Nama AA Lanyalla Mahmud Mattalitti mungkin lebih sering terdengar sebagai Ketua DPD RI, sosok politisi yang mondar mandir di gedung parlemen dan ruang rapat resmi. Tapi di satu akhir pekan, gambaran itu agak bergeser. Lanyalla muncul dengan kaos latihan, celana panjang santai, dan sorot mata serius di tengah ribuan pesilat Persaudaraan Setia Hati Terate atau PSHT. Malam itu ia bukan sekedar pejabat negara, tapi calon warga perguruan yang harus melewati satu tradisi yang terkenal khas, yaitu tes ayam jago.
Malam Pengesahan yang Bikin Merinding
Salah satu momen penting dalam perjalanan Lanyalla menjadi warga PSHT terjadi di Balai Prajurit Marinir Bapra Cilandak Jakarta Selatan. Di gedung besar yang biasanya dipakai untuk acara resmi militer itu, ribuan siswa dan warga PSHT berkumpul dalam suasana yang terasa jauh lebih akrab dari sekadar acara seremonial. Lampu gedung agak diredupkan, suara instruktur dan pengurus bergantian memimpin jalannya prosesi pengesahan warga tingkat satu PSHT se DKI Jakarta.
Malam itu, Lanyalla tidak berdiri di podium sebagai pejabat yang memberi sambutan. Ia berdiri sejajar dengan para calon warga lain, mengikuti alur acara yang sudah dipegang kuat oleh tradisi perguruan sejak bertahun tahun lalu. Bagi banyak orang yang menyaksikan, pemandangan ini terasa unik, karena seorang pejabat negara memilih untuk tunduk sepenuhnya pada aturan internal sebuah perguruan silat.
Ribuan Pesilat Penuhi Balai Prajurit
Sejak sore, arus pesilat yang mengenakan seragam khas PSHT sudah mulai memadati area sekitar gedung. Ada yang datang rombongan dengan kendaraan besar, ada yang naik motor bersama teman teman satu ranting. Di parkiran, suara obrolan bercampur tawa dan instruksi pengurus cabang terdengar bersahut sahutan.
Begitu masuk ke dalam gedung, suasananya berubah jadi lebih khidmat. Barisan calon warga duduk rapi sesuai pembagian wilayah, sementara para pengurus pusat dan tokoh tokoh PSHT menempati area khusus di depan. Di barisan itu, hadir pula Ketua Umum PSHT Pusat Madiun, jajaran dewan pusat, dan pengurus lainnya yang datang langsung untuk menyaksikan prosesi pengesahan malam itu.
Di tengah kerumunan besar itu, kehadiran Lanyalla sebenarnya cukup mudah dikenali. Namun begitu prosesi dimulai, ia bukan lagi “tamu penting” yang harus diistimewakan. Ia menjadi bagian dari calon warga yang sedang menunggu saat sah sebagai saudara seperguruan.
Prosesi Sakral Tanpa Hambatan
Prosesi pengesahan warga PSHT dikenal sakral. Ada bagian bagian yang hanya dipahami betul oleh mereka yang sudah menjalani latihan dan penempaan selama bertahun tahun. Malam itu, semua berjalan lancar. Dari pengecekan kesiapan calon warga, doa bersama, sampai rangkaian pengesahan, tidak ada gangguan berarti yang menghalangi jalannya acara.
Di banyak wajah calon warga, termasuk Lanyalla, terlihat campuran rasa tegang dan haru. Buat sebagian orang, ini bukan sekadar soal resmi jadi anggota perguruan. Ini soal pengakuan bahwa mereka sudah melewati proses panjang, siap memegang nilai nilai yang dijaga PSHT sejak awal berdiri.
Dari Warga Kehormatan ke Warga Tingkat Satu
Sebelum malam pengesahan itu, Lanyalla sudah dikenal di lingkungan PSHT sebagai warga kehormatan. Status itu menunjukkan adanya hubungan baik dan penghargaan dari perguruan kepada dirinya. Namun status warga kehormatan berbeda dengan warga PSHT yang menjalani seluruh proses latihan dan tahapan resmi. Karena itu, ketika ia memutuskan untuk benar benar menjadi warga PSHT, jalur yang ditempuh pun harus sama seperti calon warga lain.
Keputusan ini yang membuat banyak mata tertuju. Seorang pejabat negara, dengan jabatan tinggi, mau mengikuti proses dari awal, bukan hanya menerima gelar simbolis. Di sini terlihat jelas, bahwa ia ingin diakui bukan hanya karena posisinya, tapi karena kesediaannya menjalani seluruh rangkaian yang sudah ditetapkan perguruan.
Perjalanan Latihan dan Seleksi
Sebelum sampai ke pengesahan, ada tahapan panjang yang harus dilewati calon warga PSHT. Mereka mengikuti latihan rutin, ujian internal, dan penilaian dari pelatih serta pengurus. Pelatih menilai bukan hanya kemampuan fisik dan teknik bela diri, tapi juga sikap, kedisiplinan, dan cara calon warga membawa diri di tengah lingkungan sekitar.
Dalam kasus Lanyalla, proses ini pun tetap dijalankan. Informasi dari pengurus PSHT menyebutkan, sebelum disahkan, ia harus ikut latihan, tes calon warga, sampai seleksi yang memastikan apakah ia benar benar siap menjadi warga atau belum. Baru setelah dinyatakan memenuhi syarat, ia melangkah ke tahap berikutnya, yaitu tes ayam jago yang begitu melekat dengan tradisi PSHT.
Empat Tahap Sabuk yang Harus Dilalui
Di PSHT, perjalanan menuju pengesahan warga tingkat satu tidak bisa dilewati dengan cara instan. Ada tahapan sabuk yang menggambarkan proses peningkatan kemampuan dan kedewasaan seorang pesilat. Untuk sampai di tingkat satu, calon warga melewati empat tahap sabuk, yaitu hitam polos, jambon, hijau, dan putih. Masing masing punya makna dan standar kemampuan yang harus dipenuhi.

Sabuk hitam polos menggambarkan tahap awal, saat seseorang baru saja menapak di dunia PSHT. Sabuk jambon dan hijau menggambarkan proses penguatan fisik, mental, dan pemahaman gerak. Sementara sabuk putih menjadi penanda bahwa seseorang sudah siap menanggung tanggung jawab sebagai warga, bukan hanya sebagai siswa.
Tes Ayam Jago yang Jadi Sorotan
Di antara semua tahapan menuju pengesahan, tes ayam jago selalu jadi pembicaraan. Tradisi ini seolah menjadi pintu terakhir sebelum seseorang benar benar diterima sebagai warga. Lanyalla pun mengikuti tahapan ini seperti calon warga lain, mengikuti jadwal tes yang digelar PSHT sebelum malam pengesahan.
Bagi orang luar, istilah tes ayam jago mungkin terdengar unik. Namun di lingkungan PSHT, ini adalah hal yang sangat familiar dan sarat makna. Di banyak daerah, tes ayam jago digelar sebagai rangkaian resmi sebelum pengesahan. Calon warga datang membawa ayam jago yang sudah mereka rawat dan siapkan khusus.
Tradisi Khusus di Keluarga PSHT
Tes ayam jago bukan sekadar adu ayam seperti yang sering disalahpahami sebagian orang. Dalam penjelasan pengurus dan tokoh PSHT di berbagai kesempatan, tes ini adalah tradisi yang sudah lama mengiringi proses pengesahan. Bentuk kegiatannya bisa berbeda di tiap cabang, tapi intinya adalah menguji kesiapan, kedisiplinan, dan tanggung jawab calon warga terhadap amanah yang dipegangnya.
Di beberapa daerah, tes ayam jago dilakukan dalam rangkaian kegiatan yang diawasi ketat oleh pelatih dan pengurus. Ayam yang dibawa bukan sembarang ayam. Calon warga biasanya memilih ayam yang sehat, kuat, dan benar benar mereka rawat. Proses merawat ayam dari awal sampai hari tes dianggap sebagai latihan tanggung jawab kecil yang merefleksikan cara seseorang menjaga kepercayaan yang lebih besar.
Pada Lanyalla, keikutsertaan dalam tes ayam jago menunjukkan bahwa ia menerima sepenuhnya tradisi yang berlaku di PSHT. Ia tidak meminta pengecualian karena status atau jabatannya. Ia ikut antre, ikut menyiapkan ayam, dan menjalani rangkaian kegiatan seperti calon warga lainnya.
Simbol Tanggung Jawab dan Mental Calon Warga
Di balik tes ayam jago, ada pesan yang cukup dalam. Tokoh tokoh PSHT sering menjelaskan bahwa ayam jago di sini bukan sekadar hewan peliharaan, tetapi simbol keberanian, kewaspadaan, dan kesigapan. Ayam jago dikenal sebagai hewan yang berani, tangguh, dan selalu siap ketika terusik. Sifat sifat inilah yang diharapkan tertanam pada calon warga PSHT.
Selain itu, proses mempersiapkan ayam jago juga melatih kesabaran. Merawat, memberi makan, menjaga kesehatan, sampai memastikan ayam siap di hari tes bukan pekerjaan semalam. Di situ terlihat bagaimana calon warga mengelola waktunya, komitmennya, dan kedisiplinannya.
Buat calon warga yang muda muda, kegiatan ini sering jadi momen seru sekaligus menegangkan. Sedangkan untuk sosok seperti Lanyalla, tes ini memberi pesan kuat bahwa di hadapan tradisi PSHT, semua orang sama. Yang membedakan bukan jabatan, tetapi kesungguhan menjalani proses.
Sehari Bersama Lanyalla di Arena Tes Ayam Jago
Bayangkan suasana di satu area latihan PSHT ketika tes ayam jago digelar. Suara ayam berkokok saling bersahutan, calon warga sibuk memeriksa kondisi ayam masing masing, sementara pelatih dan pengurus mondar mandir mengatur jalannya kegiatan. Di antara kerumunan itu, ada Ketua DPD RI yang ikut larut dalam suasana, bukan sebagai tamu terhormat, tapi sebagai peserta.
Informasi dari laman resmi Lanyalla menyebutkan, tes ayam jago yang ia jalani digelar pada Minggu 7 Agustus 2022, sebagai bagian dari proses pengesahan dirinya menjadi warga PSHT Pusat Madiun.
Datang sebagai Ketua DPD Pulang sebagai Saudara
Sebagai pejabat negara, kehadiran Lanyalla tentu saja jadi perhatian. Namun, yang menarik adalah cara ia memosisikan diri. Ia tidak datang dengan protokol berlebihan. Ia hadir sebagai calon warga yang ingin menjalani tradisi perguruan dengan penuh rasa hormat.
Ketika semua rangkaian selesai dan ia akhirnya disahkan sebagai warga PSHT tingkat satu, statusnya di mata banyak orang pun berubah. Ia bukan lagi hanya ketua lembaga tinggi negara yang kebetulan punya kedekatan dengan PSHT. Ia menjadi bagian utuh dari keluarga besar perguruan, yang terikat oleh nilai persaudaraan, bukan sekadar hubungan formal.
Gaya Santai tapi Tetap Tunduk pada Aturan Perguruan
Di tengah kegiatan, beberapa pengurus PSHT menilai bahwa yang membuat sosok Lanyalla menarik adalah kesediaannya mengikuti aturan main tanpa minta dispensasi. Ia berlatih, ikut tes calon warga, menjalani seleksi, sampai akhirnya boleh ikut tes ayam jago.
Gaya komunikasinya pun cenderung santai. Ia tidak segan menyapa para pesilat muda, bercanda kecil, sampai berbagi cerita tentang pentingnya menjaga fisik dan mental. Namun ketika prosesi dimulai, ia kembali serius dan mengikuti setiap instruksi dengan taat.
Cara PSHT Memandang Sosok Lanyalla
Bagi PSHT, Lanyalla tidak sekadar pejabat publik yang hadir di acara perguruan. Sekretaris II Pusat PSHT, Arie Mahendra, pernah menyampaikan bahwa Lanyalla dinilai punya dedikasi, loyalitas, dan pengabdian yang baik terhadap PSHT. Ia tidak hadir hanya ketika panggung besar tersedia, tapi terlibat dalam banyak momen penting perguruan.
Kesan ini yang membuat pengurus PSHT merasa wajar ketika akhirnya Lanyalla benar benar disahkan sebagai warga. Ia sudah melalui proses yang tidak pendek, dan hubungan emosionalnya dengan perguruan terlihat bukan basa basi.
Loyalitas dan Pengabdian yang Sudah Teruji
Loyalitas di lingkungan perguruan silat bukan sekadar soal sering datang ke acara. Loyalitas tercermin dari cara seseorang ikut menjaga nama baik perguruan, ikut menyambung nilai nilai yang dijaga pendiri, dan siap berdiri di depan ketika perguruan butuh dukungan. Di mata PSHT, hal hal seperti ini yang dilihat dari sosok Lanyalla.
Sebagai figur publik, ia ikut membawa nama PSHT di ruang ruang yang mungkin tidak pernah dijangkau pesilat biasa. Saat berbicara soal kebudayaan, olahraga, atau peran anak muda, ia punya ruang untuk menyelipkan pesan tentang pentingnya seni bela diri dan persaudaraan.
Harapan Agar Tetap Merangkul Semua Kalangan
Pengurus PSHT juga terang terangan berharap, sebagai pejabat negara dan warga PSHT, Lanyalla bisa terus menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat tanpa membeda bedakan latar belakang. Harapan ini bukan hanya untuk kepentingan perguruan, tetapi juga untuk banyak komunitas lain yang membutuhkan suara di level pusat.
Di titik ini, peran Lanyalla jadi ganda. Di satu sisi, ia adalah saudara seperguruan yang terikat nilai Setia Hati. Di sisi lain, ia adalah pejabat yang duduk di lembaga negara dengan kewenangan tertentu. Kolaborasi dua identitas ini yang diharapkan bisa melahirkan keputusan keputusan yang lebih peka terhadap kebutuhan masyarakat akar rumput.
Sekilas tentang PSHT dan Jejak Panjangnya
Untuk memahami kenapa pengesahan dan tes ayam jago punya makna besar, kita perlu sedikit menengok siapa sebenarnya PSHT. Persaudaraan Setia Hati Terate adalah salah satu perguruan pencak silat besar di Indonesia yang berakar dari Jawa Timur. Cikal bakalnya terkait dengan perkembangan aliran Setia Hati yang mulai dirintis awal abad ke dua puluh, lalu berkembang dan resmi memakai nama Persaudaraan Setia Hati Terate pada kongres pertama di Madiun tahun 1948.
Seiring waktu, PSHT berkembang menjadi organisasi bela diri dengan jutaan anggota yang tersebar di ratusan kabupaten kota di Indonesia, bahkan punya cabang di berbagai negara seperti Malaysia, Belanda, Rusia, Hong Kong, sampai Jepang dan beberapa negara Eropa lainnya.
Dari Madiun ke Berbagai Negara
Berawal dari Madiun, PSHT pelan pelan membangun jaringan latihan di banyak daerah. Di kota kecil, desa, sampai kawasan perkotaan besar, kita bisa dengan mudah menemukan tempat latihan PSHT di lapangan kampung, halaman sekolah, atau gedung olahraga. Kegiatan latihan biasanya digelar malam hari, ketika para siswa sudah selesai sekolah atau bekerja.
Ekspansi ke luar negeri pun terjadi seiring banyaknya perantau Indonesia yang membawa identitas PSHT ke negara tempat mereka menetap. Di sana, PSHT tidak hanya menjadi tempat latihan bela diri, tetapi juga ruang berkumpulnya diaspora Indonesia, tempat melepas rindu pada kampung halaman dan kebudayaan sendiri.
Spirit Persaudaraan yang Menyebar ke Beragam Profesi
Menariknya, warga PSHT tidak hanya datang dari kalangan pesilat atau atlet profesional. Banyak yang berasal dari kalangan pekerja, pelajar, pengusaha, bahkan pejabat publik. Kehadiran tokoh seperti Lanyalla hanya salah satu contoh bagaimana perguruan ini merangkul berbagai latar belakang.
Pertemuan lintas profesi di dalam satu wadah persaudaraan seperti ini sering melahirkan jaringan sosial yang kuat. Di lapangan latihan, orang tidak diukur dari jabatan atau rekening bank, tetapi dari sikap, kemampuan menjaga teman latihan, dan kesungguhan menjalani nilai yang diajarkan perguruan.
Tes Ayam Jago dalam Kacamata Anak Muda
Kalau melihat dari luar, tes ayam jago mungkin terdengar kuno di telinga sebagian anak muda. Di era yang serba digital, tradisi seperti ini bisa saja disalahpahami. Namun, di banyak cabang PSHT, justru anak anak muda yang paling semangat menyiapkan ayam jago untuk tes.
Buat mereka, tes ayam jago bukan aktivitas terpisah dari latihan silat. Ini bagian dari perjalanan yang diceritakan turun temurun oleh pelatih dan warga senior. Ada kebanggaan tersendiri ketika bisa bilang, “Aku sudah lewat tes ayam jago,” apalagi kalau bisa diceritakan ke adik adik kelas latihan.
Bukan Sekedar Bawa Ayam ke Lapangan
Dalam praktiknya, tes ayam jago tidak sekadar membawa hewan ke lapangan lalu selesai. Ada tahapan pengecekan, ada instruksi dari pengurus, ada aturan yang harus dipatuhi agar kegiatan berjalan aman dan tertib. Aparat keamanan dan pemerintah daerah di banyak tempat bahkan ikut hadir untuk memastikan kegiatan berlangsung kondusif, mengingat jumlah peserta biasanya sangat besar.
Keterlibatan begitu banyak pihak menunjukkan bahwa tradisi ini sudah dipahami sebagai bagian dari pembinaan karakter, bukan sekadar acara seremonial. Di situ, calon warga belajar mengendalikan emosi, menghormati keputusan panitia, dan bekerja sama dengan peserta lain.
Latihan Kesabaran di Era Serba Cepat
Di era serba instan, merawat ayam jago untuk tes adalah bentuk latihan kesabaran yang tidak semua orang sanggup jalani. Calon warga harus mengalokasikan waktu, tenaga, bahkan biaya untuk memastikan ayam tetap sehat dan bugar. Ada yang rela bangun lebih pagi hanya untuk memberi makan, membersihkan kandang, atau sekadar memastikan ayam tidak cedera.
Buat anak muda yang hidup di tengah gempuran gawai dan aktivitas digital, rutinitas seperti ini menghadirkan ritme berbeda. Ada momen hening ketika mereka sendiri di kandang ayam, ada ruang refleksi kecil yang mungkin tidak mereka sadari, bahwa mereka sedang belajar mengurus sesuatu di luar diri sendiri.
Pesan Lanyalla soal Persaudaraan dan Bela Diri
Sebagai pejabat publik, Lanyalla tidak melepaskan jabatannya begitu saja ketika berbicara setelah proses pengesahan. Ia tetap menyadari bahwa dirinya memegang amanah sebagai Ketua DPD RI yang bertugas menyerap dan memperjuangkan aspirasi masyarakat di daerah. Namun kini, ia melakukannya juga sebagai bagian dari keluarga besar PSHT.
Dalam beberapa kesempatan, ia menyampaikan bahwa seni bela diri seperti pencak silat punya peran penting dalam membangun karakter generasi muda. Arena latihan bukan hanya tempat mengasah tendangan dan pukulan, tapi juga ruang belajar soal disiplin, saling menghormati, dan keberanian berdiri di sisi yang benar.
Arena Silat sebagai Ruang Bertemu Berbagai Latar
Pesan soal persatuan sering ia kaitkan dengan suasana di lapangan latihan PSHT. Di sana, kata dia, orang dari berbagai latar belakang bisa berkumpul tanpa saling curiga. Tidak penting apa jabatan seseorang di luar, begitu masuk ke gelanggang, semua kembali belajar dari gerakan dasar, saling membantu mengoreksi kesalahan, dan membangun kekompakan dalam satu ikatan persaudaraan.
Dengan cara ini, perguruan silat seperti PSHT bukan hanya melahirkan atlet. Ia melahirkan jaringan sosial yang kerap lebih kuat daripada jaringan formal, karena tumbuh dari kebersamaan yang ditempa lewat keringat.
Dari Lapangan Latihan ke Gedung Senayan
Satu hal yang cukup menarik adalah bagaimana Lanyalla melihat jembatan antara lapangan latihan dan gedung gedung kekuasaan di Jakarta. Ia menyebut bahwa aspirasi yang lahir dari komunitas seperti PSHT tidak boleh berhenti di arena latihan. Aspirasi itu harus bisa naik ke meja kebijakan, supaya kebutuhan dan suara mereka ikut dipertimbangkan.
Di titik ini, kedudukannya sebagai warga PSHT sekaligus Ketua DPD RI memberi perspektif yang unik. Ia tidak lagi melihat perguruan sebagai pihak luar yang datang meminta tolong. Ia berada di dalamnya, merasakan ritme latihan, memahami tradisi, dan pada saat yang sama punya akses ke ruang pengambilan keputusan.
Gaung PSHT di Kalangan Pejabat dan Warga Biasa
Malam pengesahan yang dihadiri Lanyalla bukan acara kecil. Selain dirinya, ada beberapa senator lain yang juga disahkan sebagai warga PSHT. Hal ini menunjukkan bahwa gaung perguruan ini memang sudah lama sampai ke lingkaran pejabat negara.
Di sisi lain, ribuan calon warga yang hadir berasal dari berbagai latar. Ada karyawan, pelajar, mahasiswa, pengusaha kecil, sampai pekerja harian. Mereka berkumpul dalam satu gedung, mengenakan seragam yang sama, mengikuti instruksi yang sama, dan mengucapkan janji yang sama.
Saat Pencak Silat Menjadi Rumah Kedua
Bagi banyak orang yang hadir malam itu, PSHT sudah lebih dari sekadar tempat latihan. Ini adalah rumah kedua, tempat mereka belajar jatuh bangun bersama, tempat mereka menemukan keluarga baru yang akan hadir di banyak fase hidup. Ketika seorang pejabat tinggi seperti Lanyalla memutuskan untuk lewat jalur yang sama, menjalani tes ayam jago, dan ikut pengesahan seperti warga lain, hal itu memberi pesan yang cukup jelas.
Pesan bahwa di hadapan nilai persaudaraan, semua orang bisa duduk sejajar. Bahwa tradisi yang dijaga turun temurun masih relevan, selama dijalani dengan hati yang tulus. Dan bahwa di balik sorot lampu panggung politik, selalu ada ruang ruang kecil seperti gelanggang latihan PSHT, tempat karakter seseorang benar benar ditempa tanpa banyak kata.