Wow, Kopi Organik Bali Diminati Pasar Thailand

oleh -999 views

SUARAJATIM.CO.ID, BANGKOK – Diplomasi kopi ala Menpar Arief Yahya di Thailand International Travel Fair (TITF 2019 sukses besar. Kopi organik Bali menjadi pusat perhatian. Traveller asal Thailand langsung terbius oleh rasa kopi yang menurut mereka sangat pas dengan selera Thailand.

Sejak 13 Februari hingga 17 Februari, stand kopi Indonesia nyaris tak pernah sepi. Traveller Thailand banyak yang singgah dna ikut pesan kopi. Terkadang, antrean bahkan sampai mengular.

“Dari hari pertama kopi kita sudah jadi idola. Ini di hari terakhir, stand masih ramai disinggahi penikmat kopi. Saya jadi semakin sibuk,”kata Aisha Sara Pramana, barista asal Bali yang ikut diboyong Kemenpar ke Bangkok.

Saking lakunya, jenis robusta dan Kopi Organik Bali, nyaris kehabisan stok. “Saya harus tambah stok lagi. Terimakasih untuk Kementerian Pariwisata yang telah membantu mempromosikan Kopi Organik Bali di Bangkok,”kata AIsha.

Lantas apa hebatnya kopi Indonesia? Kenapa juga robusta hingga Kopi Organik Bali sampai banyak diburu di TITF 2019?

Alasan pertama, booth-nya sangat eye catching. Lokasinya persis di dekat depan pintu masuk hall utama. Tempatnya juga sangat cozy. Komplit dengan background Gunung Bromo dan Borobudur. Perlengkapan baristanya pun komplit. Ada French Press, ketel, roasting biji kopi, grinder,timer, sampai timbangan digital.

Nomor duanya, ada story telling yang diceritakan ke audience. Teknik berceritanya pun asyik. Tak kalah dengan barista di film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) II. Aisha yang selalu mengenakan kebaya itu sangat fasih bercerita. Dari asal kopi, petani, bagaimana para petani mengolahnya, hingga akhirnya dinikmati para enthusiast coffee, semua diceritakan dengan sangat oke. Ada proses memilih simbol, kata serta kalimat per kalimat yang tepat. Endingnya, muncul pesan komunikasi yang kuat.

Yang ketiganya, ada rasa dan aroma yang sangat oke. Dari mulai yang kecokelatan, arabika, kopi berwarna hitam dan tidak begitu pekat, yang punya tekstur halus, semua ada. Dan bila diracik dengan dengan air panas, langsung tercium bau khas kopi yang harum dan tidak berbau keras.

“Setiap pameran kami memang mayoritas selalu mempersiapkan Stand Kopi, karena ini selalu menjadi unggulan di Booth pameran kami,”kata Deputi Bidang Pengembangan Pemasaran I Kemenpar Rizki Handayani yang diamini Asisten Deputi Pengembangan Pemasaran I Regional I Kementerian Pariwisata Dessy Ruhati.

Dessy menambahkan, selama di TITF 2019, stand kopi Indonesia selalu menjadi tujuan utama dari para buyers yang datang ke pameran tersebut.

“Kopi punya massa yang loyal dan segmensial. Tidak saling memakan, karena sajian lokasi dan tentu kopinya masing-masing memiliki citra unik. Banyak yang ingin tahu atau sekedar mencicipi ke booth kopi Indonesia,” kata Dessy.

Semua yang ditampilkan tak ubahnya seperti pameran yang kerap digelar Kementerian Pariwisata di luar negeri. Karenanya, Kemenpar selalu mengedepankan kopi di setiap pameran.

Menpar Arief Yahya yang rajin mempromosikan kopi Indonesia pun angkat bicara. Menurutnya, kopi harus dijadikan sebagai produk kreatif, digabungkan dengan pariwisata.

“Kopi bisa menjadi pintu masuk wisatawan untuk masuk ke negara kita. Sehingga bangsa ini bisa memenangkan persaingan sebagai penghasil kopi nomor satu di dunia,” kata menteri yang memimpin kementerian No 1 dan terpilih sebagai The Best Ministry of Tourism 2018 se-Asia Pasifik itu. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *