Suasana di perbatasan Kamboja dan Thailand kembali memanas pada Desember 2025. Yang terjadi bukan sekadar adu pernyataan diplomatik, melainkan bentrokan bersenjata yang menimbulkan korban jiwa, gelombang pengungsian besar, serta mendorong ASEAN turun tangan menggelar pertemuan khusus. Dalam beberapa hari terakhir, pembicaraan militer kedua negara juga mulai digelar untuk menghidupkan lagi gencatan senjata yang sebelumnya sempat disepakati, namun kembali runtuh di lapangan.
Gambaran kondisi terbaru pada Desember 2025
Di penghujung Desember ini, fokus utama ada pada dua hal: perang di lapangan yang masih berulang di sejumlah titik perbatasan, dan diplomasi darurat yang berusaha menghentikan laju eskalasi. Reuters melaporkan pejabat militer Thailand dan Kamboja menggelar pertemuan pada 24 Desember 2025 untuk membahas pemulihan gencatan senjata setelah sekitar 16 hari bentrokan intens yang memicu korban jiwa serta perpindahan penduduk besar besaran.
Pembicaraan gencatan senjata yang baru dimulai lagi
Menurut laporan Reuters, pembicaraan itu digelar di area perbatasan dan disebut dapat berlanjut ke dialog tingkat menteri pada 27 Desember 2025 apabila ada kemajuan. Di saat yang sama, kedua pihak masih saling menuding soal pelanggaran gencatan senjata, sehingga proses negosiasi berjalan di tengah ketidakpercayaan yang tebal.
Angka korban dan gelombang pengungsian yang membesar
Dalam laporan yang sama, Reuters menyebut bentrokan terbaru memunculkan angka korban yang besar dan berbeda pada masing masing sisi, termasuk puluhan korban jiwa di Thailand, serta pengungsian yang mencapai ratusan ribu orang di wilayah Kamboja. Reuters juga menulis bahwa dampak kemanusiaan meluas cepat karena bentrokan terjadi di sepanjang perbatasan yang panjangnya sekitar 817 kilometer dan mencakup area yang dipersengketakan.
Sementara itu, Associated Press menggambarkan eskalasi terbaru juga melibatkan serangan udara Thailand yang menargetkan fasilitas militer Kamboja yang dituduh menyimpan roket, di tengah klaim korban sipil dan kerusakan properti. AP menekankan dua narasi yang berhadap hadapan: Thailand menyebut serangan menyasar target militer, sedangkan Kamboja menyoroti dampak pada warga dan infrastruktur.
Serangan udara, roket, dan saling tuding pemicu bentrokan
Detail penting lain datang dari Reuters yang melaporkan tuduhan Thailand bahwa Kamboja memakai drone untuk menjatuhkan bom serta menembakkan roket BM 21 ke arah area sipil, sementara Kamboja menyatakan pasukannya diserang lebih dulu namun tetap berkomitmen pada gencatan senjata dan tidak membalas. Pola seperti ini membuat publik sulit melihat satu versi tunggal, karena informasi bergerak cepat sementara verifikasi sering tertinggal.
Kronologi cepat: dari sengketa perbatasan ke bentrokan bersenjata tahun 2025
Agar tidak terjebak istilah “perang” sebagai label tunggal, kronologi 2025 memperlihatkan eskalasi yang naik bertahap: dari insiden simbolik dan ketegangan di lokasi kuil, menuju baku tembak, lalu bentrokan besar pada pertengahan tahun, sempat mereda, kemudian meletus lagi pada Desember.
Juni 2025: Kamboja resmi membawa isu ke Mahkamah Internasional
Salah satu momen krusial adalah ketika pemerintah Kamboja mengumumkan pengajuan permintaan resmi ke Mahkamah Internasional atau ICJ untuk membantu penyelesaian sengketa perbatasan. Pengumuman itu dipublikasikan melalui kanal resmi pemerintah Kamboja pada pertengahan Juni 2025. Langkah ini menandakan Phnom Penh ingin menggeser arena konflik dari lapangan ke jalur hukum internasional.
Juli 2025: bentrokan besar dan serangan udara Thailand
Pada 24 Juli 2025, Al Jazeera melaporkan bentrokan meningkat tajam, termasuk penggunaan pesawat tempur Thailand yang melakukan serangan udara ke target di Kamboja. Peristiwa ini mempertegas bahwa eskalasi 2025 berbeda dari ketegangan biasa, karena sudah menyentuh penggunaan kekuatan militer berlapis.
Oktober 2025: deklarasi damai di Kuala Lumpur
Pada 26 Oktober 2025, muncul upaya menutup bab konflik melalui deklarasi damai yang ditandatangani di Kuala Lumpur pada sela pertemuan puncak ASEAN. Pemerintah Prancis secara terbuka menyambut deklarasi ini dan menilai jalur damai penting bagi stabilitas kawasan.
Pada titik ini, banyak pihak berharap situasi akan reda permanen. Namun, perkembangan lapangan menunjukkan gencatan senjata bersifat rapuh ketika akar sengketa dan insiden keamanan belum benar benar terkunci.
Desember 2025: kekerasan pecah lagi dan ASEAN gelar pertemuan khusus
Reuters melaporkan ASEAN menggelar pertemuan khusus di Kuala Lumpur untuk merespons kekerasan yang kembali menyala sejak awal Desember. Pertemuan ini menandai krisis sudah dianggap serius secara regional, bukan lagi urusan bilateral biasa.
Di sisi ASEAN sendiri, ada agenda resmi bahwa Sekretaris Jenderal ASEAN akan berpartisipasi dalam pertemuan khusus tersebut, menegaskan bobot diplomatiknya.
Akar sengketa yang jadi bara: peta lama, garis batas, dan kuil di titik rawan
Krisis Kamboja dan Thailand tidak lahir dari ruang hampa. Sengketa perbatasan di kawasan ini punya lapisan sejarah panjang, mulai dari warisan pemetaan era kolonial hingga status situs budaya yang sangat sensitif bagi identitas nasional masing masing negara.

Preah Vihear: putusan ICJ yang jadi rujukan, tapi tafsirnya masih diperdebatkan
Kasus paling dikenal adalah Temple of Preah Vihear. ICJ menjelaskan bahwa pengadilan menyimpulkan Thailand telah menerima peta yang relevan dan menyatakan kuil berada di wilayah Kamboja. Ini menguatkan posisi Kamboja dalam aspek lokasi kuil.
Namun sengketa sering tidak berhenti pada satu bangunan kuil. Pada 2013, ICJ mengeluarkan putusan interpretasi yang menjelaskan kewajiban Thailand menarik personel militer dari “sekitar kuil” sesuai putusan 1962. Ringkasan putusan ini menegaskan konteks geografi dan ruang di sekitar situs yang kerap menjadi sumber tarik menarik di lapangan.
Pada Desember 2025, narasi soal area sekitar Preah Vihear kembali ramai di Thailand. Media Thailand memuat klaim dari kanal militer wilayah yang menyebut ICJ tidak memutus soal area tertentu di sekitar Preah Vihear, memperlihatkan bagaimana aspek hukum internasional sering dibaca berbeda di ruang publik tiap negara.
Kompleks kuil lain dan titik perlintasan: bukan hanya satu lokasi
Selain Preah Vihear, beberapa lokasi kuil dan titik perbatasan lain kerap disebut dalam pemberitaan 2025, termasuk area kuil di jalur perbatasan darat yang menjadi simbol kedaulatan. Dalam banyak kasus, gesekan berawal dari aktivitas patroli, pembatasan akses, atau tindakan yang dianggap melecehkan simbol nasional, lalu membesar menjadi konfrontasi bersenjata.
Ranau ranjau dan sisa konflik lama yang masih memakan korban
Isu ranjau darat juga menjadi pemicu sensitif. Reuters menggambarkan bagaimana tuduhan soal penggunaan atau pemasangan ranjau serta perdebatan apakah ledakan dipicu ranjau lama bisa mengguncang kepercayaan dan memantik keputusan politik yang keras. Dalam konflik perbatasan, ranjau bukan sekadar senjata, tetapi juga simbol: siapa yang menaruh, siapa yang lalai, dan siapa yang harus bertanggung jawab.
Mengapa eskalasi 2025 terasa berbeda dari ketegangan sebelumnya
Ketegangan Kamboja dan Thailand pernah memanas pada periode 2008 hingga 2011, tetapi 2025 menunjukkan kombinasi faktor yang lebih kompleks: medan sengketa, dinamika politik domestik, teknologi persenjataan, serta tekanan informasi publik yang bergerak sangat cepat.
Perang narasi berjalan paralel dengan perang di lapangan
Hampir tiap episode bentrokan diikuti dua versi. Reuters menulis Thailand menuding drone dan roket, Kamboja menekankan serangan lebih dulu dan komitmen tidak membalas. Ketika pernyataan resmi saling bertabrakan, ruang digital akan mengisi kekosongan dengan potongan video, klaim sepihak, hingga rumor, yang sering memperkeras emosi publik.
Serangan udara dan roket menambah risiko korban sipil
AP melaporkan serangan udara Thailand dalam gelombang eskalasi terbaru. Begitu serangan udara masuk, risiko salah sasaran, kepanikan massal, dan kerusakan infrastruktur meningkat, apalagi jika pertempuran terjadi dekat kawasan permukiman atau jalur ekonomi perbatasan.
Dampak kemanusiaan ikut mendorong keterlibatan regional
Reuters melaporkan angka pengungsian yang sangat besar menjadi alasan ASEAN bergerak cepat. Bukan hanya soal kedaulatan, tetapi juga stabilitas kawasan, perdagangan lintas batas, keselamatan warga, dan reputasi ASEAN dalam mengelola krisis antaranggota.
Peran ASEAN, Malaysia, Amerika Serikat, dan China dalam meredam konflik
Diplomasi pada Desember 2025 bergerak di beberapa jalur sekaligus. Ada jalur ASEAN yang dipimpin Malaysia sebagai ketua, ada tekanan Amerika Serikat, dan ada upaya China yang menawarkan diri sebagai pihak yang mendorong dialog.
Pertemuan khusus ASEAN di Kuala Lumpur
Reuters melaporkan pertemuan khusus menteri luar negeri ASEAN di Kuala Lumpur untuk membahas situasi dan mencari jalan keluar, termasuk penggunaan tim khusus yang menyiapkan temuan berbasis data. Ini penting karena memberi kerangka regional untuk memverifikasi klaim lapangan, setidaknya sebagian.
Dari sisi dokumen resmi Malaysia, pernyataan ketua ASEAN mengenai pertemuan khusus itu dipublikasikan melalui kanal Kementerian Luar Negeri Malaysia. Keberadaan pernyataan resmi semacam ini biasanya menjadi rujukan diplomatik yang lebih stabil dibanding rumor medsos.
Upaya China mendorong gencatan senjata
Reuters juga melaporkan utusan khusus China menyerukan gencatan senjata segera dan mengisyaratkan kesiapan membantu mediasi. Di kawasan Asia Tenggara daratan, keterlibatan China selalu punya bobot, baik karena pengaruh ekonomi maupun kedekatan strategis dengan banyak negara.
Amerika Serikat dan tekanan internasional
Dalam laporan Reuters tentang pembicaraan 24 Desember, disebutkan Amerika Serikat mendorong kedua pihak menghentikan permusuhan dan menghormati komitmen gencatan senjata sebelumnya. Tekanan semacam ini biasanya bekerja lewat kombinasi diplomasi terbuka, komunikasi militer, serta dukungan pada mekanisme pemantauan.
Titik titik rawan di lapangan: perbatasan panjang, kota perlintasan, dan jalur ekonomi
Perbatasan Kamboja dan Thailand bukan garis tipis di peta. Ia adalah ruang hidup warga, jalur logistik, tempat kerja, dan titik wisata. Ketika bentrokan meledak, dampaknya terasa hingga kota perlintasan, pasar, dan aktivitas harian.
Evakuasi warga dan layanan publik yang tertekan
AP melaporkan bentrokan memicu perpindahan warga besar besaran dan menimbulkan korban, termasuk laporan kerusakan properti. Dalam situasi seperti ini, sekolah ditutup, rumah sakit siaga, dan kamp pengungsian menjadi realitas baru bagi keluarga perbatasan.
Reuters juga menekankan skala evakuasi di Thailand serta perpindahan penduduk di Kamboja, menggambarkan krisis kemanusiaan yang berkembang cepat.
Wisata dan perjalanan ikut terdampak
Di saat konflik meningkat, peringatan perjalanan ikut muncul. Salah satu media Australia mengabarkan pembaruan imbauan perjalanan pemerintah Australia terkait keamanan perjalanan di Kamboja dan area dekat perbatasan. Walau ini bukan rujukan utama soal fakta militer, pola travel advisory sering mencerminkan seberapa serius risiko keamanan dipersepsikan otoritas asing.
Insiden yang memperkeruh situasi: simbol budaya dan sensitivitas lintas negara
Selain peluru, ada faktor simbolik yang bisa menyulut kemarahan publik. Pada 24 Desember 2025, sejumlah media melaporkan kontroversi terkait penghancuran patung Dewa Wisnu di area dekat perbatasan yang diklaim berada di wilayah Kamboja, serta reaksi India yang mengecam tindakan tersebut. Isu ini menambah lapisan emosional karena menyentuh ranah agama dan penghormatan budaya, bukan semata sengketa garis batas.
Kontroversi simbol budaya sering memperkeras posisi politik, karena pemerintah akan menghadapi tekanan publik untuk terlihat tegas. Dalam banyak konflik perbatasan, satu video pendek yang viral bisa berdampak seperti amunisi tambahan di ruang opini.
Apa yang perlu dipantau sekarang: negosiasi, kepatuhan di lapangan, dan akses bantuan
Perkembangan paling penting berada pada tarik menarik antara meja perundingan dan realitas lapangan. Kesepakatan bisa tercapai di satu ruangan, tapi runtuh beberapa jam kemudian jika komando di garis depan tidak sinkron atau jika ada insiden baru.
Apakah pembicaraan 24 hingga 27 Desember menghasilkan jeda tembak yang nyata
Reuters menyebut pembicaraan militer bisa membuka jalan ke pertemuan tingkat menteri pada 27 Desember 2025. Yang perlu dipantau adalah indikator sederhana: apakah tembakan artileri menurun, apakah evakuasi berhenti bertambah, dan apakah jalur kemanusiaan lebih aman.
Seberapa kuat peran pemantauan ASEAN
ASEAN telah masuk lewat pertemuan khusus, dan ada sinyal penggunaan tim atau mekanisme pemantauan yang didukung data. Jika mekanisme ini bekerja, ia bisa menjadi penengah saat kedua pihak saling menuding.
Akses bantuan, perlindungan warga, dan risiko salah sasaran
AP menggambarkan bagaimana serangan udara dan pertempuran di sekitar kawasan padat bisa melahirkan korban sipil. Dalam fase ini, pertanyaan kunci bukan hanya siapa benar siapa salah, tetapi apakah warga bisa keluar dari zona rawan, apakah fasilitas publik terlindungi, dan apakah korban bisa dirawat tanpa hambatan.