Di saat banyak pelaku usaha lagi dihantam perubahan harga bahan baku, selera pasar yang cepat bergeser, sampai arus kas yang kadang seret tanpa aba aba, satu hal yang paling sering hilang bukan ide, tapi keyakinan untuk tetap jalan. Di titik itu, RichWorks muncul membawa pendekatan yang bukan cuma “semangat semangat”, tapi juga sesi pembinaan yang dirancang buat bikin pengusaha lebih siap secara strategi, tim, dan jejaring, khususnya lewat program Inner Circle Meeting atau ICM.
Ketidakpastian bukan alasan berhenti, tapi sinyal untuk naik level
Ketidakpastian ekonomi itu nyata, dan pelaku usaha biasanya jadi pihak pertama yang merasakan getarannya. Dalam pernyataan yang dikutip dari kegiatan ICM di Jakarta, pengusaha kuliner Iwan Fabian menyebut ekonomi dunia sedang ada dalam situasi tidak pasti dan tidak stabil, sehingga pengusaha perlu menjaga optimisme saat persaingan industri makin ketat.
Optimisme yang dimaksud di sini bukan menutup mata dari risiko, melainkan menyiapkan diri agar bisnis tidak gampang limbung. Cara berpikirnya bergeser dari “semoga aman” menjadi “apa yang harus diperkuat hari ini”, mulai dari kualitas SDM, sistem kerja, sampai cara membaca peluang yang sering tersembunyi di balik krisis.
Optimisme yang sehat itu berbasis latihan, bukan sekadar feeling
Ada perbedaan besar antara optimis karena sedang ramai order, dengan optimis karena tahu langkah apa yang harus diambil saat order turun. Iwan juga menekankan pentingnya mengasah SDM untuk mendorong ekonomi dan melahirkan generasi pengusaha yang bisa mengambil peluang.
Kalau diterjemahkan ke praktik harian, “mengasah SDM” itu bisa berarti memperjelas jobdesk, melatih frontliner supaya paham produk, membangun kebiasaan evaluasi, dan membuat tim tidak hanya sibuk, tapi produktif.
ICM jadi ruang belajar yang sekaligus ruang jaringan
Dalam rangka meningkatkan kapasitas pengusaha, RichWorks berkolaborasi dengan Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif untuk menggelar Inner Circle Meeting pada 6 sampai 10 Maret 2023 di Jakarta.
Yang menarik, narasinya tidak berhenti di “kelas pelatihan”. RichWorks juga menekankan pentingnya kemitraan antar pelaku bisnis, supaya peserta tidak pulang membawa catatan doang, tapi juga membawa akses: akses diskusi, akses peluang kolaborasi, dan akses pasar yang mungkin selama ini tidak kebuka.
Dari kelas ke kolaborasi: pengusaha diajak tidak jalan sendirian
CEO RichWorks Indonesia, Aryani Firdaus, menyoroti bahwa meski proyeksi pemulihan ekonomi bisa terlihat stabil, pelaku usaha tetap perlu waspada menghadapi tantangan seperti inflasi, kenaikan suku bunga, dan rantai pasok global yang terganggu.
Di sisi lain, Aryani juga menekankan bahwa UMKM perlu inovatif dan adaptif, serta menjadikan kolaborasi sebagai faktor penopang. Ini yang bikin program seperti ICM terasa relevan: peserta dilatih untuk berpikir lebih taktis, tapi juga ditarik masuk ke ekosistem relasi yang bisa mempercepat pertumbuhan.
Mengapa banyak pengusaha mencari mentor saat situasi tidak menentu
Dalam cerita Iwan, kebutuhan utamanya sederhana: ia butuh mentor untuk menjalankan usaha. Ia bahkan menyebut dirinya direkomendasikan bergabung oleh Sandiaga Uno, dan yang ia dapat bukan hanya mentorship, tapi juga konsultasi bisnis, termasuk cara melangkah serta membangun leadership dan team building.
Kalau dibedah, ini menjawab problem klasik pengusaha: bisnisnya jalan, tapi kepala pemiliknya capek karena semua ditarik sendiri. Mentoring yang kuat biasanya membantu pengusaha memindahkan “pusat kendali” dari otot pemilik ke sistem perusahaan, sehingga bisnis bisa tumbuh tanpa membuat pemiliknya habis tenaga.
Konsultasi bisnis itu sering lebih dibutuhkan daripada motivasi
Motivasi memang penting, tapi konsultasi yang tajam biasanya lebih menyelamatkan. Pengusaha sering perlu cermin dari orang luar: harga sudah tepat atau belum, menu terlalu banyak atau tidak, promosi sudah sesuai karakter pelanggan atau asal rame, dan tim bekerja karena paham target atau karena takut dimarahi.
Di titik ini, mentoring menjadi alat untuk merapikan cara berpikir. Bukan untuk menggurui, tapi untuk memaksa bisnis punya ukuran, punya prioritas, dan punya rencana yang bisa dieksekusi.
RichWorks membawa konteks “naik kelas” lewat kolaborasi dengan Kemenparekraf
Kolaborasi RichWorks dengan Kemenparekraf juga tercermin sejak program pembekalan pelaku ekonomi kreatif dan UMKM di Bali. Dalam liputan kegiatan tersebut, disebutkan ratusan pengusaha dipersiapkan dengan bekal pengetahuan kewirausahaan, dan pembimbing kewirausahaan Datuk Wira Dr. Azizan Osman fokus pada sesi business coaching serta materi strategi keberlanjutan bisnis.
Kolaborasi seperti ini biasanya penting karena menyatukan dua kebutuhan. Dari sisi pemerintah, ada target penguatan UMKM dan penciptaan kerja. Dari sisi pelaku usaha, ada kebutuhan “tools” yang bisa langsung dipakai untuk memperbaiki penjualan, tim, dan operasi.

Pembinaan yang tidak berhenti di seminar
Dalam pemberitaan lain, disebutkan ada skema pembinaan yang cukup panjang, termasuk mentoring beberapa bulan untuk pelaku UMKM terpilih. Contohnya, 30 pelaku UMKM disebut mendapatkan mentor gratis pembinaan bisnis ICM Indonesia selama 6 bulan dengan nilai sponsorship total Rp6,4 miliar.
Model seperti ini penting karena problem bisnis jarang selesai hanya dengan satu kali pelatihan. Yang dibutuhkan adalah pendampingan ketika pengusaha kembali ke toko, kembali ke dapur produksi, kembali menghadapi karyawan, dan kembali bertemu realita pasar.
“Bikin pengusaha optimis” artinya menguatkan tiga hal ini
Kalau kalimat “bikin optimis” diterjemahkan ke ukuran yang lebih nyata, biasanya jatuh ke tiga penguatan: cara berpikir, cara memimpin, dan cara membangun jejaring. Di ICM, peserta disebut mendapatkan training, motivasi, relasi, dan networking sebagai satu paket.
Optimisme muncul saat pengusaha merasa tidak sendirian, tahu langkah yang harus dikerjakan, dan punya komunitas untuk bertanya. Ini beda dengan optimisme yang cuma muncul karena unggahan kata kata motivasi.
Satu, cara berpikir yang lebih rapi saat pasar berubah
Pengusaha yang tahan banting biasanya cepat mengubah pertanyaan. Bukan lagi “kenapa pelanggan sepi”, tapi “produk mana yang paling dicari, dan apa yang harus dipangkas”. Bukan lagi “iklan tidak jalan”, tapi “channel mana yang paling efisien”.
Saat pola pertanyaan berubah, tindakan juga ikut berubah. Itu yang sering membuat bisnis lebih stabil meski situasi luar tidak stabil.
Dua, leadership dan team building supaya pemilik tidak jadi bottleneck
Iwan menyebut bahwa ia mendapatkan arahan untuk membangun leadership dan team building. Ini krusial karena banyak UMKM macet di tahap tertentu bukan karena produknya jelek, tapi karena timnya tidak solid dan keputusan terlalu tergantung pemilik.
Leadership yang sehat bikin tim berani ambil tanggung jawab, sementara team building yang benar membuat target jadi urusan bersama, bukan beban satu orang.
Tiga, relasi dan networking yang relevan dengan kebutuhan bisnis
Networking yang relevan bukan sekadar tukar kartu nama. Yang dicari pengusaha biasanya tiga hal: pemasok yang lebih stabil, mitra promosi yang tepat sasaran, dan teman diskusi yang bisa memberi perspektif baru.
Ketika RichWorks menekankan kemitraan antar pelaku usaha agar bisa mendiskusikan strategi menghadapi tantangan ekonomi, itu sebenarnya cara halus untuk bilang: bertahan sendirian itu berat, bangun bareng bareng itu lebih realistis.
Untuk pengusaha Jawa Timur yang ingin “membawa pulang” ilmunya
Buat pelaku usaha di Surabaya, Malang, Sidoarjo, Gresik, sampai Jember, inti pembelajaran seperti ini baru terasa kalau diterapkan. Jadi setelah ikut sesi pelatihan atau mentoring, pekerjaan rumahnya bukan menumpuk modul, tapi memilih satu sampai dua perubahan yang paling berdampak.
Mulailah dari yang paling dekat dengan uang masuk. Rapikan cara menawarkan produk, rapikan cara tim melayani, lalu rapikan cara produksi dan stok. Setelah itu baru masuk ke perluasan pasar, inovasi menu atau varian, dan ekspansi kanal penjualan.
Ukur perubahan dengan angka sederhana, bukan perasaan
Tidak perlu rumit. Cukup ukur penjualan harian, margin per produk, jumlah transaksi, dan biaya promosi per order. Angka angka ini membantu pengusaha tetap tenang saat situasi luar berisik, karena keputusan dibuat berdasarkan data sederhana yang bisa dipantau.
Kalau angka membaik, optimisme jadi wajar. Kalau angka turun, langkah koreksinya juga lebih jelas. Dan di situlah “optimis menghadapi ketidakpastian” punya arti yang benar: bukan yakin tanpa alasan, tapi yakin karena punya kendali atas proses bisnisnya.