Sore yang biasanya tenang di Ulujami mendadak berubah jadi suasana darurat. Hujan deras mengguyur wilayah Pesanggrahan dan air kali yang perlahan naik tiba tiba masuk ke permukiman. Dalam hitungan waktu yang tidak lama, sekitar 130 warga harus meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Malam yang berubah jadi situasi darurat
Awalnya banjir terlihat masih dalam kategori ringan. Air hanya mengalir di jalan kecil dan belum masuk rumah. Banyak warga masih santai karena merasa ini seperti banjir banjir sebelumnya. Namun keadaan berubah drastis ketika air naik lebih cepat dari perkiraan dan mulai menggenangi rumah warga.
Hanya perlu beberapa menit untuk membuat warga sadar bahwa kondisi sudah tidak bisa ditahan lagi. Barang barang sudah mulai terendam, listrik harus dimatikan, dan suara warga saling memanggil mulai terdengar di sepanjang gang.
Dari sebetis ke seleher dalam waktu singkat
Ketinggian air yang awalnya hanya sebetis tiba tiba melonjak sampai setinggi dada bahkan leher orang dewasa. Air masuk dengan cepat lewat gang gang kecil yang mengarah ke pemukiman padat. Warga yang awalnya mencoba menyelamatkan barang barang penting akhirnya menyerah dan memilih keluar demi keselamatan.
Beberapa warga menyebut bahwa perubahan tinggi airnya sangat cepat. Ketika sedang menyelamatkan perabot, mereka mendadak harus naik ke meja atau meraih pintu untuk keluar karena arus bergerak makin kuat.
Tiga RT di kawasan Perdatam jadi titik terdampak paling berat
Banjir paling parah terjadi di tiga RT yang berada di kawasan sekitar Jalan Perdatam. Lokasinya yang dekat dengan aliran kali membuat area ini langsung menerima luapan air paling besar. Rumah rumah yang berada di dekat bantaran menjadi yang pertama kemasukan air.
Meskipun banyak warga sudah melakukan langkah antisipasi seperti meninggikan lantai rumah, genangan kali ini jauh lebih tinggi dari biasanya.
Variasi tinggi air namun sama sama merepotkan
Ketinggian banjir berbeda di setiap titik. Di beberapa rumah air mencapai 50 sampai 80 cm, namun di area yang paling rendah tinggi air bisa mencapai lebih dari 1 meter. Warga yang tinggal paling dekat dengan aliran air bahkan melaporkan banjir mencapai sekitar 1,5 meter.
Dengan kondisi begitu, akses keluar masuk permukiman hampir tidak mungkin dilalui kendaraan. Motor tidak bisa lewat, warga hanya bisa berjalan pelan sambil menahan arus dan memastikan langkah mereka aman.
Ketika air masuk cepat, barang rumah banyak yang tidak terselamatkan
Banjir kali ini datang dalam keadaan yang sulit diprediksi. Banyak warga yang awalnya mencoba mengangkat perabot ke tempat yang lebih tinggi akhirnya tidak sempat karena air datang terlalu cepat. Beberapa barang berharga seperti elektronik, dokumen penting, hingga pakaian banyak yang terendam.
Warga hanya bisa membawa barang ringan dan penting seperti HP, dompet, pakaian seperlunya, serta obat obatan untuk masuk ke tempat pengungsian.
Evakuasi spontan tanpa banyak waktu berpikir
Saat air makin tinggi dan arus makin kuat, warga di wilayah dekat bantaran langsung evakuasi. Sebagian menuju rumah tetangga yang posisinya lebih tinggi, sebagian lainnya ke musala, rumah warga yang aman, atau titik pengungsian yang dibuka dengan cepat.
Di tengah kepanikan itu, warga saling membantu mengangkat anak kecil, ibu hamil, lansia, hingga warga yang sedang sakit.
Pengungsian dadakan mulai dibuka, 130 warga memilih keluar rumah
Tempat pengungsian dibuka secara bertahap. Warga yang terdampak mulai berdatangan membawa kantong plastik berisi pakaian seadanya. Ada yang datang dengan pakaian basah kuyup, ada yang membawa anak kecil di gendongan sambil terus mengusap air hujan dari wajah mereka.
Dalam kondisi seperti ini, kebutuhan dasar langsung terasa. Selimut, makanan hangat, air bersih, serta tempat beristirahat menjadi hal yang paling dicari.
Fokus utama tetap pada kelompok rentan
Anak anak, lansia, dan ibu hamil menjadi prioritas evakuasi. Mereka langsung diarahkan ke titik pengungsian dengan penerangan memadai dan kondisi yang lebih aman. Kondisi listrik di beberapa titik sengaja dimatikan untuk menghindari hal yang tidak diinginkan.
Di pos pengungsian darurat, suasana tetap ramai namun lebih terorganisir. Warga duduk berdekatan sambil menghangatkan tubuh dan saling bertukar cerita tentang bagaimana banjir masuk ke rumah masing masing.
Petugas gabungan turun membantu warga
Setelah laporan masuk mengenai tingginya air, petugas gabungan mulai bergerak. Evakuasi dilakukan menggunakan perahu karet untuk warga yang rumahnya terendam paling tinggi. Selain itu, layanan kesehatan dibuka untuk mengantisipasi keluhan gatal gatal, luka ringan, hingga sesak napas akibat udara lembap.
Dapur umum juga disiapkan dengan cepat untuk memastikan warga mendapatkan makanan layak selama mengungsi.
Koordinasi lintas sektor ikut menyelamatkan keadaan
Petugas dari berbagai sektor ikut membantu. Ada tenaga kesehatan, dinas sosial, petugas pemadam, aparat wilayah, hingga petugas keamanan yang berjaga agar situasi tetap kondusif.
Sementara itu, tim teknis mulai meninjau lokasi banjir dan memastikan kondisi aliran air serta memastikan tidak ada risiko tambahan seperti korsleting listrik atau kerusakan infrastruktur.
Warga mengaku banjir kali ini lebih parah dari biasanya
Banjir memang bukan hal baru bagi warga Ulujami, tetapi kali ini kondisinya jauh lebih berat. Warga mengatakan bahwa biasanya air masih bisa diprediksi naiknya, namun kali ini sangat cepat dan tinggi.
Beberapa warga juga menyebut bahwa tanda tanda air meluap sebenarnya sudah terlihat, tetapi kenaikannya sangat drastis sehingga mereka tidak punya banyak waktu untuk bersiap.
Ketegangan yang terasa bahkan setelah air mulai surut
Walaupun air perlahan mulai turun, ketegangan masih terasa. Banyak warga masih memilih bertahan di pengungsian karena kondisi rumah belum memungkinkan ditinggali kembali. Selain genangan, lumpur dan sampah memenuhi lantai, membuat proses pembersihan jadi pekerjaan yang berat.
Bantuan dari berbagai pihak masih sangat dibutuhkan terutama dalam bentuk makanan, air bersih, perlengkapan bayi, obat obatan, serta alat kebersihan.
Ketika air surut pekerjaan berat baru benar benar dimulai
Membersihkan rumah dari lumpur tebal membutuhkan waktu lama dan tenaga ekstra. Banyak barang yang harus dibuang karena sudah terlalu rusak. Di tengah kelelahan itu, kesehatan warga juga harus diperhatikan.
Keluhan seperti gatal, batuk, diare, hingga luka kecil menjadi hal yang umum terjadi setelah banjir. Karena itu posko kesehatan masih tetap beroperasi untuk memastikan warga mendapatkan bantuan medis dengan cepat.