SURABAYA. Awal tahun ini dibuka dengan sinyal cuaca yang tidak santai. BMKG Stasiun Meteorologi Juanda mengeluarkan peringatan kewaspadaan potensi cuaca ekstrem di Jawa Timur untuk periode 1 hingga 10 Januari 2026. Polanya bukan sekadar hujan rutin, melainkan hujan sedang sampai lebat yang bisa datang mendadak, disertai petir dan angin kencang, lalu berujung pada bencana hidrometeorologi di titik titik rawan.
Di saat banyak orang masih sibuk arus balik libur tahun baru, peringatan ini jadi pengingat bahwa rute darat, laut, sampai aktivitas harian di permukiman padat bisa ikut kena imbas. Daftar wilayah yang masuk kewaspadaan pun mencakup 38 kabupaten kota, praktis nyaris menyapu satu provinsi.
Kenapa BMKG mengunci periode kewaspadaan sampai 10 Januari
Sepuluh hari pertama Januari dipilih bukan karena angka cantik. Dalam rilis kewaspadaan yang dikutip sejumlah media, BMKG Juanda menjelaskan ada kombinasi pemicu yang sedang aktif bersamaan. Mulai dari Monsun Asia, gangguan gelombang atmosfer, sampai kondisi laut yang menambah suplai energi pembentukan awan hujan.
BMKG menyebut, kondisi atmosfer lokal yang labil ikut mendukung pertumbuhan awan konvektif. Ini tipe awan yang kalau sudah jadi, hujannya bisa deras, petirnya rapat, dan anginnya bisa tiba tiba menguat.
Monsun Asia sedang dominan, suplai uap air menguat
Saat Monsun Asia aktif, aliran massa udara lembap dari wilayah utara dan barat cenderung lebih kuat masuk ke Indonesia. Dalam konteks Jawa Timur, BMKG menyebut aktifnya Monsun Asia sebagai salah satu pendorong meningkatnya potensi cuaca ekstrem di awal Januari ini.
Dari kacamata lapangan, efeknya sering terasa sederhana tapi mengganggu, langit cepat gelap, hujan muncul di jam jam yang biasanya hanya berawan, lalu intensitasnya bisa naik dalam waktu singkat. Karena itu BMKG juga menekankan warga dan pemerintah perlu siap menghadapi perubahan cuaca mendadak selama periode kewaspadaan.
Low Frequency dan MJO ikut lewat, pola hujan jadi mudah “meledak”
Selain monsun, BMKG Juanda menyinggung adanya gangguan gelombang atmosfer low frequency dan Madden Julian Oscillation atau MJO yang diprakirakan melintasi Jawa Timur. Istilah ini terdengar teknis, tapi intinya begini, ada “gelombang” di atmosfer yang membuat pembentukan awan hujan jadi lebih gampang dan lebih masif.
Dalam keterangan BMKG yang dikutip media, kombinasi faktor ini diproyeksikan membuat peningkatan cuaca ekstrem terasa signifikan dan berdampak pada aktivitas masyarakat.
Laut sekitar Jatim masih hangat, energi tambahan untuk awan hujan
BMKG juga mengaitkan potensi cuaca ekstrem dengan suhu muka laut di sekitar Jawa Timur, khususnya Selat Madura, yang disebut masih cukup signifikan atau hangat. Laut hangat memasok uap air dan energi untuk menguatkan awan hujan, sehingga hujan bisa bertahan lebih lama atau turun lebih deras.
Di saat yang sama, atmosfer lokal yang labil mempercepat proses “naik turun” massa udara. Hasil akhirnya adalah pertumbuhan awan konvektif yang berpotensi memicu hujan sedang hingga lebat, petir, dan angin kencang.
Daftar 38 kabupaten kota di Jatim yang masuk kewaspadaan BMKG
Wilayah yang diminta waspada bukan hanya satu dua daerah. Rangkaian peringatan BMKG Juanda yang dikutip sejumlah sumber mencantumkan hampir seluruh penjuru Jawa Timur, dari selatan yang bertopografi perbukitan, wilayah tapal kuda, pusat industri di sekitar Surabaya, sampai Madura.
Agar lebih mudah dibaca, berikut pengelompokan wilayah yang disebut berpotensi terdampak dalam periode 1 hingga 10 Januari 2026.
Kawasan selatan dan pegunungan, rawan longsor dan banjir bandang
Daerah yang sering jadi “langganan” hujan lebat di jalur selatan juga masuk daftar kewaspadaan, yaitu Pacitan, Ponorogo, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Kediri, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, Bondowoso, Situbondo, Probolinggo, Pasuruan.
BMKG sendiri mengingatkan wilayah bertopografi curam, bergunung, atau bert tebing perlu ekstra hati hati karena risiko longsor, jalan licin, pohon tumbang, dan jarak pandang menurun bisa ikut muncul saat hujan lebat.

Gerbangkertosusila dan sekitarnya, rawan genangan cepat meluas
Wilayah berpenduduk padat dan aktivitas tinggi juga masuk dalam daftar, yakni Sidoarjo, Mojokerto, Jombang, Nganjuk, Gresik, Lamongan, serta Kota Surabaya dan Kota Mojokerto.
Dalam catatan yang dikutip media, BMKG meminta kesiapsiagaan karena hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang bisa memicu banjir, genangan, sampai gangguan mobilitas harian.
Wilayah barat Jatim, hujan lebat bisa mengganggu lintas utama
Untuk kawasan barat, BMKG mencantumkan Madiun, Magetan, Ngawi, Bojonegoro, Tuban, serta Kota Madiun.
Di jalur jalur penghubung antarkabupaten yang ramai, hujan deras biasanya memunculkan dua masalah sekaligus, jarak pandang menurun dan jalan licin. BMKG juga menekankan kewaspadaan karena perubahan cuaca bisa mendadak dalam periode sepuluh hari awal Januari ini.
Madura Raya, plus Kota Batu yang punya karakter cuaca khas
Untuk Pulau Madura, yang masuk daftar adalah Bangkalan, Sampang, Pamekasan, Sumenep.
Kota Batu juga disebut dalam daftar kewaspadaan. Daerah dataran tinggi seperti ini sering punya hujan yang cepat berubah, dari gerimis menjadi deras, lalu diikuti angin kencang yang cukup mengganggu aktivitas wisata dan lalu lintas lokal.
Bentuk cuaca ekstrem yang diperingatkan, bukan cuma “hujan deras”
Poin pentingnya, BMKG tidak bicara soal hujan saja. Dalam peringatan yang dirujuk media, risiko yang diingatkan mencakup bencana hidrometeorologi, mulai banjir, banjir bandang, longsor, angin kencang, puting beliung, hingga hujan es.
Kalau warga hanya menunggu “banjir besar” baru siaga, biasanya sudah terlambat. Justru kejadian yang sering bikin korban adalah pohon tumbang saat angin kencang, longsor kecil yang menutup akses, dan genangan yang membuat kendaraan tergelincir.
Hujan lebat plus petir, ancaman langsung untuk ruang terbuka
BMKG menyebut potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang.
Artinya aktivitas luar ruang harus lebih disiplin. Petir sering muncul di fase awal awan konvektif, jadi bukan mustahil hujan belum “banjir” tapi petir sudah aktif.
Banjir dan genangan, terutama di permukiman padat
Di kawasan perkotaan, hujan lebat berdurasi singkat saja bisa cukup untuk membuat saluran tidak sanggup menampung debit, lalu air tumpah ke jalan. BMKG mengingatkan hujan lebat berisiko memicu bencana hidrometeorologi, termasuk banjir.
Jika ini berbarengan dengan jam berangkat kerja atau jam pulang, efeknya bisa menjadi macet panjang, kendaraan mogok, dan kecelakaan kecil yang beruntun.
Longsor dan banjir bandang, terutama di lereng dan tebing
BMKG secara spesifik mengingatkan wilayah bertopografi curam, pegunungan, dan tebing untuk lebih waspada karena risiko longsor serta dampak seperti jalan licin dan pohon tumbang.
Longsor tidak selalu besar. Runtuhan kecil pun bisa menutup separuh jalan, membuat kendaraan harus berhenti, lalu memicu antrean panjang di jalur sempit.
Angin kencang, puting beliung, sampai hujan es
BMKG menyebut potensi angin kencang dan puting beliung, bahkan hujan es, sebagai rangkaian risiko yang mungkin muncul saat atmosfer labil mendukung pertumbuhan awan konvektif.
Dalam praktiknya, angin kencang sering muncul sesaat sebelum hujan deras atau tepat ketika hujan berada di puncak intensitas.
Sinyal dari Pemprov Jatim, curah hujan Januari disebut meningkat signifikan
Di sisi pemerintah daerah, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa sempat menyinggung data BMKG Juanda soal potensi peningkatan curah hujan Januari 2026, dan meminta semua pihak siaga, terutama untuk keselamatan pelayaran dan mitigasi cuaca ekstrem.
Dalam pemberitaan detikJatim, Khofifah menyampaikan pemantauan BMKG Juanda menunjukkan intensitas hujan Desember 2025 sekitar 20 persen, sementara Januari diperkirakan meningkat hingga 58 persen, sebelum turun kembali pada Februari. Pemprov juga disebut melakukan Operasi Modifikasi Cuaca sejak 5 Desember 2025 sebagai bagian dari mitigasi.
Angka angka ini menjadi konteks mengapa peringatan BMKG di awal Januari perlu diperlakukan serius, bukan sekadar notifikasi lewat lalu.
Darat, laut, dan jalur wisata, titik rawan yang perlu disorot
Cuaca ekstrem itu paket lengkap. Di darat, hujan lebat memukul visibilitas dan membuat jalan licin. Di laut, angin dan sistem tekanan dapat menaikkan tinggi gelombang. Di kawasan wisata, euforia libur sering membuat orang lengah terhadap tanda tanda alam.
BMKG dalam Prospek Cuaca Mingguan periode 2 sampai 8 Januari 2026 juga mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai cuaca yang bisa berubah sewaktu waktu dan potensi bencana hidrometeorologi, terutama ketika merencanakan perjalanan darat, laut, dan udara, serta kegiatan luar ruang.
Gelombang di perairan Jatim, BMKG Maritim sebut bisa sampai 2,5 meter
Untuk pengguna laut, peringatan datang dari BMKG Maritim Tanjung Perak. Dalam laporan detikJatim, BMKG Maritim mengingatkan gelombang tinggi berpotensi terjadi di sejumlah perairan Jawa Timur pada 2 hingga 5 Januari 2026 dengan ketinggian diprakirakan mencapai 2,5 meter.
Wilayah perairan yang disebut berpotensi mengalami gelombang 1,25 hingga 2,5 meter meliputi perairan Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, Banyuwangi, termasuk perairan Kepulauan Sapudi dan Kangean, juga Masalembo, Bawean, dan Sumenep bagian utara.
BMKG Maritim menjelaskan faktor pemicunya antara lain adanya wilayah tekanan rendah di selatan Jawa, kondisi musim hujan, dan dominasi angin Monsun Asia yang mendorong pertumbuhan awan hujan signifikan di sekitar perairan Jawa Timur.
Ambang aman pelayaran yang disebut BMKG, nelayan diminta realistis
Dalam penjelasan yang sama, BMKG Maritim Tanjung Perak memberi acuan keselamatan pelayaran. Perahu nelayan diminta waspada bila kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang 1,25 meter. Kapal tongkang diminta waspada ketika angin 16 knot dan gelombang 1,5 meter.
Ada juga pesan yang sangat “lapangan”, bila terlihat awan hitam menggumpal mirip bunga kol di atas laut, hentikan sementara aktivitas dan terus perbarui informasi BMKG.
Perairan selatan Jatim, BMKG Maritim menampilkan potensi gelombang sedang
Di laman prakiraan BMKG Maritim untuk Samudra Hindia selatan Jawa Timur, tercantum periode valid 3 Januari 2026 pukul 00.00 hingga 6 Januari 2026 pukul 00.00, dengan informasi potensi gelombang sedang dan peringatan gelombang tinggi berupa potensi gelombang sekitar 2,4 meter pada perairan tersebut.
Ini relevan untuk masyarakat pesisir, pelaku wisata pantai, hingga operator kapal wisata yang sering mengandalkan cuaca cerah untuk jadwal berangkat.
Kanal resmi BMKG yang disarankan, jangan cuma mengandalkan kabar grup
Di momen cuaca labil, informasi paling mahal adalah informasi yang paling cepat dan paling resmi. BMKG Juanda meminta masyarakat rutin memantau perkembangan cuaca ekstrem melalui kanal resmi, termasuk citra radar cuaca WOFI, peringatan dini tiga harian, dan peringatan cuaca 2 sampai 3 jam ke depan.
Dalam informasi yang dimuat iNews Jatim, BMKG Juanda juga mencantumkan rujukan media sosial @infobmkgjuanda, layanan telepon 24 jam (031) 8668989, serta WhatsApp 0895 8003 00011 untuk akses informasi.
BMKG pusat dalam Prospek Cuaca Mingguan juga menegaskan masyarakat bisa memantau prakiraan dan peringatan dini melalui situs BMKG, aplikasi InfoBMKG, serta kanal media sosial resmi.

Cara sederhana memanfaatkan WOFI dan peringatan 2 sampai 3 jam
WOFI pada dasarnya membantu melihat sebaran hujan yang sedang terjadi atau bergerak mendekati wilayah tertentu. Peringatan 2 sampai 3 jam ke depan membantu menentukan keputusan cepat, menunda berangkat, memilih rute, atau mengamankan barang di luar rumah.
Kuncinya adalah disiplin mengecek sebelum pergi, bukan setelah hujan sudah telanjur menghajar.
Bedakan prospek mingguan, peringatan dini tiga harian, dan nowcasting
Prospek mingguan memberi gambaran tren beberapa hari ke depan secara umum, misalnya adanya potensi hujan sedang hingga lebat disertai angin kencang di sejumlah wilayah termasuk Jawa Timur.
Peringatan dini tiga harian lebih spesifik untuk tiga hari, sedangkan nowcasting 2 sampai 3 jam adalah “alarm” paling dekat untuk keputusan cepat di lapangan. Kombinasi ketiganya membuat warga tidak buta arah.
Langkah siaga yang realistis untuk pemda, desa, dan warga
Cuaca ekstrem sering membuat orang merasa tidak berdaya, padahal banyak hal yang bisa dilakukan untuk menurunkan risiko. BMKG sendiri menekankan kewaspadaan terhadap perubahan cuaca mendadak dan potensi bencana hidrometeorologi selama periode awal Januari.
Yang diperlukan bukan panik, tapi kerja rapi sejak sebelum hujan deras pertama datang.
Untuk pemda dan petugas lapangan, fokus pada titik rawan yang berulang
Pertama, pastikan peta titik genangan, sungai meluap, dan tebing rawan longsor yang sudah berulang setiap musim hujan benar benar dijaga.
Kedua, siapkan skema penutupan jalan sementara di jalur yang biasa tertimbun material, bukan menunggu korban. BMKG sudah mengingatkan risiko longsor, jalan licin, hingga pohon tumbang, jadi respons lapangan perlu lebih cepat dari biasanya.
Ketiga, untuk wilayah pesisir dan pelabuhan kecil, gunakan rujukan gelombang dari BMKG Maritim dan ambang keselamatan yang sudah disampaikan, jangan memaksa pelayaran ketika parameter sudah melewati batas waspada.
Untuk warga, siaga itu detail kecil yang sering diremehkan
Mulai dari mengecek talang dan saluran air rumah, mengamankan barang di halaman, memastikan atap dan antena tidak longgar, sampai menyiapkan lampu darurat.
Saat hujan lebat disertai angin kencang, hindari berteduh di bawah pohon besar dan hindari parkir dekat baliho atau papan reklame. Risiko pohon tumbang dan benda jatuh adalah ancaman yang paling sering muncul di tengah angin kencang.
Untuk warga yang tinggal dekat lereng, perhatikan tanda awal seperti retakan tanah, air rembesan baru, atau suara gemuruh kecil. BMKG sudah mengingatkan wilayah bertopografi curam lebih rentan longsor saat hujan lebat.
Untuk pelaku wisata dan pengelola destinasi, jangan tunggu viral dulu
Libur panjang membuat kawasan wisata padat, terutama wisata pantai dan air. Khofifah juga mengingatkan kewaspadaan terhadap cuaca ekstrem dan meminta pengawasan lebih ketat di kawasan wisata pantai serta air.
Langkah praktisnya, pasang pengumuman yang jelas ketika cuaca memburuk, batasi aktivitas air saat gelombang naik, dan siapkan jalur evakuasi sederhana bila hujan deras memicu limpasan air mendadak.
Catatan terakhir yang penting, cuaca bisa berubah cepat, jadikan pengecekan sebagai kebiasaan
BMKG Juanda menulis imbauan agar masyarakat dan instansi terkait senantiasa waspada terhadap perubahan cuaca mendadak serta potensi hujan sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang selama periode kewaspadaan.
Dengan kata lain, sepuluh hari awal Januari ini bukan waktu untuk menantang alam. Perbarui informasi dari kanal resmi BMKG, perhatikan kondisi sekitar, dan ambil keputusan yang paling aman ketika langit mulai menunjukkan tanda tandanya.