Nama Ijen selama ini lekat dengan api biru dan danau kawah berwarna pirus yang terlihat seperti editan. Namun, pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark membuat ceritanya naik kelas: kawasan ini dipandang sebagai ruang belajar terbuka tentang proses geologi, kehidupan, serta jejak budaya yang tumbuh di sekitarnya. Ijen bukan sekadar titik pendakian malam, tetapi lanskap luas yang menyatukan pegunungan, hutan, sampai pesisir di Jawa Timur.
Dari kawah terkenal ke pengakuan UNESCO
Status UNESCO Global Geopark menempatkan Ijen dalam jaringan kawasan dunia yang dinilai punya warisan geologi bernilai tinggi, dikelola dengan pendidikan dan pariwisata berbasis lingkungan, serta memberi ruang bagi warga setempat untuk terlibat. UNESCO mencatat Ijen berada di Jawa Timur, mencakup wilayah Banyuwangi dan Bondowoso, dua kabupaten yang berbagi “panggung” gunung api dan bentang alamnya.
Pengukuhan Ijen sebagai UNESCO Global Geopark diumumkan dalam gelombang penetapan geopark baru pada 24 Mei 2023. Dalam rilis UNESCO, Ijen disebut sebagai kawasan dengan daya tarik vulkanik menonjol, sekaligus lokasi yang secara geografis berada di jalur perlintasan manusia dan perdagangan karena posisinya dekat selat dan laut.
Kaldera raksasa yang membentuk banyak wajah Ijen
Untuk memahami kenapa Ijen terasa “ramai” oleh punggungan, lereng, dan kawah, kuncinya ada pada kaldera Ijen. UNESCO menjelaskan, di sistem kaldera ini terbentuk sekitar 22 kerucut vulkanik pasca kaldera, baik di bagian dalam maupun di bibir kaldera. Angka itu memberi gambaran bahwa Ijen bukan satu gunung tunggal, melainkan kompleks gunung api dengan riwayat pembentukan panjang.
Gambaran ilmiah tentang kaldera juga muncul dalam catatan Global Volcanism Program milik Smithsonian Institution, yang menampilkan interpretasi lebar kaldera dan pusat pusat vulkanik yang berada di dalam serta di tepinya, lengkap dengan sistem aliran keluar dari danau kawah ke sungai di utara. Untuk pengunjung, informasi ini terasa nyata ketika melihat bagaimana punggungan dan lembah membentuk jalur jalur pandang yang berbeda di setiap tikungan.

Danau kawah paling asam, indah yang harus dihormati
Kawah Ijen adalah ikon, terutama karena danau kawahnya. UNESCO menyebutnya sebagai danau kawah paling asam di dunia. Di ranah akademik, kajian ilmiah melaporkan pH danau kawah Kawah Ijen berada di bawah 0,3 dan menjadi sumber aliran sungai yang sangat asam serta kaya logam, Banyu Pahit, yang memanjang puluhan kilometer. Ini menjelaskan kenapa area kawah terasa seperti laboratorium alam terbuka: warna air yang mencolok adalah hasil kimia, bukan sekadar estetika.
Saat cuaca cerah, warna pirus dan kabut tipis sering menciptakan ilusi “tenang”. Padahal, justru di sinilah sisi istimewa Ijen muncul: lanskap yang cantik tetapi menuntut disiplin. Jalur, pagar, dan arahan petugas bukan formalitas. Ia lahir dari karakter kawah yang aktif, gas yang bisa berubah arah, dan material yang tidak bisa diperlakukan seperti danau biasa.
Api biru yang membuat malam Ijen berbeda dari gunung lain
Fenomena api biru sering disebut sebagai alasan utama orang berangkat tengah malam. Cahaya biru itu bukan lava, melainkan gas bersulfur yang menyala ketika kontak dengan udara. Gas keluar dari rekahan pada suhu tinggi hingga sekitar 600 derajat Celsius, memunculkan lidah api yang dapat menjulang dan tampak seperti sungai cahaya di gelap.
Di titik ini, pengalaman melihat Ijen berubah dari sekadar pendakian menjadi momen observasi. Waktu terbaik biasanya sebelum langit mulai memucat, ketika cahaya biru masih kontras. Setelah fajar, warna danau kawah mengambil alih perhatian dan membuat orang mengerti kenapa foto puncak Ijen sering terasa tidak masuk akal, padahal nyata.
Jejak kerja belerang yang menjadi wajah sosial Ijen
Di balik foto wisata, ada aktivitas yang sudah berlangsung lama: penambangan belerang. Banyak liputan menyorot para penambang yang membawa bongkahan belerang keluar dari kawah, menapaki jalur curam dengan beban besar. Kehadiran mereka membuat Ijen tidak hanya bicara geologi, tetapi juga ketahanan manusia yang bekerja di lingkungan ekstrem.
Laporan lain tentang penambangan belerang menggambarkan risiko paparan gas seperti sulfur dioksida dan hidrogen sulfida, yang dapat mengiritasi mata dan saluran napas. Bagi pengunjung, ini mempertegas satu hal: pengalaman di Ijen adalah berbagi ruang dengan aktivitas kerja. Cara paling pantas menikmatinya adalah menjaga jarak aman, tidak menghalangi jalur, dan tidak menjadikan para pekerja sebagai latar foto tanpa etika.
Geopark bukan satu titik, Ijen punya banyak panggung
Salah satu kesalahpahaman umum adalah menyamakan geopark dengan kawah. Padahal, riset penilaian geosite menyebut ada sekitar 20 geosite di Ijen Geopark, dengan sebaran di Banyuwangi dan Bondowoso. Ini memberi sinyal bahwa pengalaman Ijen bisa dibangun seperti mozaik: hari ini kawah, besok air terjun, lusa pantai, lalu kebun kopi atau hutan.
Dengan cara pandang seperti itu, pertanyaan “apa yang bisa dilihat” menjadi jauh lebih luas. Ijen menyediakan berlapis lapis sudut pandang: geologi yang kasar, ekologi yang rapuh, dan ruang hidup masyarakat yang terus bergerak mengikuti musim wisata.
Paket lengkap dari hutan, savana, sampai pesisir
UNESCO mencatat Ijen UNESCO Global Geopark mencakup kawasan yang terkait dengan Belambangan Biosphere Reserve. Di halaman program Man and the Biosphere, UNESCO menjelaskan Belambangan Biosphere Reserve menggabungkan taman nasional Alas Purwo, Baluran, Meru Betiri, serta satu cagar alam Kawah Ijen, dengan campuran ekosistem darat dan laut seperti savana, beragam tipe hutan, mangrove, padang lamun, sampai terumbu karang.
Di lapangan, artinya sederhana: satu perjalanan ke wilayah Ijen bisa memberi dua jenis lanskap yang kontras. Pagi Anda bisa berada di ketinggian pegunungan dengan udara tipis, sore hari bergeser ke savana yang terbuka, lalu menutup hari di garis pantai selatan atau kawasan pesisir yang lebih hangat.
Pulau Merah dan pesisir selatan yang memanjangkan cerita Ijen
Bagi banyak pelancong, Banyuwangi identik dengan rangkaian wisata alam, dan Pulau Merah kerap masuk dalam daftar itu. Pesisir dengan pasir luas dan bukit kecil di dekat pantai membuat lokasinya mudah dikenali, apalagi saat senja ketika langit sering berubah dramatis. Liputan media lokal dan nasional menempatkan Pulau Merah sebagai salah satu pantai yang ramai dibicarakan di Banyuwangi.
Kehadiran pantai dalam paket perjalanan Ijen membantu menjelaskan keistimewaan geopark: Anda melihat hubungan “pegunungan dan laut” dalam satu kabupaten. Lanskap vulkanik di utara tidak berdiri sendiri, ia berakhir dan bertemu garis pantai, membawa cerita tentang material, aliran air, serta jalur manusia yang menyeberang wilayah.
Kopi, kebun, dan ruang hidup yang ikut membentuk geopark
Geopark yang kuat tidak hanya memamerkan batuan. Ia juga menampilkan cara manusia hidup berdampingan dengan lanskapnya. Di Bondowoso, salah satu cerita yang menonjol adalah kebun kopi. Kajian kampus membahas agroforestri kopi arabika di area biosite kebun kopi pada Ijen Geopark, menandai bahwa kawasan ini juga dipahami sebagai ruang biodiversitas dan praktik budidaya yang terkait dengan lingkungan.
Bila Anda mengatur perjalanan lintas kabupaten, pengalaman mencicip kopi lokal setelah turun gunung terasa seperti transisi yang pas: dari bau belerang yang tajam di kawah menuju aroma sangrai yang hangat di perkampungan. Ini bukan romantisasi, tetapi cara mudah memahami mengapa UNESCO menekankan keterkaitan warisan alam dengan aktivitas masyarakat.

Cara menikmati Ijen tanpa mengurangi wibawanya
Ijen sering dikunjungi dalam ritme yang padat: berangkat malam, mengejar api biru, menunggu fajar, turun, lalu pindah destinasi. Tidak ada yang salah, tetapi ada beberapa kebiasaan baik yang layak dijaga karena karakter kawahnya.
Pertama, patuhi arahan petugas dan pantau kondisi gas. Kawah dengan aktivitas vulkanik dan kimia ekstrem bukan tempat untuk menguji nyali. Kedua, siapkan perlindungan pernapasan yang layak, terutama bila Anda berniat turun mendekati area sumber gas. Ketiga, jaga etika saat bertemu penambang, beri ruang di jalur, dan minta izin bila ingin memotret dekat. Cerita sosial di Ijen sama berharganya dengan panorama.
Keempat, sisihkan waktu untuk mengenal sisi lain geopark. Jika Anda hanya melihat kawah, Anda baru membaca satu bab. Ijen sebagai UNESCO Global Geopark justru mengundang pengunjung untuk melihat jaringan geosite, ekosistem, dan aktivitas warga yang saling menyambung di dua kabupaten, Banyuwangi dan Bondowoso.