Kabar duka datang dari Palembang, Sumatera Selatan. Kemas Haji Abdul Alim Ali yang akrab disapa Haji Alim, sosok pengusaha besar yang lama dikenal publik sebagai crazy rich Palembang, dikabarkan meninggal dunia pada Kamis, 22 Januari 2026. Kepergiannya langsung menyebar cepat, dari obrolan keluarga sampai grup WhatsApp warga kota, memantik rasa kehilangan sekaligus perbincangan panjang tentang jejak hidup yang ia tinggalkan.
Di Palembang, nama Haji Alim bukan nama asing. Ada yang mengenangnya sebagai tokoh masyarakat dan dermawan, ada juga yang menaruh perhatian karena statusnya sebagai terdakwa dalam perkara dugaan pemalsuan dokumen Hak Guna Usaha yang terkait proyek jalan tol. Kepergiannya pun membuat kisah hidupnya kembali dibicarakan, bukan hanya sebagai kabar duka, tetapi juga sebagai rangkaian potongan peristiwa yang pernah menempatkan namanya di garis depan pemberitaan.
Kabar Wafat dari Rumah Sakit: Detik Detik yang Diakui Resmi
Berita wafatnya Haji Alim tidak sekadar beredar dari mulut ke mulut. Informasi tersebut ikut dibenarkan pihak penegak hukum yang selama ini menangani perkara yang melibatkan namanya. Haji Alim disebut menghembuskan napas terakhir saat menjalani perawatan medis di rumah sakit yang selama beberapa hari terakhir menjadi tempatnya berjuang melawan kondisi kesehatan yang menurun.
Yang membuat kabar ini cepat menarik perhatian publik adalah kombinasi dua hal. Pertama, Haji Alim dikenal luas sebagai pengusaha dengan jaringan besar di Sumatera Selatan. Kedua, wafatnya terjadi ketika proses hukum yang menjeratnya masih berjalan, dengan agenda sidang yang bahkan sempat dijadwalkan pada hari yang sama.
Wafat pada Kamis Siang, Usia 88 Tahun
Sejumlah sumber menyebut Haji Alim wafat pada pukul 14.25 WIB di Palembang, dalam usia 88 tahun. Keterangan ini muncul dari informasi pihak keluarga yang kemudian diterima aparat, serta pengakuan dari kuasa hukum yang mendampingi almarhum.
Dari sisi pemberitaan lokal, waktu dan tempat wafatnya nyaris seragam disebutkan. Haji Alim menghembuskan napas terakhir ketika masih berada di bawah penanganan tim medis, dan namanya langsung menjadi topik utama di ruang publik Palembang.
Dirawat Intensif di Unit Perawatan Jantung
Sebelum kabar wafat itu keluar, Haji Alim disebut menjalani perawatan intensif di unit perawatan jantung. Kondisinya dikabarkan kritis, bahkan sempat dinyatakan koma dalam penjelasan kuasa hukum yang dikutip sejumlah media.
Perawatan intensif ini menjadi latar penting karena menjelaskan kenapa kehadiran almarhum dalam agenda sidang hari itu akhirnya tidak terjadi. Kondisi medis yang menurun membuat jadwal pemeriksaan dan proses hukum berulang kali mengalami penundaan, jauh sebelum kabar wafat tersebut muncul.
Palembang Berduka: Sosok yang Hidupnya Terlalu Dikenal Publik
Palembang punya cara sendiri dalam mengenang tokoh besar. Ada yang menyalakan doa diam diam, ada yang menyampaikan belasungkawa terbuka, ada pula yang memilih mengingatnya dengan obrolan panjang di warung kopi. Dalam banyak kasus, orang terkenal meninggal lalu dilupakan perlahan. Tetapi tidak dengan Haji Alim. Nama itu sudah terlanjur menempel di memori warga kota sebagai simbol “orang besar Palembang”.
Haji Alim tidak hanya dikenal karena urusan usaha. Ia sering disebut sebagai tokoh masyarakat, figur yang punya pengaruh, dan dikenal oleh berbagai lapisan. Ketika kabar wafatnya menyebar, reaksi yang muncul bukan cuma sedih, tapi juga rasa penasaran: apa yang sebenarnya terjadi pada hari hari terakhirnya, bagaimana proses pemakaman, dan bagaimana kelanjutan perkara yang sempat menempatkannya di ruang sidang.

Pengusaha yang Jadi Perbincangan Banyak Generasi
Bagi sebagian orang Palembang, Haji Alim adalah sosok yang namanya sering disebut sejak lama. Bukan cuma generasi muda yang mengenalnya dari berita viral, tetapi generasi lebih tua pun mengenal dari cerita ekonomi lokal, jaringan usaha, dan kedekatan tokoh dengan lingkungan sosialnya.
Ia disebut menjabat sebagai Direktur Utama PT Sentosa Mulia Bahagia, perusahaan perkebunan yang beroperasi di Sumatera Selatan. Identitas inilah yang kemudian paling sering dikaitkan ketika publik menyebutnya sebagai pengusaha besar di daerah.
Julukan Crazy Rich Palembang yang Terlanjur Melekat
Istilah “crazy rich” sering muncul di era media sosial, dan tak jarang dipakai untuk menggambarkan orang dengan kekayaan besar, properti besar, atau bisnis yang terlihat tidak ada habisnya. Haji Alim termasuk salah satu nama yang kerap disematkan julukan tersebut oleh publik Palembang dan media.
Di titik ini, menariknya bukan hanya soal angka kekayaan, sebab publik jarang punya data pasti. Yang membentuk persepsi adalah gaya hidup, pengaruh, jaringan, serta cerita cerita yang menyebar dari satu orang ke orang lain. Dalam kota yang kuat tradisi lisan seperti Palembang, nama besar bisa hidup sangat lama bahkan tanpa perlu panggung resmi.
Jejak Bisnis Haji Alim: Perkebunan dan Mesin Ekonomi Lokal
Dalam dunia usaha daerah, tokoh seperti Haji Alim biasanya punya dua wajah yang selalu berjalan beriringan. Satu sisi adalah wajah perusahaan, lengkap dengan manajemen, aset, dan aktivitas ekonomi. Sisi lain adalah wajah sosial, yaitu bagaimana orang menilai keberadaannya: apakah memberi manfaat, apakah membuka lapangan kerja, atau justru mengundang kontroversi.
Haji Alim dikenal sebagai pimpinan perusahaan perkebunan. Model bisnis seperti ini umumnya berhubungan erat dengan ekonomi Sumatera Selatan, karena perkebunan menjadi salah satu sektor penting bagi daerah tersebut. Itulah sebabnya kabar wafatnya tidak sekadar kabar keluarga, tetapi seperti kabar “tokoh kota” yang memengaruhi banyak lingkaran.
PT Sentosa Mulia Bahagia dan Aktivitas Perkebunan di Sumsel
Nama PT Sentosa Mulia Bahagia beberapa kali disebut dalam pemberitaan ketika profil Haji Alim dibahas. Perusahaan ini disebut bergerak di sektor perkebunan dan beroperasi di Sumatera Selatan.
Dalam ekosistem perkebunan, satu perusahaan besar biasanya tidak berdiri sendirian. Ada jejaring vendor, tenaga kerja, transportasi, hingga hubungan dengan pemerintah daerah. Itulah mengapa tokoh di sektor ini sering dipandang sebagai “orang kuat” secara ekonomi, sekaligus berpotensi menjadi sorotan ketika ada isu lahan muncul.
Cara Publik Membaca Pengusaha Daerah
Pengusaha besar di daerah sering dipandang berbeda dibanding konglomerat nasional. Kalau konglomerat nasional dikenal lewat data pasar dan laporan korporasi, pengusaha daerah biasanya dikenal lewat cerita warga: siapa yang membangun rumah sakit, siapa yang sering membantu masjid, siapa yang membuka lahan, siapa yang menampung pekerja dari kampung tertentu.
Di Palembang, penilaian semacam ini sangat terasa. Ada warga yang memandang Haji Alim sebagai sosok dermawan. Ada juga yang memandangnya sebagai figur kontroversial karena namanya sempat terseret perkara serius.
Hari Hari Terakhir: Kondisi Kesehatan yang Terus Menurun
Kabar wafatnya Haji Alim muncul setelah beberapa laporan mengenai kondisi kesehatannya beredar. Dalam beberapa hari terakhir, namanya memang ramai karena disebut sedang dirawat intensif. Ini bukan cerita yang tiba tiba muncul pada hari wafat saja, tetapi rangkaian kondisi yang perlahan diketahui publik.
Dari penjelasan kuasa hukum dan informasi keluarga, disebutkan almarhum sempat menjalani perawatan intensif, dan kondisinya disebut kritis.

Pernah Kritis Sejak Rabu Dini Hari
Informasi yang beredar menyebut Haji Alim sempat dalam kondisi kritis sejak Rabu dini hari dan menjalani perawatan intensif. Dalam salah satu laporan, kondisi ini dikaitkan dengan komplikasi penyakit yang dideritanya, sehingga tim medis melakukan penanganan intensif.
Ketika seorang pasien sudah masuk ruang perawatan intensif, biasanya langkah medis lebih ketat, lebih banyak alat bantu, dan pengawasan lebih rapat. Pada momen seperti itu, keluarga pun sering berada di situasi sulit: menunggu kabar setiap jam, sekaligus mempersiapkan kemungkinan terburuk.
Komplikasi Penyakit dan Riwayat Asma
Dalam laporan lain, disebutkan kondisi Haji Alim menurun selama sekitar satu minggu terakhir, lalu dua hari terakhir masuk fase kritis. Riwayat penyakit yang disebut mencakup komplikasi dan asma, yang memperberat kondisi almarhum menjelang wafat.
Bagi masyarakat awam, kata “komplikasi” sering terdengar sederhana. Padahal di dunia medis, komplikasi bisa berarti beberapa masalah kesehatan saling menumpuk dan membuat kondisi pasien jauh lebih rentan, terutama pada usia lanjut.
Perkara HGU Tol Betung Tempino: Kasus yang Mengiringi Namanya
Di luar cerita bisnis dan sosial, nama Haji Alim juga lama dikaitkan dengan perkara hukum yang menyita perhatian publik. Ia disebut menjadi terdakwa dalam dugaan tindak pidana korupsi terkait pemalsuan surat Hak Guna Usaha untuk lahan proyek strategis nasional jalan tol Betung Tempino Jambi.
Perkara ini sempat menjadi pembicaraan luas karena menyentuh isu sensitif: lahan, dokumen, dan proyek besar. Jika urusan lahan sudah masuk percakapan warga, biasanya pembahasannya tidak akan pendek. Apalagi jika menyangkut proyek jalan tol yang berhubungan dengan kepentingan publik lebih luas.
Disebut Ada Pemalsuan Dokumen Hak Guna Usaha
Dalam pemberitaan, perkara yang menjerat Haji Alim disebut terkait dugaan pemalsuan dokumen Hak Guna Usaha. Dokumen semacam ini menjadi dasar legal pemanfaatan lahan dalam jangka tertentu. Ketika ada tuduhan pemalsuan, maka yang dipertanyakan bukan hanya pelaku, tetapi juga bagaimana dokumen itu bisa terbit dan dipakai.
Di ruang publik, kasus seperti ini mudah menyulut emosi. Karena lahan di Sumatera Selatan bukan sekadar aset ekonomi, melainkan sumber hidup, sumber pekerjaan, dan bagi sebagian warga juga soal harga diri keluarga serta kampung.
Kerugian Negara Disebut Rp127 Miliar
Salah satu informasi yang paling sering diangkat adalah nilai kerugian negara yang disebut oleh Jaksa Penuntut Umum, yakni Rp127 miliar. Angka ini muncul dalam laporan profil yang mengutip keterangan terkait perkara tersebut.
Angka ratusan miliar bukan angka kecil, apalagi di level daerah. Tidak heran jika kasus ini cepat menjadi perhatian, dan nama Haji Alim ikut terseret dalam percakapan publik yang lebih luas tentang mafia tanah dan tata kelola lahan.
Proses Pemeriksaan Berulang Kali Tersendat
Perkara ini disebut berjalan berlarut, dan beberapa tahapan pemeriksaan mengalami kendala karena kondisi kesehatan tersangka yang disebut tidak stabil. Ada jadwal pemeriksaan yang batal, penjadwalan ulang, sampai penundaan sidang yang kembali terjadi menjelang hari wafat.
Dalam catatan tersebut, pemeriksaan terakhir sempat dijadwalkan namun batal karena kondisi kesehatan memburuk. Situasi ini membuat proses hukum tidak berjalan cepat, dan publik pun bertanya tanya bagaimana akhir dari perkara yang sudah terlanjur menyedot perhatian.
Sidang yang Ditunda: Hari yang Seharusnya di Ruang Pengadilan
Pada Kamis, 22 Januari 2026, salah satu agenda yang sempat disebut adalah sidang lanjutan terkait perkara yang menjerat Haji Alim. Namun pada hari itu, sidang ditunda karena terdakwa tidak hadir. Penundaan itu disampaikan oleh majelis hakim karena kondisi kesehatan almarhum sedang menurun dan menjalani perawatan.
Jika dibaca perlahan, bagian ini terasa seperti ironi dalam perjalanan hidup seorang tokoh besar. Di satu sisi, ia adalah pengusaha yang terbiasa mengendalikan banyak hal. Di sisi lain, pada hari yang seharusnya ia hadir di ruang pengadilan, ia justru berada di ruang perawatan intensif.
Majelis Hakim Memberi Waktu untuk Berobat
Dalam laporan, ketua majelis hakim disebut memberi waktu dua minggu sesuai permintaan karena terdakwa tidak hadir akibat sakit. Kalimat ini menjadi penanda bahwa penundaan sidang bukan sekadar rumor, tetapi tercatat dalam proses persidangan.
Namun setelah penundaan itu, kabar wafat muncul beberapa jam kemudian. Bagi publik, urut urutan waktu ini terasa cepat, membuat banyak orang terdiam: pagi hingga siang membicarakan penundaan sidang, sore mendengar kabar wafat.
Pesan Keluarga: Damai, Maaf, dan Ikhlas
Di tengah derasnya pemberitaan dan riuh komentar publik, keluarga Haji Alim menyampaikan pesan yang lebih hening: permohonan doa dan permintaan maaf. Dalam suasana duka, keluarga cenderung memilih kata kata yang sederhana namun berat isinya.
Keluarga menyebut almarhum berpesan agar selalu damai, memohon dimaafkan jika semasa hidup ada kesalahan, dan memohon agar segala kekhilafan diikhlaskan.
Tiga Pesan yang Diingat Keluarga
Ada tiga hal yang disampaikan sebagai pesan yang melekat di hari hari terakhir. Pertama, keluarga meminta agar suasana tetap damai. Kedua, ada permohonan maaf atas dosa dosa almarhum. Ketiga, ada permintaan agar masyarakat dan orang orang yang pernah berhubungan dengan almarhum mengikhlaskan kekhilafan semasa hidup.
Kalimat seperti ini sering terdengar saat kabar duka, tetapi tetap punya bobot tersendiri ketika datang dari keluarga tokoh publik. Di Palembang, pesan seperti ini biasanya membuat suasana lebih teduh, mengajak orang menahan komentar yang terlalu jauh dan memilih mendoakan.
Doa yang Mengalir di Tengah Ramai Percakapan
Yang menarik dari peristiwa wafatnya Haji Alim adalah dua arus percakapan berjalan bersamaan. Arus pertama adalah ucapan belasungkawa, doa, dan pengingat bahwa setiap manusia akan kembali. Arus kedua adalah perbincangan tentang perkara hukum, bisnis, dan isu lahan.
Dalam suasana seperti ini, pesan keluarga seperti “mohon dimaafkan” sering menjadi jembatan, mengajak publik untuk menaruh empati di depan, meski tetap ada ruang bagi pertanyaan dan proses hukum yang selama ini berjalan.
Rencana Pemakaman: Disalatkan di Masjid Agung, Dimakamkan di Pemakaman Keluarga
Setelah kabar wafat menyebar, perhatian publik beralih ke prosesi pemakaman. Informasi pemakaman biasanya menjadi kabar penting, terutama bagi tokoh publik, karena banyak orang ingin datang mendoakan atau sekadar memberi penghormatan terakhir.
Keluarga menyebut jenazah akan dilepas dari Masjid Agung Palembang setelah salat Jumat dan salat jenazah, lalu dimakamkan di pemakaman keluarga.
Pemakaman di Kawasan Dr M Isa Palembang
Kuasa hukum almarhum menyebut jenazah akan dimakamkan di pemakaman keluarga yang berada di kawasan Dr M Isa Palembang, dekat makam ibunya. Informasi ini juga muncul dalam laporan media lokal yang menuliskan lokasi pemakaman dan rencana waktu penguburan.
Bagi warga Palembang, area Dr M Isa bukan tempat asing. Ketika tokoh publik dimakamkan di pemakaman keluarga di sana, biasanya akan ada banyak pelayat berdatangan dari berbagai arah.
Dari Rumah Sakit ke Rumah Duka
Rangkaian berikutnya adalah pemindahan jenazah dari rumah sakit ke rumah duka. Pada momen inilah biasanya keluarga besar berkumpul, para sahabat datang bergantian, dan suasana menjadi campuran antara tangis, doa, dan percakapan lirih.
Sebagian laporan menyebut jenazah akan dibawa ke rumah duka terlebih dahulu sebelum prosesi salat jenazah dan pemakaman.
Ucapan Duka dari Aparat: Kejaksaan Ikut Menyampaikan Belasungkawa
Karena almarhum masih berstatus terdakwa dalam perkara yang ditangani, aparat juga menjadi salah satu pihak yang memberi pernyataan. Kejaksaan Negeri Musi Banyuasin, yang disebut menerima kabar resmi dari keluarga, menyampaikan duka cita atas wafatnya Haji Alim.
Pernyataan belasungkawa ini menegaskan bahwa peristiwa wafatnya bukan sekadar kabar media sosial, tetapi informasi yang masuk ke jalur formal dan diakui aparat.
Konfirmasi dari Kejari Musi Banyuasin
Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Musi Banyuasin disebut menerima informasi resmi dari pihak keluarga. Dalam pernyataan yang dilaporkan, pihak kejaksaan juga menyampaikan doa agar almarhum husnul khatimah dan keluarga diberi kesabaran.
Bagi publik, pernyataan semacam ini punya dua pesan. Satu, aparat memosisikan diri sebagai pihak yang juga manusiawi dalam suasana duka. Dua, aparat menegaskan bahwa proses hukum yang berjalan selama ini memang nyata dan terkait langsung dengan nama almarhum.
Perkara yang Masih Berjalan Saat Kabar Wafat Muncul
Dalam laporan yang sama, disebut bahwa perkara almarhum masih dalam proses hukum saat kabar wafat diterima. Fakta ini membuat kabar duka tidak berdiri sendiri, melainkan berada di tengah perjalanan kasus yang cukup panjang.
Di titik ini, wajar jika publik memikirkan dua hal sekaligus: bagaimana menghormati keluarga yang berduka, serta bagaimana negara menuntaskan proses hukum yang sudah berjalan.
Status Perkara Setelah Terdakwa Wafat: Pertanyaan yang Langsung Muncul
Begitu kabar wafat menyebar, pertanyaan yang cepat muncul di masyarakat adalah: bagaimana kelanjutan proses hukum jika terdakwa meninggal dunia? Ini pertanyaan yang sering muncul dalam kasus mana pun, apalagi jika perkara tersebut menyangkut dugaan tindak pidana korupsi dan isu lahan besar.
Sampai tahap pemberitaan yang beredar pada hari itu, fokus media lebih banyak pada kabar wafat dan prosesi pemakaman. Namun karena kasusnya sudah lama disorot, publik hampir pasti akan terus mengikuti perkembangan langkah berikutnya dari aparat penegak hukum.
Penundaan yang Berulang Membentuk Ruang Spekulasi
Karena proses pemeriksaan sebelumnya disebut sering tersendat akibat kondisi kesehatan yang tidak stabil, sebagian publik sudah lebih dulu bertanya tanya, apakah perkara ini akan selesai dengan putusan pengadilan atau berakhir di tengah jalan.
Ketika wafat benar benar terjadi, ruang spekulasi itu makin lebar. Di media sosial, biasanya akan muncul komentar yang beragam, dari yang emosional, yang sinis, sampai yang murni bertanya secara hukum.
Perbincangan tentang Tata Kelola Lahan Kembali Menguat
Kasus yang dikaitkan dengan pemalsuan dokumen Hak Guna Usaha membuat isu lahan kembali ramai. Dalam beberapa tahun terakhir, topik lahan selalu sensitif karena menyentuh kepentingan masyarakat, perusahaan, dan proyek besar.
Nama Haji Alim pun akhirnya menjadi salah satu titik yang mengingatkan publik bahwa urusan dokumen lahan bukan sekadar administrasi, tetapi bisa menyeret orang besar ke proses hukum.
Sosok di Mata Masyarakat: Antara Dermawan dan Kontroversi
Saat tokoh besar wafat, memori publik biasanya bekerja seperti dua layar yang menyala bersamaan. Layar pertama menampilkan sisi baik: bantuan, sedekah, kedekatan dengan warga, aktivitas sosial. Layar kedua menampilkan sisi kontroversi: perkara, tuduhan, berita panas, dan ruang sidang.
Haji Alim berada di posisi itu. Ia dikenal sebagai pengusaha besar, tokoh masyarakat, dan pada saat yang sama disebut sebagai terdakwa dalam perkara besar.
Kenangan tentang Kedermawanan
Sebagian warga mengenang tokoh seperti Haji Alim lewat cerita bantuan. Di Sumatera Selatan, tradisi “orang mampu membantu sekitar” masih sangat kuat. Saat seseorang dikenal luas, bantuan yang ia lakukan sering menjadi percakapan turun temurun.
Bukan hal aneh jika ada orang yang berduka bukan karena pernah berbisnis dengan almarhum, tetapi karena pernah menerima pertolongan langsung atau tidak langsung.
Kontroversi yang Membuat Namanya Selalu Disorot
Di sisi lain, pemberitaan tentang dugaan pemalsuan dokumen Hak Guna Usaha membuat nama Haji Alim sulit lepas dari sorotan. Di ruang publik, kasus ini sering menempel pada identitasnya, bahkan ketika orang menyebutnya sebagai crazy rich Palembang.
Bagi sebagian orang, ini membuat perasaan jadi campur aduk. Mereka ingin berduka, tetapi juga sadar ada perkara besar yang pernah diproses dan menjadi perhatian.
Jejak Politik dan Pertemuan dengan Tokoh Nasional
Sebagai tokoh masyarakat, Haji Alim juga pernah muncul dalam momen yang bersentuhan dengan panggung politik. Dalam salah satu laporan media, terdapat foto yang menunjukkan pertemuannya dengan tokoh nasional pada tahun 2023.
Peristiwa semacam ini biasanya mempertegas posisi seorang tokoh daerah. Ia bukan sekadar pengusaha, tetapi figur yang dikenal dan ditemui banyak orang penting, sehingga pengaruh sosialnya makin terasa di mata publik.
Tokoh Masyarakat yang Punya Akses Luas
Ketika seorang pengusaha daerah bisa berdiri berdampingan dengan tokoh nasional dalam momen publik, itu sering dibaca sebagai simbol akses dan jaringan. Di Palembang, jejaring seperti ini membuat orang menilai seorang tokoh bukan hanya dari bisnis, tetapi dari posisi sosialnya.
Bagi warga biasa, kedekatan dengan tokoh besar sering menjadi bukti bahwa seseorang dianggap penting di daerahnya.
Suasana Kota di Hari Kabar Itu Pecah
Kamis siang di Palembang mendadak terasa berbeda bagi sebagian orang. Bukan karena cuaca, tetapi karena satu kabar memotong rutinitas banyak orang sekaligus. Di warung kopi, di kantor, di ruang keluarga, nama Haji Alim disebut. Ada yang menghela napas, ada yang membuka berita, ada yang langsung mengetik ucapan belasungkawa.
Di era sekarang, kabar wafat tokoh publik tidak lagi berhenti di rumah duka. Ia menyebar sebagai pesan singkat, potongan foto, video singkat, dan teks doa yang diteruskan berkali kali.
Media Sosial Menjadi Ruang Duka dan Perdebatan
Ucapan duka biasanya berdampingan dengan komentar yang lebih tajam. Ini pola yang sering terjadi ketika sosok yang wafat punya dua sisi pemberitaan. Ada yang menulis “semoga husnul khatimah”, ada yang menulis “semoga keluarga tabah”, ada juga yang memancing perdebatan tentang proses hukum.
Dalam situasi seperti ini, keluarga biasanya memilih diam, fokus pada pemakaman. Sementara publik terus bergerak dengan percakapan yang kadang sulit dikendalikan.
Kota yang Mengingat Tokoh Lewat Cerita
Palembang adalah kota dengan budaya cerita yang kuat. Nama besar tidak hanya hidup di papan perusahaan, tapi juga hidup di kalimat warga. Ketika kabar wafat seorang tokoh menyebar, cerita lama kembali muncul: ada yang pernah bertemu, ada yang pernah bekerja, ada yang punya kenalan dekat, ada yang cuma mendengar dari jauh.
Di titik ini, Haji Alim bukan lagi sekadar identitas di berita. Ia menjadi kumpulan cerita yang berlapis lapis, yang akan terus disebut dalam waktu lama.
Catatan Perjalanan Hidup: Dari Puncak Pengaruh ke Hari Perpisahan
Kisah tentang tokoh seperti Haji Alim selalu punya garis naik turun. Ada masa ketika ia dipandang sebagai simbol sukses, ada masa ketika ia disorot karena perkara. Tetapi pada akhirnya, semua garis itu berhenti di satu titik yang sama: kabar duka dan prosesi pemakaman.
Kepergian Haji Alim pada Kamis, 22 Januari 2026, di usia 88 tahun, menjadi peristiwa besar bagi banyak orang Palembang. Informasi resmi dari aparat dan keluarga memperkuat bahwa kabar itu benar, dan prosesi terakhir pun disiapkan sesuai tradisi yang berlaku.
Di rumah duka, biasanya orang datang bukan untuk menilai, tetapi untuk mendoakan. Sementara di luar, percakapan publik tetap berjalan, menyinggung bisnis, perkara, dan jejak sosial yang pernah ia tinggalkan. Dan di Masjid Agung Palembang, salat jenazah menjadi momen ketika semua perbedaan komentar biasanya turun volumenya, berganti doa yang sama: semoga almarhum mendapat tempat terbaik di sisi Allah SWT.