikan, dan protokol kesehatan mulai diadopsi seadanya, sebelum ada program khusus yang benar benar menyentuh desa desa seperti Tenganan.
Sunyi yang Bukan Sekadar Sepi Wisatawan
Buat pelaku wisata, sepi bukan cuma soal tidak ada pemasukan. Ada rasa kehilangan rutinitas. Pemandu lokal yang biasanya menjelaskan sejarah desa beberapa kali sehari, mendadak lebih sering duduk di bale tanpa jadwal tur. Ibu ibu yang biasanya menenun sambil sesekali melayani tamu harus rela melihat hasil tenunannya hanya digantung di dinding rumah.
Suasana desa mungkin tetap cantik, pohon tetap rimbun, dan udara tetap sejuk, tapi ada satu elemen yang hilang. Interaksi dengan tamu yang selama ini jadi jembatan antara tradisi tua dan dunia luar tiba tiba terputus. Di titik inilah program We Love Bali masuk membawa konsep baru yang sederhana tapi efektif, yaitu mengajak warga Bali sendiri kembali jalan jalan di kampungnya dengan cara yang aman dan teratur.
Program We Love Bali Datang Sebagai Angin Segar
We Love Bali diluncurkan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bersama Pemerintah Provinsi Bali sebagai upaya memutar lagi roda pariwisata yang terhenti. Program ini menggunakan konsep perjalanan tiga hari dua malam dengan berbagai rute berbeda yang mengombinasikan destinasi populer dan desa desa wisata. Salah satu rute pentingnya menjadikan Desa Wisata Tenganan sebagai titik singgah sekaligus contoh penerapan protokol kesehatan di kawasan budaya.
Pesertanya kebanyakan masyarakat lokal, pelaku industri pariwisata, media, dan komunitas yang ingin ikut meramaikan kebangkitan Bali. Sebelum berangkat, mereka mengikuti serangkaian pengecekan kesehatan dan penjelasan soal standar CHSE, yaitu kebersihan, kesehatan, keamanan, dan kelestarian lingkungan. Dengan cara ini, program tidak hanya mengirim tamu, tapi juga mengirim orang orang yang paham cara berwisata yang aman.
Konsep Trip Pendek yang Tetap Mengena
Walau durasinya hanya beberapa hari, pola perjalanan We Love Bali dirancang padat tapi berimbang. Rute yang melewati Tanah Lot, konservasi penyu, pantai pantai, taman air di Karangasem, sampai desa wisata Tenganan membuat peserta merasakan kombinasi wisata alam, budaya, dan edukasi.
Khusus di Tenganan, program tidak cuma berhenti untuk foto lalu pergi. Rombongan diajak berjalan pelan di sepanjang jalan desa, mampir ke rumah rumah yang memajang kain gringsing, melihat proses menenun, dan belajar sedikit tentang filosofi kain maupun struktur sosial desa. Beberapa kelompok juga diajak melihat lokasi yang biasanya dipakai untuk tradisi perang pandan, walaupun upacara besarnya tidak selalu sedang berlangsung.
Konsep perjalanan yang singkat tapi penuh aktivitas ini cocok dengan kondisi pandemi saat itu. Orang tidak perlu menginap lama di banyak tempat, sehingga risiko bisa lebih terkendali, tapi desa desa tetap kebagian kunjungan dan pemasukan.
CHSE Jadi Kata Kunci di Setiap Pemberhentian
Salah satu misi utama We Love Bali adalah mengkampanyekan standar CHSE ke pelaku wisata. Di desa seperti Tenganan, ini diterjemahkan menjadi penataan jalur keluar masuk tamu, penyediaan tempat cuci tangan di titik titik strategis, anjuran penggunaan masker bagi pengunjung, dan pembatasan kerumunan di beberapa spot foto.
Buat warga yang sebelumnya lebih mengandalkan kebiasaan lokal, kedatangan tim yang menjelaskan standar nasional dan praktik yang sudah diujicoba di banyak tempat lain jadi tambahan ilmu. Mereka bisa melihat langsung contoh papan informasi, cara mengatur jarak, atau prosedur kalau ada tamu yang terlihat kurang sehat. Pelan pelan, protokol ini tidak lagi terasa asing, tapi menyatu dengan cara desa menyambut tamu.
Hari Ketika Rombongan We Love Bali Masuk ke Tenganan
Bayangkan suasana pagi di Tenganan ketika rombongan We Love Bali datang. Udara masih sejuk, sinar matahari baru menembus pepohonan, dan di kejauhan suara gamelan tipis tipis terdengar dari bale. Bus dan kendaraan kecil berhenti di area luar, peserta turun sambil merapikan masker, lalu diarahkan oleh pemandu lokal yang sudah menunggu dengan seragam sederhana.
Sebelum masuk desa, mereka diberi penjelasan singkat tentang aturan lokal, mulai dari tata cara berpakaian yang sopan sampai kebiasaan warga yang tidak suka tamu menyentuh sembarang benda tanpa izin. Di titik ini, interaksi antara pemandu dan peserta sudah terasa hangat. Banyak yang baru pertama kali mendengar istilah Bali Aga dan tertarik bertanya tanya.
Protokol Kesehatan di Desa yang Sangat Tradisional
Pemandangan menarik adalah perpaduan antara desa adat yang sangat tradisional dengan atribut new normal. Di dekat gapura masuk, ada tempat cuci tangan dengan sabun dan air mengalir. Beberapa ibu yang menenun di bale memakai masker kain bermotif khas. Anak anak yang bermain di halaman masih lincah, tapi orang tua mereka sigap mengingatkan kalau mulai bergerombol terlalu dekat dengan tamu.
Peserta jalan menyusuri jalan batu dengan pola satu arah untuk mengurangi kerumunan. Spot yang biasanya jadi titik kumpul, seperti bale banjar atau area di depan pura, dijaga agar tidak terlalu penuh. Walau begitu, suasana tetap cair. Sapa senyum tetap ada, hanya sekarang diiringi kalimat pengingat tentang jarak aman dan kebiasaan cuci tangan.
Aktivitas Wisata yang Dibungkus dengan Cerita
Selama di desa, peserta diajak mampir ke beberapa rumah yang menjadi sentra kerajinan. Di satu rumah, mereka melihat langsung proses menenun gringsing dari benang yang sudah diwarnai dengan bahan alami. Di rumah lain, mereka diajak melihat kerajinan topeng atau lukisan lontar yang dijelaskan makna simboliknya. Pengalaman ini jadi kombinasi antara workshop kecil dan sesi bertukar cerita tentang bagaimana para pengrajin bertahan saat pandemi.

Beberapa peserta yang datang dari industri pariwisata mengaku kaget karena baru sadar seberapa kompleks proses pembuatan satu kain. Di titik ini, banyak yang mulai merasa harga kain yang mereka lihat di etalase toko oleh oleh selama ini ternyata sangat masuk akal. Tidak sedikit yang akhirnya beli langsung di desa sebagai bentuk dukungan.
Sesekali, pemandu lokal juga mengajak peserta ke area tempat biasanya perang pandan digelar. Walau tidak ada pertunjukan besar, cerita tentang tradisi ini sudah cukup membuat banyak orang terkesan. Mereka membayangkan bagaimana suasana desa saat para pemuda bertarung dengan pandan berduri, diiringi gamelan dan sorak warga.
Dampak Nyata buat Pelaku Wisata Desa
Kunjungan yang mungkin terlihat sederhana ini ternyata membawa efek berlapis buat warga Tenganan. Bukan hanya soal uang yang masuk dari tiket donasi, belanja kerajinan, atau bayaran jasa pemandu, tapi juga soal rasa percaya diri dan keyakinan bahwa desa mereka masih relevan di tengah kondisi dunia yang berubah.
Para pengrajin mulai merasakan lagi ritme melayani tamu, menjelaskan proses kerja mereka, dan melihat apresiasi langsung dalam bentuk pembelian. Pemandu lokal yang sempat kehilangan jadwal tur mulai mencatat tanggal lagi. Petani yang biasa menjual hasil kebun sebagai pelengkap kunjungan wisata juga kecipratan rezeki saat peserta membeli buah, kopi, atau camilan lokal.
Uang Kembali Berputar di Lingkaran Kecil
Salah satu kekuatan desa wisata berbasis komunitas adalah aliran uangnya yang relatif pendek. Uang yang dibelanjakan tamu di Tenganan sebagian besar langsung jatuh ke tangan warga desa, bukan keluar ke kota. Saat program We Love Bali membawa rombongan ke sana, putaran kecil ini mulai bergerak lagi, walau belum sekuat masa sebelum pandemi.
Pendapatan ini mungkin belum bisa menutup semua kerugian selama berbulan bulan, tapi cukup untuk membuat warga merasa upaya mempertahankan tradisi dan membuka diri pada wisata tidak sia sia. Ada harapan bahwa ketika situasi makin membaik dan pintu wisata dibuka lebih luas, desa sudah punya fondasi kuat dalam mengelola tamu dengan cara yang aman dan berkelanjutan.
Kebanggaan Baru Saat Desa Jadi Contoh
Buat warga Tenganan, menjadi salah satu titik penting dalam program nasional seperti We Love Bali juga punya arti simbolik. Desa mereka tidak hanya dilihat sebagai objek wisata, tetapi juga sebagai contoh bagaimana komunitas adat bisa menerapkan standar kesehatan modern tanpa mengorbankan identitas budaya.
Pemerintah dan peneliti pariwisata kemudian banyak menjadikan Tenganan sebagai bahan kajian, baik soal ketahanan budaya, larangan akomodasi wisata dalam rangka menjaga kedaulatan, maupun strategi desa dalam memanfaatkan momentum kebangkitan pariwisata setelah masa krisis. Fokus seperti ini secara tidak langsung menguatkan posisi desa di peta pariwisata Bali yang lebih luas.
Warisan Program We Love Bali untuk Tenganan
Sekarang, ketika pariwisata Bali sudah pelan pelan pulih dan wisatawan mulai ramai lagi, jejak program We Love Bali masih terasa di Tenganan. Banyak fasilitas CHSE yang dulu dipasang sebagai bagian program kini sudah jadi bagian permanen dari tata kelola desa. Tempat cuci tangan, papan informasi, dan pola jalur pengunjung yang lebih tertata tetap dipertahankan karena terbukti bikin tamu merasa aman dan nyaman.
Keterbukaan warga terhadap edukasi kesehatan juga meningkat. Saat ada informasi baru soal vaksin, tata cara menghadapi penyakit menular, atau standar wisata sehat, mereka sudah lebih siap berdialog dengan pemerintah dan pihak luar sambil tetap menjaga awig awig.
Tradisi Lama Bertemu Cara Baru Menyambut Tamu
Hal paling menarik dari perjalanan Tenganan di masa pandemi sampai kebangkitan pariwisata sekarang adalah caranya memadukan tradisi lama dengan kebiasaan baru. Di satu sisi, awig awig dan adat Bali Aga tetap jadi fondasi. Di sisi lain, desa tidak ragu mengadopsi praktik modern yang terbukti membantu, mulai dari CHSE sampai penggunaan media digital untuk promosi dan penjualan kerajinan.
Buat banyak orang yang sempat ikut program We Love Bali, kunjungan ke Tenganan di masa sulit itu meninggalkan kesan kuat. Mereka melihat langsung bahwa Bali bukan cuma soal pantai dan kafe hits, tapi juga desa desa adat yang selama ini diam diam menjaga roh pulau. Dan ketika dunia pelan pelan bergerak lagi, desa seperti Tenganan tidak hanya menunggu, tapi ikut aktif menata ulang cara menyambut tamu supaya semua bisa pulih bersama.